OPINI: Pada Dasarnya Kita Mampu Bersekolah

- Senin, Juli 24, 2017
advertise pemkab bone
Ismail Yunus Bettary , Awardee LPDP Asal kabupaten Bone. (BONEPOS)
BONEPOS.COM - Kalau Anda pernah ke Sumatera Barat, atau minimal pernah makan di warung Padang, Anda tentu tidak akan asing dengan istilah “Kelok 9”. Kelok 9 ialah ruas jalan yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda kisaran tahun 1908-1914. Ruas jalan ini membentang, menghubungkan Sumatera Barat dan Riau daratan dengan lebar hanya 5 meter dan panjang sekira 300 meter.

Konstruksi jalananyang meliuk ini pun telah menjadi salah satu icon bagi provinsi Sumatera Barat. Seperti halnya, jembatan Suramadu di Jawa Timur dan pelbagai objek wisata serupa di tanah air lainnya.

Penulis, dalam hal ini, tidak akan membahas Kelok 9 sebagai objek wisata yang perlu dieksplorasi keunikannya. Anggap saja kita sedang membincangkannya sebagai salah satu tamzil bagi dunia keseharian kita, khususnya apa yang lazim kita sebut sebagai sekolah.

Sekolah, dengan segala elemen krusial di dalamnya, pada praksisnya adalah konsumsi masyarakat sehari-hari. Pada masyarakat akademik, setiap pergantian Menteri Pendidikan yang umumnya diikuti dengan pembaruan kebijakan pendidikan, seperti kurikulum, mereka tidak pernah absen beropini. Ada yang pro, namun tidak berbilang pula yang menentang. Pendidikan menjadi topik diskusiyangselalu hangat diperbincangkan.Di lingkup institusi pemerintah hingga ke warung-warung kopi.

Di kalangan masyarakat “akar rumput,”hal demikian bisa jadi tidak banyak menjadi soal atau butuh atensi berlebih. Bagi warga bangsa di kampung-kampung, yang paling penting adalah, pemerintah dapat menyediakan akses terhadap pendidikan yang layakbagianak-anaknya. Demikian pula, akses kesehatan dipermudah, tidak ada lagi pencurian ternak yang meresahkan, dan lain kasus semisalnya. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Bagi penulis yang dibesarkan di kampungpedalaman,sekolah adalah harga mati. Sebabnya ada anekdot dari orang tua. Yakni, bagi laki-laki yang tidak bersekolah atau,berikrar untuk putus sekolah, maka bersiaplah untuk banting tulang di kebun, sawah, dan medan lapangan serupa. Jika masih ada rasa malu, maka merantaulah sejauh kaki dapat melangkah. Dan jangan pulang sebelum sukses di perantauan. Postulatnya kurang lebih begitu.

Sementara bagiperempuanwalau masih belum cukup umur, mau secantik apapun parasnya jika tidak bersekolah, maka bersiaplah menghitung hariuntuk membangun imperium keluarga yang baru. Sebab, lamaran akan bergantian, berseliweran bertandang ke rumahnya.

Maka boleh jadi suatu keberuntungan apabila ada orang tua yang memiliki harta warisan, yang karenanya,anak-anaknya tak perlu memeras keringat di sawah. Atau sebab lain, ia adalahkepala kampung (baca: kepala desa) yang jabatannya kini, anda tahu, mulai diperhitungkan dalam pusaran pesta demokrasi negara kita.Untuk sebab yang terakhir, sekolah bisa saja tidak terlalu dianggap pusing bagi anak-anaknya. Toh, sudah ada jaminan dari orang tua yang kelak akan mereka warisi.

Tapi tentu, hal semacam itu bukanlah sesuatu ide yang cemerlang apalagi untuk dijadikan sebagai jalan hidup (way of life).Pemikiran semacam itu kita sebut saja sebagai warisan kolonial. Satu pemikiran yang tidak berdalil, yang barangkali, sumber dari pemikiran ekstrem dan adagium tak berkelas, “Bersekolah untuk bekerja.”Sebab, jika manusiamacam ini yang menguasai hajat hidup orang banyak di republik, maka benarlah kata Tan Malaka, bangsa kita tidak akan pernah benar-benar merdeka 100%.

Kemerdekaan yang selalu digaung-gaungkan di pelbagai hajatan, tak lebih dari sekadar kemerdekaan menurut definisi kaum elit nan berduit.Bukan menurut rakyat kebanyakan. Dan negara kita pada akhirnya akan disemutioleh parapembenci karena kebodohannya.Yang konon, merekalah yang pertama kali akan dijebloskan ke neraka kelak pada hari kiamat.Tulissastrawan AS Laksana mengutip kata-kata pemimpin Iran, Imam Khomeini.

Di sinilah sekolah tidak boleh dipersepsikan seperti halnya dengan“pabrik.”Pabrik esensinya ialah industri yang di dalamnya terdapat segumulan pekerja. Pabrik, melalui para pekerjanya, hanya akan memproduksi sesuatu mengikuti kualitas barang yang akan diproduksi. Jika bahan mentah yang masuk berkualitas baik, maka bisa dipastikan barang yang diproduksi akan baik pula. Kecuali, terjadi kegagalan fungsi pada mesin atau sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Sebaliknya, jika kualitas bahan yang akan diproduksi buruk, maka silakan anda tafsirkan sendiri hasil akhirnya. Itulah cara kerja dari sebuah pabrik.

Sekolah tentu tidak boleh mengadopsi cara berpikir seperti itu. Sekolah harus mampu memproduksi manusia-manusia unggul dan berakhlak mulia. Terserah, apa dan bagaimanapun kualitas manusia yang berproses di dalamnya.Maka di sinilah kolaborasi dari para orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah melalui kebijakannya,mutlak dibutuhkan.
Dan kabar baiknya saat ini, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat luas untuk mengenyam pendidikan sitinggi-tingginya. Berbagai layanan beasiswa ditawarkan, magister dan doktoral, dalam hingga luar negeri. Dan, anda tahu, salah satu beasiswa bergengsi yang kini menjadi primadona adalah beasiswa dari Kementerian Keuangan bernama beasiswa LPDP.

Sebagai salah satu awardee, penulis bersama tim yang tergabung dalam Mata Garuda (Alumni dan Awardee) BPI LPDP asal kabupaten Bone, di penghujung tahun 2016 yang lalu, mencoba bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah untuk meretas dinamika persoalan pendidikan, khususnya di kabupaten Bone. Kami melakukan kegiatan bertajuk“sharing on campus” mengenai pentingnya bersekolah tinggi. Dari data yang kami peroleh, sekira 80% mahasiswa S1 di tiga kampus (PGSD Bone, STAIN, dan STKIP Muhammadiah),punya keinginan kuat melanjutkan studinya kejenjang S2 hingga S3. Namun persoalan yang menghambat mereka selama ini adalah, dana yang terbatas serta kurangnya informasi perihal beasiswa lanjut.

Saya kira, kita patut bersyukur bahwasanya pemerintah tetap pada komitmennya mencerdaskan warga negaranya melalui pendidikan. Dan lewatLPDP, harapan besar nan muliadisematkan kepada kita generasi bangsa untuk menjadi manusia unggul di kemudian hari. Bahwa biaya sekolah bukan lagi menjadi soal. Persoalannya adalah apakah kita,generasi penerus estafet kepemimpinan, mau memanfaatkan momentum itu atau tidak?

Sebab, sama halnya dengan “Kelok 9” di Sumatera Barat, bersekolah tentu penuh dengan tanjakan, turunan, tikungan tajam, jalan berkelok nan meliuk, hingga tak sedikit kerikil yang bisa menjadi penghalang. Namun kita harus yakin, bahwa kita mampu meretas itu semua. Saya pikir, kitahanya perlu menikmati proses itu dengan semestinya.Agar,masa depan cemerlang kitadapat raih bersama-sama. Allahumma Aaamin.

Penulis: Ismail Yunus Bettary
(Awardee LPDP Asal kabupaten Bone)

Editor : Rizal Saleem

Meikarta