Masjid Alfatih Al Anshar Menyerupai Bangunan di Kota Makkah

| 1 Juni 2017 | 20.50 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Masjid Alfatih Al Anshar, merupakan masjid yang berdiri di bilangan jalan Paccinang Raya, Kelurahan Tello, Kecamatan Panakukang Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid ini tak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah besar ataupun menara yang menjulang tinggi, tapi masjid ini memiliki keunikan tersendiri yang tak dimiliki masjid lain.

Masjid Alfatih Al Anshar memiliki salah satu sudut yang dibentuk menyerupai bangunan suci di Kota Makkah, Kakbah. Sebuah bentuk Kakbah dibangun dan melekat di dinding di sisi timur masjid, dengan ukuran lebar 7 meter, dan tinggi 12 meter, lengkap dengan Hajar Aswad di sudutnya.

Masjid ini mulai digunakan setahun yang lalu, sejak diresmikan sepekan sebelum bulan suci ramadan tahun 2015 lalu. Pendirinya yaitu Mustamin Anshar, seorang konsultan keuangan pajak yang sangat mencintai masjid dan kakbah. Nama Masjid Alfatih Al Ashar diambil dari gabungan nama cucu.Mustamin dan nama akhirnya.

Imam masjid Ustad Harun Khahar, menceritakan bagaimana sejarah berdirinya masjid ini.

"Waktu itu pendiri masjid ini, Pak Mustamin Anshar beribadah di tanah suci Mekkah. Saat ibadah itu beliau mendapat hidayah. Ia merasa nikmat dan nyaman saat berada di dekat Kakbah,"kata Ustad Harun, Kamis 1 Juni 2017.

Mendapat hidayah tersebut, Mustamin pun memutuskan mendirikan sebuah masjid dengan memberi sentuhan kakbah, agar ia selalu merasa berada di dekat dengan kakbah.

Sebuah tanah seukuran 20x20 M yang ia menangkan dari proses lelang oleh perbankan, pun ia mulai sulap menjadi sebuah masjid. Putra bungsunya, Muhammad Akbar Wisudawan ia percayakan untuk mendesain masjid tersebut, dan tak perlu waktu lama, kurang dari setahun, hingga akhirnya masjid dapat berdiri kokoh.

Harun melanjutkan, konsep masjid Alfatih ini adalah alam semesta dan ruang angkasa. Maka tak heran di bahian interior masjid dapat ditemukan hal-hal yang berhubungan dwngan alam semesta.

"Konsepnya ini alam semesta dan ruang angkasa yang menunjukkan kebesaran Allah. Makanya di dalam itu ada bentuk lingkaran batu besar yang memiliki tulisan lafas Allah, itu menggambarkan bumi yang kita tempati ini," jelasnya.

Tak hanya itu, seluruh interior di Masjid ini juga memiliki makna tersendiri seperti jumlah pintunya sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlahe rakaat salat.

Ada juga bentuk lonjong seperti telur pada bagian depan dekat dengan mimbar yang dimaknai sebagai "malebu tello" artinya kita harus memiliki tekad yang bulat dalam menyembah Allah. Ada juga sembilan pilar yang diartikan sebagai Bulan Ramadan yang merupakan bulan ke sembilan dalam penanggalan Hijriyah.

"Semuanya di sini dibangun dengan memiliki makna, seperti di lantai dua masjid, di salah satu sudutnya ada relief pohon besar dengan daun yang lebat, dan di setiap daunnya ada asmaul husna yang tertulis, pohon tersebut dimaknai sebagai kebaikan yang terus menjalar," kata dia.

Masjid yang dibangun dengan memadukan budaya lokal ini memiliki tiga orang imam yang secara bergantian memimpin jemaah. Mereka adalah Ustads Wahyu Bastani Al Banjari, Ust Syakir Syam, dan Ust Harun Khahar. Sang pendiri masjid, Mustamin Anshar memang dikenal sangat mencintai kakbah.

Selain mendirikan Masjid dengan bentuk kakbah, ia juga rupanya membangun miniatur kakbah di salah satu rumahnya.

"Saking cintanya dengan tanah suci dan kakbah, beliau hampir setiap tahun memboyong keluarganya untik ibadah haji maupun umrah," jelasnya.

Tak hanya Masjid Alfatih Al Ashar, Mustamin juga tercatat membangun beberapa masjid di lokasi lain. Ia juga akan membangun sebuah asrama khusus hafids Quran dan rumah Imam yang tak jauh dari masjid Al Fatih. Tempat Wisata Religi Selain tempat beribadah, Masjid Alfatih Al Ashat rupanya juga telah menjadi sebuah tempat wisata religi bagi masyarakat.

Harun Khahar mengatakan, banyak warga dari beberapa daerah di Indonesia yang sering berkunjung ke Masjid tersebut.

"Ini sudah jadi tujuan wisata religi juga, banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Kalimantan, Papua, Ambon,"Jelasnya.


PEWARTA : ADI SAHILATUA
EDITOR : JUMARDI
COPYRIGHT © BONEPOS 2017
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI