Anak Usia Dini dengan Media Sosial di SIT Asshiddiq Bone

| 20 Maret 2017 | 23.26 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:



BONEPOS.com - Perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini.(Permendiknas no 58 tahun 2009).

Masa emas anak dari usia 0-5 tahun juga pernah disampaikan pada forum kerja sama Pemerintah Kabupaten Bone dengan UNICEF beberapa tahun yang lalu dengan konsep Taman Paditungka, yang mengitegrasi lintas SKPD Kabupaten Bone.

Masa emas yang dimaksud juga diiyakan oleh beberapa pakar meski dengan konsep dan gaya masing-masing diantaranya, J.H. Pestalozzi, F.W. Frobel, Maria Mentesori, Loros Maraguzzy, Jean Peaget, termasuk Ki Hajar Dewantoro dan banyak lagi yang melakukan kajian baik kekhususan maupun kepakaran.

Disampaikan bahwa merubah kebiasann kita untuk tidak membuang sampah saat berkendara mesti di mulai sejak usia dini. Berutur kata dengan baik pun baiknya dibiasakan sejak anak usia dini.

Bakhan beberapa orang tua di Australia sudah mendaftarkan anaknya ke Sekolah Usia

Dini sejak dikandungan usia 7 Bulan. Begitu berpengaruhnya mental, sikap dan masa keemasan anak di usia dini. Sepintas dari judul bahwa anak usia dini yang menggunakan media sosial, namun bukan itu yang saya maksud untuk mengurai kemanfaatan media sosial untuk anak usia dini.

Tetapi bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk memaksimalkan program anak usia dini ini. Sekolah Islam Terpadu Asshiddiq Bone adalah salah satu yang memanfaatkan media sosial untuk membantu merangsang anak didiknya untuk perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia seperti yang diamanhkan oleh Permendiknas di atas.

Kegiatan untuk merangsang anak usia dini ini tidak bisa hanya dilakukan sepenuhnya pihak sekolah sebagai fasilitaor, tetapi yang lebih utama yaitu bagaimana orang tua juga bersinergi. Diharapkan orang tua lebih paham dan mengubah beberapa kebiasaan yang bisa mengganggu perkembangan anaknya.
Berbagai alasan yang diungkapkan oleh orang tua siswa atas tuntutan dimaksud utamanya alasan sibuk, padahal waktu anak masih lebih banyak di rumah jika dibandingkan waktu di sekolah.

Mengsingkronkan kegiatan di sekolah dengan di rumah dengan banyak tuntutan parameter maka perlu kesepahaman siswa anak usia dini dengan orang tua siswa. Mengerti akan banyaknya parameter tujuan dan capaian pembelajar untuk anaknya.

Memberikan pemahaman yang sama dengan melakukan kegiatan Pertemuan Orang tua Siswa (POS). Penggunaan media sosial untuk mengetahui informasi baik yang berlangsung di sekolah ataupun mengapdate perkembangan kegiatan anak yang telah diprogramkan sebelumnya oleh pihak sekolah.

Penggunaan media sosial ini menjadi menarik dan sangat membantu orang tua maupun ustazah (guru/tenaga pengajar di SIT Asshiddiq). Kebiasaan anak yang kadang diulang di rumah biasanya kadang menjadi perselisihan. Contohnya, anak yang di sekolah dilatih motorik kasar maupun halusnya dengan merobek-robek koran atau kertas bekas, juga dilakukan di rumah.

Orang tua yang tidak mengerti dengan prilaku ini akan menjadi teguran buat anak, padahal ini adalah salah satu metode pembelajaran anak usia dini. Informasi yang di update tiap hari oleh ustazah di sekolah melalui media sosial chat aplikasi baik bbm maupun whatsapp, sangat membantu untuk mendukung capaian pembelajaran.

Komunikasi interaktif memalui media sosial di SIT Asshidiq, antara Orang Tua siswa dengan tenaga pengajar, mejadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk perkembangan anak usia dini. Semangat orang tua juga sangat antusias melihat perkembangan anaknya detik per detik dalam setiap kegiatannya di sekolah.

Orang tua paham akan kurikulum dan sama membantu dalam memberikan rangsangan terbaik buat anaknya dengan berinteraksi melalui media sosial. Ransangan demi ransangan untuk perkembangan anak secara utuh juga menjadi bagian yang selalu di update oleh tenaga pengajar kepada orang tua siswa.

Tidak hanya kegiatan di sekolah, karena ada kegiatan trip ke lapangan (kebun,melihat hewan, ke kantor dan dinas dan tempat-tempat yang telah ditentukan) yang menjadi cerita seru oleh setiap siswa lucu dan imut dalam penyampaian ceritanya saat sampai di rumah.

Orang tua siswa sisa mencocokkan cerita anaknya dengan informasi yang didapatkan di media sosial yang terkonseksi dengan tenaga pengajar (ustazah). Melihat foto dan video kegiatan menjadi penyemangat khusus orang tua siswa, melihat perkembangan anaknya yang difasilitasi oleh sekolah.

Suatu kebahagian dengan penuh harapan untuk mencipatakan generasi unggul. Memulai dari usia dini, memanfaatkan masa emas anak untuk asset daerah, agama, bangsa dan negara. Paham dan bersinergi melalui media sosial adalah salah satu kemanfaatan yang sangat baik.

Bahwa media sosial bisa digunakan sejak usia dini oleh tenaga pengajar maupun orang tua siswa, atau bahkan ada nilai kemanfaat lebih lainnya.

Penulis merupakan penggiat digital yang dalam konsentrasi kepakaran pengambilan keputusan berbasis media sosial di Program DOktor Ilmu Administrasi Publik UNM
juga sebagai praktisi dalam pola distribusi produk telekomunikasi operator ternama di Indonesia untuk Wilayah Luwu Raya dan Toraja Utara dan aktif membina dalam berbagai organisasi kepemudaan di Kabupaten Bone dan Kota Makassar


EDITOR : JUMARDI
COPYRIGHT © BONEPOS 2017
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI