SPESIAL HARI GURU : Pada Gelap dan Sesak, Dia Menjadi Cahaya

| 24 November 2017 | 16.50 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Izinkan saya menulis ini dengan penghormatan kepada semua orang hebat itu. Hari-harinya penuh senyuman pengabdian. Setiap langkahnya adalah risalah untuk menyampaikan cinta kepada semua generasi penurus bangsa. 

S​ebaik-baik langkah, ialah yang melangkah untuk orang lain, sebaik-baik cinta dialah yang mencintai orang lain, sebaik-baik lelah dialah yang rela lelah untuk orang lain, sebaik-baik manusia dialah yang bermanfaat untuk orang lain.

Sekolah menjadi tempat pertemuan itu, dimana cinta itu merekah seluas-luasnya. Menimbah ilmu dengan sebanyak-banyak, menggali pengalaman dengan sedalam-dalamnya tanpa batas tak pernah mengenal lelah.

Orang itu adalah penghias segala cita dan mimpi kita. Orang itu adalah kemuliaan yang mengantarkan cinta yang berpanjangan. Saya selalu membayangkan betapa besar hatinya untuk menuai kemuliaan dengan sungguh-sungguh.

Begitu besar keluguhan hatinya yang memungut jiwa liar yang bercecer di jalan-jalan dengan penuh ketulusan. Keringatnya adalah benih perjuangan yang bercucur tidak percuma. Hatinya ikhlas menyebar keharuman tentang indahnya kebaikan yang dijanjikan oleh Tuhan. 

Orang itu adalah rangkaian kata-kata yang tak pernah usai, terus merangkai dan berjalan pada jalur-jalur pengorbanan, dan dialah yang hari ini di abadikan pada dua puluh lima November. Hari pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa pamrih dia tak berhenti, terus berusaha mencerdaskan anak-anak generasi.

Hari ini adalah penanda yang jelas terbaca, bahwa pengorbanan ada pada raganya. Guru kita adalah penyampai risalah, dia menyampaikan pesan Tuhan dengan sepenuhnya cinta. Sungguh bersyukur kita yang masih mendapat kasih dari guru-guru hebat yang ada di sekitar kita. Mereka adalah sosok yang hadir di kehampaan hati kita. Menjadi penyejuk pada gerahnya keadaan, hingga guru kita hadir untuk memberi wejengan tanpa mengenal waktu, juga tanpa mengenal usai.

Kemauan memang ada pada setiap jiwa, tapi kemauan itu tidak akan muncul tanpa ada dorongan kuat dari guru-guru kita. Dia lah yang melebarkan sayap pada generasi yang takut terbang bebas menuju kesuksesan.

Dia lah sang pembaca bahwa ada banyak rahasia yang sangat berguna pada diri kita untuk kita kembangkan. Dia lah sang pembawa lentera pada gelapnya keadaaan, ia memberi kehangatan pada getirnya angin yang mencekam.

Pada awal kami mengenal dunia, ibaratnya kami hanya sebuah kertas kosong tanpa tinta, tanpa lukisan, tanpa kalimat. Guru kita yang taat mengajarkan dan melafalkan abjad, membaca cerita, dan juga berani berbicara di depan orang banyak. Hingga hari ini kami bisa membaca dunia, mengenal cinta dan merasakan dinamika kehidupan.

Kepada semua guru kami, seseorang yang pada hatinya ada jiwa kemuliaan dan semangat untuk menyampaikan risalah kebenaran. Sehat-sehat lah, semoga abdimu adalah amal yang tak pernah absen di catat oleh malaikat yang ada di sekelilingmu. Bila abadi pengabdiaan itu, saya yakin permata akan mereka raih.

Kepada semua guru kami yang membaca tulisan ini, selamat hari guru. Semoga cerita Panjang dari perjuanganmu selama ini membuat hasil berharga untuk bangsa ini. Panjang umur lah bapak ibu guru kami, Tuhan selalu memberi tempat yang baik kepadanya yang sungguh-sungguh.

Dari seorang siswa di atas genangan, 24/11/2017

(Ahmad Takbir Abadi)

Editor     : Jumardi Ramling
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI