oleh

Antara Nurdin Abdullah, Helikopter, dan Black Campaign

-Opini-635 views

Oleh: Chandra Utama

BONEPOS.COM, MAKASSAR – Beberapa hari ini Prof. Nurdin Abdullah banyak menuai sorotan karena penggunaan Helikopter.  Bahkan ada yang menghubungkannya dengan kesehatan beliau.

BNNK BONE

Salah satunya adalah mantan Ketua PKC PMII SULSEL, Syarif Hidayatullah yang dengan gamblang mempertanyakan motif penggunaan Helikopter dalam prosesi sosialisasi. Bahkan, dengan ‘menuding’ Prof Nurdin Abdullah dalam kondisi ‘sakit’.

Justru, yang menjadi pertanyaan adalah apa motif kritikan yang bernada sinis itu? Apakah ia telah mengabaikan rasionalitas demi menyerang kredibilitas kandidat lawan politiknya?.

Seharusnya si pengeritik memahami, bahwa untuk menjadi seorang kepala daerah para kandidat diwajibkan untuk mengikuti beberapa tahapan sebelum dinyatakan layak sebagai kontestan dalam pemilihan.

Salah satu tahapan yang wajib diikuti oleh bakal calon Gubernur sul-sel itu adalah  pemeriksaan kesehatan. Semua kandidat yang siap bertarung dalam momentum pilkada 2018 dinyatakan layak, tak terkecuali Prof. Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman.

Pemeriksaan kesehatan bagi para calon kepala daerah dilakukan oleh para ahli kesehatan dan tak tanggung-tanggung penyelenggara melibatkan 33 dokter ahli.

Selain dari itu penyelenggara juga melibatkan Himpunan Psikologi Indonesia untuk melaksanakan Psiko tes bagi para kandidat.

Momentum politik memang selalu menarik untuk dibicarakan, pro dan kontra selalu hadir sebagai upaya menyempurnakan demokrasi di negeri ini hal itu pun terjadi dalam momentum pemilihan calon gubernur sul-sel.

Pada dasarnya penggunaan helikopter merupakan solusi untuk menjangkau daerah yang sulit dikunjungi jika menggunakan akses darat dan disisi lain penggunaan helikopter harusnya dipandang sebagai solusi efisiensi waktu, karena masing-masing kita menyadari bahwa intensitas kunjungan para kandidat calon gubernur sangatlah padat.

Tapi, alih-alih membangun demokrasi, sepertinya, beberapa pendukung dan simpatisan memilih menyerang personal untuk membangun citra buruk.

Kata imam Al-Gazali, “sakit fisik mudah disadari oleh penderita, tapi sakit psikis, biasanya disadari oleh orang lain, bukan si penderita”.

*Penulis adalah Alumni Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Komentar

News Feed