Alwi Terpaksa Mengemis Karena Cacat Fisik

| 13 Mei 2017 | 21.50 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
BONEPOS.COM - Menjalani hidup dengan mengharap belas kasihan orang tentu tidak ada yang menginginkan. Termasuk Alwi, seorang pengemis menggunakan tempat duduk dengan roda. Ia setiap saat dapat dijumpai di sekitar pemberhentian  bus Damri di Km 9 Tamalanrea Makassar.

Siang tadi, Sabtu (13/5/2017), ditemui di tengah udara panas Kota 'Metropolitan' Makassar, di wajahnya peluh keringat akibat terik matahari  dan hawa  panas aspal jalan.

Kata pria asal Sinjai ini, ia mengemis karena keterpaksaan. Kondisi fisik akibat penyakit lepra yang menyerang tubuhnya sehingga mengalami cacat yang membuat tubuhnya tidak dapat difungsikan dengan baik.

Kaki kirinya sudah dipotong karena serangan penyakit lepra serta jari-jari tangan juga sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Menurutnya, untuk bekerja secara normal pun rasanya juga tidak ada perusahan yang akan menerima menerimanya.

"Melakoni dunia pengemis tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hati saya, tetapi orang di kampung meminta lebih baik turun di jalan mengemis daripada tinggal di desa tidak ada juga yang bisa dikerjakan", kata pria usia 40 tahun ini.

Rutinitas hariannya dijalani  dengan menggunakan tempat duduk beroda, mulai dari tempat kos di Jl. Perintis Kemerdekaan hingga ke Jl. Urip Sumoharjo, sampai ke jembatan layang Km 4 Makassar. Setiba di tempat itu kembali menyusuri jalan ke pondokannya sekitar Tamalanrea.

Tidak ada seorangpun keluarga yang mengetahui jika Alwi bekerja sebagai pengemis, termasuk orang-orang sskitar tempat kostnya di Makassar. Ia merahasiakan jalan hidup yang dilakoni kini, karena rasa malu tidak mampu bekerja seperti layaknya orang normal.

Meniti jalan protokol sepanjang Perintis Kemerdekaan Makassar bagi Alwi, mendapat belas kasihan dari orang yang lalu lalang di sekitarnya paling banyak Rp.25.ooo. Pendapatan dari hasil mengemis itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, merokok serta membayar biaya kost nya.

Alwi tidak sendiri di Makassar, dia  bersama rekan seprofesi  datang dari berbagai penjuru daerah seperti Bone, Jenneponto, Gorontalo, Manado dan lain-lain. Satu harapan  pengemis ini, sesegera mungkin diberikan bantuan dari pemerintah.

“Saya tidak pernah diberi bantuan berupa pelatihan dan  bantuan lainnya karena saya tidak memiliki KTP Makassar, kalau  ber-KTP Makassar akan  dijamin , seperti teman lainnya”, ucapnya.

Citizen Reporter: Nirwan
(Mahasiswa S1 Sosiologi Fisip Universitas Sawerigading)

EDITOR : RIZAL
COPYRIGHT © BONEPOS 2017
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI