OPINI: Swasembada Susu Sapi Sulit Tercapai

- Jumat, Juli 14, 2017
advertise pemkab bone
Rizki Rahmawati Cendrawasih
BONEPOS.COM - Ketergantungan terhadap susu sapi impor yang dicoba diatasi pemerintah dengan program swasembada susu 40 persen pada 2020, tampaknya sulit dihilangkan. Produksi susu sapi segar nasional dari tahun ke tahun justru menurun sejak program itu dicanangkan pada 2012 lalu. Jumlah sapi perah semakin menurun, sementara nasib peternaknya belum terlalu menggembirakan.

Alih-alih bisa berswasembada susu sebesar 40 persen pada tahun 2020, produksi susu sapi nasional justru diperkirakan akan terus merosot. Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS) bahkan berani memperkirakan di tahun 2020 produksi susu segar dalam negeri hanya memenuhi sekitar 10% kebutuhan susu nasional. Mulai tahun itu dan tahun berikutnya, Indonesia harus impor susu segar sedikitnya 5,9 juta ton per tahun atau dengan kurs saat ini sekitar Rp 30 triliun.

Jumlah produksi susu nasional itu sangat jauh menurun dibanding tahun 1998 yang mencapai 35 persen. Penurunan itu terus terjadi hingga tahun 2012 produksi susu hanya mencapai 25 persen dan tahun 2016 hanya mencapai 22 persen. Data BPS menyebut produksi susu segar tahun lalu hanya mencapai 852.951 ton sementara kebutuhan nasional mencapai 3,8 juta ton. Ini berarti program swasembada susu 40 persen itu sama sekali belum menunjukkan hasil. Walau belum bisa disebut gagal karena target swasembada ditetapkan pada tahun 2020, sangat sulit mencapai target dengan sisa waktu yang ada. Sementara itu jumlah sapi perah juga cenderung menurun. Jika pada 2012 jumlah sapi perah mencapai 611.939 ekor, pada 2015 hanya 525.171 ekor.

Pertanyaannya, mengapa produksi susu nasional itu justru semakin menurun padahal pemerintah mempunyai program swasembada susu sapi nasional? Seharusnya, jika memang tidak tercapai, setidaknya produksi susu sapi dalam negeri bisa meningkat dan bukannya semakin menurun.

Ada beberapa penyebab merosotnya produksi susu sapi segar nasional. Menurunnya jumlah sapi perah secara nasional menunjukkan adanya masalah regenerasi sapi perah yang telah melewati masa produktif. Ini bisa terjadi misalnya karena harga sapi perah baru cukup mahal sehingga peternak tak mampu beli. Di pasaran, harga sapi perah impor bisa mencapai Rp 35 juta hingga Rp 40 juta per ekor.

Harga yang relatif mahal bagi peternak kecil jika harus membeli tanpa bantuan kredit perbankan dan subsidi. Dewan Persusuan Nasional menyebut pemerintah seharusnya memberikan subsidi sehingga harga sapi perah impor itu terjangkau peternak.

Selain harga sapi perah impor yang cukup mahal, penurunan jumlah sapi perah ini bisa juga karena usaha ini dinilai kurang menguntungkan karena harga susu segar terlampau rendah atau peternak kesulitan memasarkan produksi susu segarnya karena tidak ada yang membantu pemasarannya. Faktor ini sangat mungkin menjadi penyebab utama merosotnya produksi susu segar nasional.

Jika usaha sapi perah ini menguntungkan pastilah akan membuat peternak bertahan dan sangat mungkin akan menarik peternak baru. Namun jika usaha ini kurang menguntungkan, wajar jika banyak peternak yang beralih menggeluti usaha lain. Masalah harga susu segar dan kemudahan pemasaran produksi susu segar adalah indikatornya.

Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (ASPSI) mencatat harga susu segar yang dijual kepada industri pengolahan susu sapi tidak menguntungkan peternak karena dinilai terlalu rendah, hanya Rp 4.500 per liter. Harga ini lebih murah dibanding negara lain seperti di China Rp 7.330 per liter atau di Vietnam Rp 8.172 per liter.

Dengan harga yang disebut ASPSI itu, keuntungan peternak memang relatif kecil. Dengan perhitungan per ekor sapi menghasilkan susu segar 10 liter per hari atau 300 liter per bulan dikalikan Rp 4.500, didapatkan Rp 1.350.000. Dipotong biaya pakan hijauan 8 kg per hari seharga Rp 250 per kg atau Rp 60 ribu per bulan, dipotong biaya pakan konsentrat 1,5 kg per hari seharga Rp 2.600 per kg atau Rp 117 ribu, uang penjualan susu tersisa Rp 1.173.000.

Seorang peternak kecil rata-rata mempunyai 1 sampai 3 ekor sapi. Dengan demikian, jika biaya perawatan dan tenaga kerja dimasukkan dalam biaya produksi, keuntungan yang diperoleh peternak memang tak seberapa. Itu juga kalau ada industri pengolahan susu yang mau menampung produksi susu segar mereka. Data ASPSI menyebut dari 51 pabrikan susu saat ini, hanya 8 pabrikan yang menyerap produksi susu sapi peternak, sisanya murni menggunakan susu sapi impor.

Pada beberapa kasus, hasil produksi susu sapi segar justru sulit dipasarkan karena industri pengolah susu tidak mau menampung. Upaya peternak menjual langsung ke masyarakat juga tidak mudah karena konsumsi susu sapi segar masih cukup rendah. Inilah problem umum yang dihadapi peternak sapi perah sehingga tanpa dukungan jaringan pemasaran yang pasti, usaha ini kurang menguntungkan.

Selain kedua faktor itu, masalah harga sapi perah impor dan harga jual produksi susu segar, penurunan jumlah produksi susu sapi segar nasional juga diakibatkan oleh masalah teknis budi daya yang belum sepenuhnya baik. Produksi susu sapi perah yang hanya sekitar 10 liter per hari, masih bisa ditingkatkan hingga mencapai 20 liter per hari, dengan teknik budi daya yang tepat, termasuk penataan kandang misalnya.

Para peternak sudah sewajarnya mendapatkan penyuluhan dan bantuan sehingga mereka bisa memperoleh keterampilan budi daya yang lebih baik. Upaya mendatangkan para ahli untuk memberikan bimbingan secara langsung, tentu akan sulit dirasakan peternak tanpa ada fasilitas dari pemerintah atau pabrikan susu sebagai program CSR mereka.

Jika pemerintah memang masih konsisten dengan program swasembada susu sapi 40 persen pada tahun 2020, seharusnya tiga faktor penyebab turunnya produksi susu sapi itu mendapat perhatian serius. Menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada peternak sapi perah jelas tidak mungkin karena rata-rata peternak sapi perah berada di posisi cukup lemah. Mereka lemah modal, lemah daya tawar di pasar, juga lemah dalam hal teknik budi daya yang lebih maju.

Pemerintah jelas harus turun langsung dengan membuat payung hukum yang membuat bisnis ini menguntungkan peternak, yang menyangkut jaminan serapan produksi susu sapi segar oleh industri pengolah susu dengan harga yang wajar. Penyediaan sapi perah dengan harga yang terjangkau, baik dengan subsidi maupun kredit juga harus dijalankan. Dengan demikian, jumlah sapi perah bisa kembali meningkat.

Akhirnya, meski program swasembada susu sapi 40 persen pada 2020 sulit terwujud, jika ada langkah serius untuk mengatasinya masih ada harapan produksi susu sapi nasional bisa meningkat lagi pada tahun-tahun mendatang.

Penulis: Rizki Rahmawati Cendrawasih
(Mahasiswi Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor)


Editor : Rizal Saleem
Meikarta