oleh

Viral! Pengakuan Mantan Staf Prabowo Jenderal Segudang Koleksi Literatur

-Politik-1.350 views

BONEPOS.COM, JAKARTA – Sebuah pidato Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto jadi perbincangan hangat. Potongan video pidato Prabowo tersebut diunggah akun Facebook dan Twitter resmi Partai Gerindra dan menjadi viral di dunia maya.

“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini.

BNNK BONE

Tetapi, di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030,” kata Prabowo dalam video tersebut.

Sementara itu, menanggapi isi pidato Prabowo Subianto, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dikutip dari CNN Indonesia mengajak semua pihak merenungkan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Indonesia tentang ‘Indonesia bubar 2030’.

Menurut Gatot, di tahun politik, pernyataan tokoh politik seperti Prabowo bisa dipersepsikan menjadi negatif atau positif. Jika dilihat dari sisi positif, pernyataan mantan Danjen Kopassus itu bisa diartikan sebagai peringatan serius yang harus dipikirkan solusinya.

“Prediksi yang diambil dari sebuah novel Ghost Fleet itu bisa lebih cepat apabila kepastian hukum makin lemah, krisis ekonomi dan sosial makin mengancam, kesenjangan makin terbuka, sumber daya alam banyak dikuasai asing, dan lemahnya daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Gatot melihat hal itu dalam konteks pertahanan dan keamanan negara,” tegasnya.

Perbincangan soal pidato Prabowo Subianto terus bergulir dan ditanggapi oleh mantan Stafnya, Sudaryono.

Berikut isi pengakuan Sudaryono yang viral:

PRABOWO, JENDERAL LAPANGAN YANG GEMAR MEMBACA DENGAN KOLEKSI BUKU SEGUDANG

Akhir-akhir ini sedang ramai diberitakan mengenai ulasan argumen, baik pro dan kontra terkait pernyataan Prabowo yang menyatakan bahwa Indonesia sudah bubar 2030. Hal yang dikutipnya dari buku novel karya ahli strategi dan Intelejen, Peter W. Singer.

Saya di sini tidak akan membahas lebih jauh terkait pro dan kontra tersebut. Namun saya ingin sedikit berbagi bagaimana rasanya menjadi anak buah staf atau “anak santri” dari seorang Jenderal lapangan bekas Komandan Pasukan Khusus Indonesia yang memiliki kegemaran membaca yang sangat tinggi.

Bayangkan saja, selama saya menjadi asisten pribadi dan kebetulan juga memiliki kesempatan untuk tinggal di rumah Pak PS selama kurun waktu 5 tahun. Antara 2010 sd 2014 ini saya melihat dan merasakan bagaimana Pak PS ini sangat antusias terhadap buku dan membacanya. Tentu hampir semua yang beliau baca dalam literatur bahasa Inggris.

Pak PS pada dasarnya membaca buku dengan tema-tema khusus, yang menurut pengetahuan saya bisa dibagi menjadi beberapa tema yaitu: EKONOMI, SEJARAH, PERTAHANAN KEAMANAN, MAJALAH ALUTSISTA, EKONOMI POLITIK PEMBANGUNAN, OTOBIOGRAFI TOKOH, BEBERAPA PANDANGAN ISLAM serta kadang kadang juga MAJALAH PROPERTI.

Buku dengan 300-an halaman bisa selesai dibaca dalam beberapa hari saja.

Bahkan di tengah kesibukan yang sibuk itu tetap selalu diisi dengan membaca.

Membaca bisa beliau lakukan di Mobil, di kantor, di ruang santai bahkan di toilet (ada rak khusus di toilet yang berisi banyak buku).

Untuk kami, beliau juga tidak segan untuk memberikan perintah kepada kami untuk membaca buku buku yang beliau baca. Semacam buku wajib baca bagi kader muda. Hehehe…

Kadang bagi saya yang agak malas membaca ini tidak perlu membaca bukunya, cukup mendengarkan ulasan beliau tentang buku buku yang beliau baca.

Lalu dimana beliau membeli buku nya?

Sejauh yang saya tahu, Pak PS membeli buku buku itu di toko buku dalam negeri maupun toko buku di luar negeri.

Sabtu minggu pada saat beliau senggang dan bacaan buku habis biasanya beliau akan pergi ke Konikuniya di Plaza Senayan untuk membeli setidak nya minimal 10 an lebih buku dan majalah.

Di situlah, kadang saya merasa wajib untuk juga membeli buku. Bagaimana tidak, sang boss membeli buku sebanyak itu masak kita anak muda nggak ada yang dibeli? Hehehe…

Bagi yang penasaran silakan bisa ditanyakan kepada staf Toko Buku Konikuniya di Plaza Senayan.

Bagi Pak PS Toko Buku adalah tempat rekreasi tersendiri untuk beliau. Bahkan dalam kesempatan kunjungan ke luar negeri, dengan agenda yang padat, Pak PS selalu menginginkan waktu khusus untuk membeli Buku.

KINOKUNIYA untuk kunjungan ke Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapore.

Sedangkan di PARIS ada toko buku JW SMITH adalah contoh toko buku yang menjadi langganan pak PS.

Biasanya dalam setiap kunjungan ke luar negeri, rombongan kami selalu menambah 1 koper minimal yang berisi buku buku yang Pak PS beli di luar negeri. Kadang juga buku buku itu saking banyak dan beratnya harus dibagi ke beberapa koper ajudan dan staf yang ikut.

Dalam topik topik tertentu, Pak PS sering membeli buku yang sama dengan jumlah banyak yang tujuannya nanti untuk dibagi atau diberikan kepada beberapa orang sebagai READING LIST bagi kader muda di lingkungan beliau.

The secret karya Ronda Bryne, Warrior of the Light karya Paulo Colheo, Water karya Steven Solomon, The Swordless Samurai karya Masao Kitami, Why the West Has Won karya Victor Davis Hanson, Money karya Felix Martin, Currency Wars karya James Rickards, Gandhi an Autobiography karya Sissela Bok dan masih banyak lagi yang lainnya adalah contoh buku buku yang Pak PS baca dan kami dibelikan buku itu supaya kami juga membacanya.

Buku adalah jendela ilmu kata guru kita di sekolah– dan itu benar adanya.

Saya melihatnya sendiri dari sosok Pak Prabowo Subianto. Bagaimana beliau senantiasa tidak berpuas diri senantiasa baca dan belajar. Belajar dari sejarah, belajar dari ahli ahli terkemuka dunia lewat buku-bukunya. Belajar dari kisah hidup tokoh tokoh pemimpin dunia.

Bagi saya pribadi, pak Prabowo adalah tokoh besar yang menginspirasi hidup saya.

Dan ternyata orang sekaliber Pak PS dengan menyandang status tokoh besar aja masih mau terus menimba ilmu, memupuk pengetahuan, dan up to date terhadap perkembangan dunia luar. Itulah kenapa, saya sangat yakin Pak PS adalah sedikit diantara elit Bangsa ini yang mengerti tentang percaturan global antar bangsa dan geopolitik-nya.

Tentu isi pidato Indonesia 2030 itu adalah warning dari seorang patriot yang cinta terhadap negaranya yang melihat adanya sebuah kemungkinan ancaman terhadap nusa bangsa negara yang dia bela dengan pertaruhan nyawanya.

Sebarkan kepada rekan keluarga dan sahabat kita…

Komentar

News Feed