OPINI : Dampak Ekonomi Idul Adha

| 29 Agustus 2017 | 16.55 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:

BONEPOS.COM - Tinggal beberapa hari lagi umat muslim akan memasuki hari raya Idul Adha. Dalam momentum Hari Raya Idul Adha ada dua kegiatan yang sering kita dengar yaitu berkurban dan berhaji. Disebut berqurban karena pada hari itu dilaksanakannya penyembelihan hewan sedangakan berhaji dikenal karena wukufnya para jamaah haji di Afarah dan Mina.

Hal ini merupakan suatu kegembiaran bagi seluruh umat Islam karena perintah berqurban dan berhaji langsung berasal dari Allah SWT.

Perintah berkurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah Allah SWT agar menyembelih putranya bernama Nabi Ismail. Keteguhan, keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim saat itu dalam menjalankan perintah Allah dibalas dengan pergantian putranya (Nabi Ismail) dengan hewan kurban. Sehingga atas dasar teguh, ikhlas dan sabar Nabi Ibrahim maka memberikan jawaban atas semua perintah Allah SWT dalam menguji hambanya.

Disamping itu, perintah berhaji merupakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji diwajibkan bagi umat Islam yang mampu baik secara fisik maupun finansial. Orang yang melaksanakan haji akan meninggalkan segala kemewahan dan keindahan yang selama ini melekat pada dirinya. Menaggalkan masalah duniawi dan segala kesibukan yang dapat membelokkan dari keihklasan dengan menggunakan pakaian ihram sebagai manifestasi ketundukan kepada Allah SWT.  
         
Ibadah berkurban dan berhaji keduanya memiliki makna tersendiri. Ia tidak hanya dirasakan dalam bentuk hubungan vertikal seorang hamba terhadap tuhannya, namun juga memiliki hubungan horizontal terhadap sesama manusia. Boleh dikata bahwa ibadah tersebut memiliki dampak ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari sisi ekonomi dengan adanya ibadah kurban dan haji pengelolaan dana keduanya dapat menggerakkan sektor riil. Haji, misalnya dapat menghidupkan industri-industri jasa. Seprti jasa transportasi darat dan udara, jasa katering bagi jamaah dan keluarga yang melaksanakan kesyukuran atas berangkatnya salatu keluarga mereka, jasa telekomunikasi, jasa penukaran uang (money changer) dan lain-lainnya.

Begitu pun ibadah kurban, dengan adanya ibadah ini dapat membangkitkan industri peternakan dan infrastrukturnya. Permintaan terhadap hewan kurban akan mengalami kelonjakan, baik kambing, domba, kerbau, dan sapi. Sehingga memberikan efek kepada para peternak dari sisi penawaran terutama pada industri peternakan rakyat yang termasuk kategori UMKM (Usaha Mikro, Kecil & Menengah).

Selanjutnya ibadah haji dan kurban dapat pula memperkuat sektor keuangan dan peningkatan infrastruktur. Apalagi dibuktikan dengan adanya Undang-Undang No.34 tahun 2014 tentang keuangan haji. Setiap calon haji harus setor dana dalam jumlah tertentu, biasanya sampai 25 juta. Dana haji tersebut tersimpan di bank syariah maupun bank konvensional.

Artinya uang tersebut akan diputar lagi oleh bank. kalau bank konvensional disalurkan dalam bentuk kredit, sedangkan bank syariah digunakan sebagai sumber pembiayaan. Nah dalam penyaluran pembiayaan tersebut dana haji sudah biasa dan dikonversi menjadi gedung, jalan tol, modal kerja, infrastruktur dan lain-lain. Sehingga memberikan dampak ekonomi terhadap Negara secar umum dan terkhusus bagi jamaah itu sendiri.

Sementara ibadah kurban, industri keuangan dapat berperan dalam mengembangkan kapasitas produksi hewan dalam negeri dengan menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan. Dengan adanya pembiayaan dari bank maka para peternak dapat dengan mudah mendistribusikan daging kurban kepada pihak konsumen maupun yang membutuhkan.

Sehingga pada akhirnya nanti dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, dimana para kelompok dhuafa mendapatkan tambahan pasokan daging yang siap dikonsumsi pada saat itu. Meskipun itu sifatnya sangat sementara tapi paling tidak, kurban tersebut di harapkan dapat meningkatkan konsumsi daging perkapita per tahun.

Perlu diketahui juga rendahnya konsumsi daging masyarakat saat ini khususnya di Indonesia dikarenakan banyaknya warga yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli daging. Oleh sebab itu dengan kurban, minimal mereka memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi daging. Sehingga semangat berkurban melahirkan pribadi-pribadi yang produktif tidak hanya untuk orang yang berkurban saja akan tetapi juga bagi kaum dhuafa.

Penulis: Rachmat Hidajat
Mahasiswa Magister Studi Islam
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta


Editor     : Jumardi Ramling
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI