OPINI: Dosen dan Budaya Lokal

| 25 November 2017 | 20.32 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
OPINI: Dosen dan Budaya Lokal
Bambang Roesmono, Ketua/Dosen STIKES Muhammadiyah Sidrap dan Mahasiswa Program Doktoral Manajemen UMI Makassar.

Kualitas lulusan dari suatu lembaga pendidikan, utamanya pada perguruan tinggi, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah sumber daya manusia di bidang pendidikan yang biasa disebut dengan dosen.

Dosen yang merupakan tenaga profesional selalu dituntut bisa melaksanakan proses pendidikan sebaik-baiknya sesuai beban kerja yang diembankan pada dirinya sebagai tugas pokoknya, disamping tugas pokok yang lain dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Disamping tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut, seorang dosen sejogyanya harus ikut dalam pengembangan mutu perguruan tinggi, baik dalam bidang akademik dan profesi, serta dalam pengelolaan perguruan tinggi atau tata pamong perguruan tinggi. Budaya atau kebudayaan merupakan bagian dari seluruh kegiatan hidup seseorang dimana kebudayaan meliputi akan ilmu pengetahuan, filsafat, dan seni.

Pemberdayaan dan keberhasilan dari seorang dosen akan mempengaruhi dalam peningkatan daya saing program studi di perguruan tinggi tersebut di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Agar keberhasilan tersebut dapat tercapai, maka seorang dosen harus penuh kreasi dan inovasi dalam bidang ilmu yang sesuai kompetensi dan profesinya.

Disiplin diri, disiplin kerja dan disiplin ilmu dari seorang dosen, sangat dibutuhkan dalam peningkatan kinerja dosen yang akan membawa dampak pada keberhasilan karya seorang dosen.

Sisi budaya lingkungan atau budaya lokal yang telah tertanam pada diri seorang dosen semenjak lahir, akan cukup berpengaruh pula dalam pencapaian tersebut. Budaya lokal dimana seorang dosen perguruan tinggi tersebut berada, bisa saja mempunyai peran bagi keberhasilannya dalam meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi.

Tugas dan Profesional Dosen

Tugas Dosen menurut pasal 1 ayat 2 Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah melaksanakan transformasi, pengembangan, penyebaran secara luas ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam proses pembelajaran, seorang dosen harus berfokus pada kepentingan atau kebutuhan proses pembelajaran mahasiswanya. Untuk itu dosen dituntut untuk bisa mentransformasi kemampuan ilmu dan profesinya baik sebagai pembimbing, pelatih, dan pembina kepada mahasiswanya.

Keahlian untuk transformasi ipteks yang dilakukan sangat membutuhkan kedisplinan, komitmen,  kepedulian, dan kerjasama yang baik dan benar.

Agar tugas dosen dapat berjalan dengan baik, maka perguruan tinggi berkewajiban melaksanakan manajemen mutu dosen dengan cara : managing ability ( memberikan kesempatan sebaik-baiknya bagi para dosennya dalam melaksanakan dan mengembangkan tugasnya ); managing opportunity dan managing motivation bagi pelaksanaan tugas dosennya agar memuaskan.

Profesional Dosen; Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, seorang dosen harus bisa mengaktualisasikan keahlian, kompetensi akademik, kemampuan personal, kemampuan sosialnya, secara integral agar dapat memahami dan kebutuhan mahasiswanya.

Profesionalisme dosen tersebut merupakan salah satu tolok ukur dari system penjaminan mutu akademik. Dari sinilah, diharapkan terjadi suasana akademik yang baik, sehat dan harmonis, antara dosen dengan mahasiswanya, antara dosen dengan dosen lainnya, dan antara mahasiswa dengan mahasiswanya. Suasana akademik ini yang akan membuat manajemen mutu akademik jadi unggul, dan mutu lulusan perguruan tinggi tersebut akan menjadi maksimal.

