OPINI : Pemilih Tradisional Vs Pemilih Rasional

| 28 Agustus 2017 | 12.21 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:

Pemilih Tradisional Vs Pemilih Rasional
BONEPOS.COM - Memilih dan dipilih adalah hak masyarakat sipil seperti dalam ketentuan Pasal 23 ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dinyatakan bahwa “Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”.

Lebih lanjut menurut ketentuan Pasal 43 ayat (1) UU ini, dinyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan”.

Kedua ketentuan pasal di atas jelas menunjukkan adanya jaminan yuridis yang melekat bagi setiap warga Negara Indonesia itu sendiri untuk melaksanakan hak memilihnya.

Kesadaran adalah hal yang penting bagi seseorang atau masyarakat sebagai binatang yang berakal dalam melakukan suatu tindakan atau menentuk sebuah pilihan. Menurut paulo freire seorang filsuf pendidikan dari prancis bahwa ada 3 fase atau tingkatan kesadaran dalam masyrakat.

Pertama,kesadaran magis dimana pada tahap kesadaran ini cendrung tak bisa mengetahui hubungan dari satu faktor dengan faktor lainnya dan pada tahap ini seseorang lebih meyakini sebuah kebenaran yang bersifat dogmatik,mempercayai mitos,dan meyakini bahwa sesuatu yang terjadi di sekitarnya adalah sebuah takdir tuhan yang lebih bersifat determinis.

Misal dalam kasus kemiskinan memandang suatu realitas sosial tampa mampu menghubungkan beberapa faktor yang mempengaruhi kemiskinan tersebut seperti sistem,politik dan budaya.

Kedua, Kesadaran Naif yakni pada tahap kesadaran ini lebih melihat aspek individu dari manusia. Misal dalam pembagian kelas sosial antara si borjuis dan si proletar ia memandang bahwa kesalahan dari miskinnya kaum proletar adalah faktor kemalasan dalam bekerja dan sesuatu hal yang berkaitan dengan individu si proletar tersebut.

Pada fase ini ia cenderung sama pada tahap magis namun Orang-orang yang berada pada tahap ini selalu melimpahkan segala sesuatu kepada pribadi seseorang tampa melihat faktor lain di sekitarnya yang mempengaruhi reitas sosial tersebut.

Ketiga,Kesadaran Kritis pada tingkatan ini sangatlah berbeda dari kedua kesadaran tadi yang sudah di jelaskan, pada tingkatan ini seseorang cenderung membedah sebuah realitas sosial dengan melihat sebuah sistem dan menghungkan antara faktor yang satu dengan lainnya untuk menarik benang merah terhadap realitas sosial yang terjadi.

Kesadaran ini akan memggugat sebuah sistem atau tatanan dalam masyarakat apa bila dianggap merusak, tidak adil,dehumanisasi,dan penyebab distorsi dalam masyarakat. Sebagai contoh yang di kritik oleh paulo freire adalah pendidikan gaya bank yang berpandangan bahwa siswa hanyalah sebuah gelas kosong yang nantinya guru yang akan mengisinya, padahal dalam pemikiran paulo siswa bukan lah objek melainkan subjek seperti guru sedang objek adalah pengetahuaan.

Teori diatas mencoba menggambarkan hubungan antara kesadaran manusia dengan tindakannya sebagai represetatif atas eksistensinnya.dengan teori tersebut kita dapat memahami bagaimana masyarakat merespon lingkungannya dengan segenap pengetahuan yang ia miliki yang termanifestasi dalam suatu tindakan.

Tak bisa di pungkiri tipologi masyarakat terkhususnya masyarakat di daerah pedalaman atau pelosok masih sangat dogmatis, apatis dalam menentukan tindakannya baik itu ranah sosial,budaya dan politik. Saya hanaya mencoba merefleksikan diri dengan pendekatan empiris saya dalam melihat kasus yang terjadi di sekitar saya.

Di tengah gencarnya euphoria pilkada yang akan di gelar kurang lebih setahun kedepan menjadi catatan penting bagi generasi sekarang untuk memilih pemimpin dalam memajukan daerahnya. Lantas yang menjadi pertanyaaan besar bagaimana kah seharusnya bkita merespon moment ini yang tak lama lagi akan hadir di tengah-tengah kita sebagai pemilih yang bertanggung jawab? Suara rakyat adalah penentu masa depan dalam suatu daerah beberapa tahun  kedepan.

Alangkah hinanya kita jika menentukan sebuah pilihan yang dapat berdampak pada kemunduran daerah tercinta. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan seperti ayah,ibu,kakek,nenk,sepupu,dan keluarga jauh tapi masih dalam ikatan silsilah.

Menurut mayer fortes bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat di pergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain bahwa ikatan kekeluargaan,biologis menjadi satu variable yang sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat tensebut dalam melakukan sesuatu termasuk penggunaan hak suaranya.

Hal ini sering kali di praktikkan oleh masyarakat yang berdomisili di pedesaan menjadi pemilih tradisional yang memprioritaskan kedekatan silsilah. Sedikit bercerita tentang pengalaman yang pernah saya dapat dari pengamatan empiris  melihat orang-orang sekampung saat pilkada di BONE tahun 2013 kemarin.
Pilihki ini nah, dia keluargannya aco (nama samaran)  mencalonkanki itu di pilkada tahun ini tutur kata dari seorang warga di kampung . sebagaimana kasus tersebut dapat kita simpulkan bahwa ikatan kekluargaan sangat berpengaruh dalam memilih calon pemimpin daerah namun meski ini tak berlaku untuk setiap orang dan daerah.

Selain dari faktor ikatan kekeluargaan masyarakat seperti ini cenderung tak mempertanyakan seberapa cocok seorang calon ini untuk daerahnya sebagai akibat dari kesadaran yang ia miliki seperti kata becce (nama samaran) "tidak adaji juga pengaruhnya siapa jadi pemimpin, nda bakalan itu orang miskin jadi kaya".konsekwensi dari pengetahuannya yang menganggap bahwa kemiskinan tak ada kaitannya dengan kegiatan politik seperpi Pilkada.

Untuk kalangan mahasiswa, pelajar dan masyarakat akademisi  dalam memamfaatkan hak suara cenderung bersifat kritis dalam menentukan pilihan. Ia melihat seseorang dari kapasitasnya seperti intelektualitas,kejujuranya,keberanian,memprioritaskan kebenaran bahkan spiritual sering kali menjadi alasan dalam menentukan pilihan. Sifat kritis dalam mengetahui seseorang yang akan dipilihnya sangat lah besar.

Mulai dari responsif terhadap gagasan-gagasan yang dibawah para calon dalam bentuk visi dalam terwukjudnya  masyarakat madani (Civil Society). Sifat kritis menjadi modal yang tak bisa di beli ataupun dilacurkan dalam menggunakan hak suara, beranggapan bahwa memilih sebuah pemimpin adalah sama saja kita menentukan nasib daerah tersebut seperti hak berpendidikan, hak kesehatan, kemiskinan, kesenjangan sosial dan berbagai patologi-patologi sosial.

Orang-orang seperti ini cendrung menjadi actor dalam memerankan peran sebagai pemiliih rasional. Pantaskah ia kita pilih? Apakah kualitas kediriannya memupuni? Apakah visi yang ia bawa kontektual dan dapat menjawab problematika yang terjadi kalangan masyarakat? Itulah pertanyaan yang senantiasa mengisi ruang-ruang pikiran dalam kepalannya, bijak dalam menentukan sebuah pilihan yang melebur ego individu dan keluarga sebagai pengharapan memilih figur yang terbaik untuk daerah tercinta.

Untuk kawan-kawan perlu di sadari bahwa nasib daerah kita ada di tangan kita masing-masing,sebagai rasa cinta dan sayang untuk daerah asal Kabupaten Bone yang lebih maju dan lebih baik kedepannya bagaimankah kita seharusnya menjadi aktor dalam Pilkada tersebut? Menjadi pemilih Tradisional ataukah Pemilih yang Rasional?

Penulis : Agung Raka Pratama
Aktivis PMB-UH Latenritatta


Editor     : Jumardi Ramling
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI