OPINI : Revolusi Mental dan Sajian Keruntuhan Moral

- Jumat, Mei 05, 2017
advertise pemkab bone

BONEPOS.COM - Mungkin masih jelas dalam ingatan kita, gagasan Revolusi Mental yang hendak dibangun oleh Bapak Joko Widodo. Kini gagasan itu telah menyata dalam wajah yang sangat menjengkelkan.

Bukannya membaik, tapi kondisi mental anak bangsa saat ini mengalami degradasi besar-besaran. Berbagai kemunduran tersaji rapi dihadapan kita, khusus untuk fenomena kelulusan siswa SMA/sederajat baru-baru ini. Sungguh sajian yang menjijikkan.

Mereka berkonvoi dengan pakaian sobek, wajah di cat, ugal-ugalan, mabuk-mabukan, dan aksi-aksi tak beretika lainnya. Inikah output revolusi mental/karakter di sekolah? Saya curiga, kurikulum tidak dijalankan dengan baik atau mungkin saja instrumen pembangunan mental diabaikan.

Jika kita ingin berhitung, seharusnya sudah ada perubahan mental dan karakter peserta didik karena gagasan revolusi mental sudah berjalan 3 tahun. Minimal sekolah/pendidik mampu menjernihkan watak euforia kelulusan siswa. Tetapi pada kenyataannya, sajian keruntuhan moral semakin membabi buta. Saya merasa budaya ketimuran hilang seketika dan bangsa ini menjadi miskin etika.

Di tengah keruntuhan moral generasi penerus bangsa sekarang ini, sekolah malah senang karena siswanya lulus 100%, tidak peduli apakah karakternya ikut terbangun atau tidak, yang jelas di atas kertas guru telah berhasil.

Bukan hanya guru, orang tua siswa juga lebih memilih berbahagia melihat konvoi kelulusan anaknya ketimbang menangisi keruntuhan moral dan akhlaknya. Ini adalah kenyataan, guru dan orang tua siswa lebih suka prestasi di atas kertas daripada perubahan mental dan akhlak peserta didik.

Tentu dengan ukuran tersebut, kementrian pendidikan dan kebudayaan bertepuk tangan karena dengan mudah mengkuantifikasi kemajuan pendidikan di Indonesia, misalnya 10%, 20%,30%, dan persen-persen lainnya.

Pemerintah terlalu jauh mengobrak-abrik internal pendidikan, misalnya  kurikulum, model pembelajaran, pembayaran, dsb tanpa menghalau hegemoni eksternal, tanpa menyediakan benteng pertahanannya. Lihatalah, betapa mudahnya globalisasi menyerang anak-anak sekolah, serangnnya bisa di sekolah, di rumah apalagi ditempat umum.

Kita terlalu jauh melakukan inovasi teknologi tanpa memikirkan solusi akibat dampak negatifnya. Kita terlalu jauh membebaskan asing masuk dan hidup di negara kita, tanpa memikirkan bagaimana cara mengusirnya jika suatu saat mereka menghancurkan tatanan sosial yang sekian lama kita pelihara bersama.

Andi Hasdiansyah, S.Pd., M.Pd
Dosen Universitas Muhammadiyah Parepare
Makassar, 5 Mei 2017


EDITOR : JUMARDI
COPYRIGHT © BONEPOS 2017
Meikarta