OPINI: Degradasi Etika Bisnis Travel

- Kamis, Agustus 24, 2017
advertise pemkab bone
Degradasi Etika Bisnis Travel
Rachmat Hidajat - Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Akhir-akhir ini pemberitaan terhadap First Travel berhembus kencang di seluruh media massa baik media cetak maupun online. Bagaimana tidak ? sejak kabar adanya ribuan jamaah yang gagal untuk diberangkatkan ke tanah suci sampai tertangkapnya Andika Surachma dan Anniesa Devitasari Hasibuan selaku bos First Travel menghiasi pemberitaan saat ini. Hingga baru-baru ini juga telah menyeret Kiki Hasibuan selaku komisaris dan direktur keuangan yang juga adik dari Anniesa sendiri dijadikan sebagai tersangka dalam penipuan ini.

Perlu diketahui Fist Travel merupakan bisnis biro perjalan umrah. Dalam praktek bisnisnya, ia menawarkan biaya umrah murah. Penawaran ini dipromosikan Fist Travel dari seminar-seminar yang di gelar dengan menawarkan beberapa paket. Produk yang di tawarkan sebanyak tiga macam. Pertama, disebut paket promo Rp 14,3 juta, kedua, paket regular Rp 25 juta, dan terakhir paket VIP (very important person) 54 juta per perjalanan.

Harga yang di tawarkan oleh pihak First Travel sangat murah dibandingkan dari agen travel lainnya. Pembeli pun tergiur dan memesan paket umrah. Namun, hingga batas yang di janjikan, calon jamaah tak kunjung di berangkatkan. Tertundanya keberangkatan jamaah, diduga First Travel dalam melancarkan bisnisnya menggunakan sistem ponzi yakni gali lubang tutup lubang.

Dalam kasus sepert ini, apabila ada calon jamaah yang mendaftar paling akhir dan menghadapi masalah keberangkatan. Contohnya travel yang bermain di volume jamaah. Bisa jadi jamaah yang mendaftar ke travel tersebut tidak semuanya diberangkatkan ketika itu juga, melainkan harus menunggu hingga tahun depan.Uang dari jamaah yang baru masuk digunakan untuk memberangkati jamaah tahun ini. Artinya untuk bisa memberangkatkan jemaah tahun ini, pihak travel mesti mencari lagi calon jamaah dalam jumlah besar dan begitu seterusnya. (sumber: news.metrotvnews.com)

Islam memiliki pedoman lengkap untuk manusia dalam menjalani kehidupan. Termasuk panduan tentang bagaimana bisnis dan pemasaran dijalankan tanpa meninggalkan etika yang seharusnya, karena dalam etika bisnis dan Islam merupakan suatu kesatuan yang tidak dipisahkan. Di dalam Al-Qur’an dan sunnah telah memberikan tanda-tanda atau etika dalam menjalankan bisnis, termasuk etika promosi produk kepada konsumen.

Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan suri teladan yang baik dalam menjalankan bisnis. Pada masa beliau juga dikenal sebagai pedagang. Beliau dalam menjalankan bisnis mengedepankan asas kejujuran, adil, dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, apalagi kecewa. Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standar kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan.

Polemik yang terjadi pada bisnis First Travel boleh dikata karna hilangnya kejujuran dalam mempromosi produknya terhadap para jamaah. Informasi yang diberikan dari pihak produsen ke calon konsumen tidak jelas sehingga banyak di antara para jamaah merasa tertipu karna tidak dapat di berangkatkan umrah oleh pihak travel sendiri padahal ia telah melunasi seluruh kewajibannya.

Penyelenggaraan dan agen perjalan umrah terlihat belum memberikan informasi yang jelas dan jujur terkait dengan pelaksanaanya. padahal informasi ini sangat penting bagi jamaah yang ingin berangkat umrah agar tidak menuai masalah dan membahayakan jamaah.

Misalnya informasi tempat penginapan (hotel), harga tiket pesawat, pelayanan catering dan lain-lain sebagainya. Belum lagi kasus jika ada orang yang gagal berangkat karena alasan kurangnya izin kunjungan atau visa umrah maka pihak biro harus menjelaskan secara transparan dan terbuka.  
   
Kejujuran, keterbukaan, dan keadilan menjadi landasan etika dalam mempromosikan produk ke konsumen. Bahkan nabi Muhammad sendiri telah memberikan contoh bagaimana dia menciptakan konsep komunikasi pemasaran barang dagangan dengan jujur dan benar. Sehingga konsumen dapat mempelajari lebih lanjut tentang kualifikasi produk dengan baik dan merasa puas bahkan loyal terhadap produk yang ia tawarkan sehingga akhirnya mendapat keuntungan.

Dengan demikian keuntungan dari bisnis dapat bertahan dan berkembang lebih lanjut. Dengan demikian bahwa penerapan etika dalam bisnis tidak hanya mampu memberikan keuntungan bagi badan usaha atau perusahaan tetapi juga untuk para konsumen.

Penulis   : Rachmat Hidajat
Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Editor     : Jumardi Ramling
Meikarta