Salah satu faktor agar suasana akademik bisa kondusif, sehat dan harmonis di perguruan tinggi tersebut, maka kondisi kebersamaan dalam suasana kekeluargaan antar dosen, mahasiswa, dan yang terkait, harus dibangun sikap perilaku yang baik dari dosen. Sikap dan perilaku dosen tersebut secara sadar pula dipengaruhi dengan budaya adat istiadat dari diri dosen tersebut serta budaya organisasi perguruan tinggi tersebut.

Budaya Lokal.

Budaya atau kebudayaan adalah suatu usaha dan hasil usaha manusia dalam menyelesaikan kehendaknya untuk hidup dengan alam yang ada disekelilingnya. Dan dalam bahasa yang terkenal di Barat dikatakan culture, (kebudayaan dipandang dari segi ajaran Islam, Prof. Dr. Hamka ; Pandangan Hidup Islam, Gema Insani, Jakarta 2106. P.240 .

Mencapai maksud tersebut, orang Arab menyebutnya tsaqafah. Di Jepang ada yang dinamakan budaya kaizen; Dimana semangat orang jepang yang ingin adanya perbaikan, yang membuat mereka mempunyai sifat yang tidak cepat berpuas diri, selalu ingin meningkatkan secara kontinyu menuju kearah yang lebih baik terhadap proses hasil suatu usaha, baik kualitas dan kuantitas produknya.

Dalam pikiran mereka, apabila hasil yang didapat meningkat dan perusahaan atau lembaga tempatnya bekerja mendapatkan keuntungan, maka otomatis akan mendapatkan kenaikan dalam gajinya. Sehingga membuat etos kerjanya atau kinerjanya meningkat.

Budaya malu, budaya tepat waktu, selalu diterapkan pada diri mereka, sehingga membuat tingkat kedisiplinan dalam pekerjaannya sangat tinggi dan dedikasi mereka dalam kerja meskipun tanpa ada atasannya selalu tinggi, inilah pangkal kesuksesan mereka dalam bekerja aau berkarya.

Disamping itu, di Jepang ada budaya Hou-Ren-Sou; Dimana Houkoku ( Reporting ), Renraku ( Informing ), dan Soudan ( Discussing ); mempunyai makna bahwa setiap pekerjaan harus dilaporkan, diinformasikan, serta didiskusikan atau dimintakan saran kepada koleganya, yang dampaknya membawa hasil yang maksimal.

Di Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika, mempunyai budaya atau kultur yang mirip seperti begitu juga yang ada pada beberapa daerah. Semua manusia yang berakal budi adalah berbudaya, sebab budaya adalah hasil akal budi. Akal budi juga dipengaruhi oleh ruang dan waktunya, milieu ( lingkungannya ), dan masyarakat disekelilingnya.

Kesimpulan

Dalam dunia pendidikan, perguruan tinggi, agar mutu lulusannya mempunyai sifat Academic Knowledge, Skill of Thingking, Managemen Skill, dan Comunication Skill, maka sisi professional dosen dengan budaya yang tertanam pada dirinya, harus bisa dilaksanakan dan dikembangkan secara tepat sasaran pada tugas pokok dan fungsinya dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Sehingga, apabila hal tersebut diatas tidak terlaksana dengan baik dan benar, niscaya harapan perguruan tinggi yang ingin lulusannya unggul, profesional, dan punya daya saing tinggi, tidak akan tercapai.

Budaya kerja yang penuh disiplin dan tanggung jawab, serta memperhatikan kondisi kultur masing masing, dengan selalu mau ber team work, tidak mudah putus asa, dan malu kalau berbuat tanpa ikuti aturan yang berlaku. Insyaallah akan membuahkan hasil atau karya yang bermutu.

Oleh   : Bambang Roesmono 
Ketua/Dosen STIKES Muhammadiyah Sidrap.
Mahasiswa Program Doktoral Manajemen UMI Makassar.



Editor     : Risal Saleem
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI