oleh

Opini: Ketika Pilkada Membunuh “Sifat Baik” Manusia

-Opini-560 views

PAGI ini membuka laman Media Sosial (Medsos), pada wall teman-teman yang terpampang rata-rata adalah postingan tentang hiruk pikuk pesta demokrasi Pilkada Serentak 2018. Layaknya sebuah pesta hiruk pikuk adalah lumrah sebagai ekspresi kebahagiaan yang penuh senyum, tawa dan penuh kekeluargaan.

Namun yang aneh dari hiruk pikuk pesta demokrasi ini, yakni jauhnya dari suasana bahagia. Yang ada justru sebaliknya yang muncul adalah ekspresi kebencian, kemarahan, saling serang bahkan caci maki.

BNNK BONE

Tidak peduli latar belakang yang memposting-nya mulai rakyat biasa, mahasiswa, cendekiawan, politisi, tokoh agama, ormas dan lain-lain. Semua terbawa euforia sisi gelap “kemanusiaan” dari sebuah hajatan yang disebut pesta demokrasi.

Itu di dunia maya, di dunia nyata lain lagi. Masyarakat yang di daerahnya sedang mengadakan Pilkada hampir kehilangan nilai nilai silaturahmi, persatuan, persaudaraan dan sisi humanis sebagai mahluk sosial.

Ada yang sampai bertahun tahun tidak saling sapa karena berbeda pilihan dan dukungan. Bahkan fenomena pilkada 2018 ini lebih aneh lagi ajaran agama dan menjadi Nilai dari Pancasila mengenai silaturahmi dan persaudaraan menjadi barang yang langka.

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang saat ketemu saling sapa, saling salam menjadi barang yang langka. Mereka cenderung akan menghindari orang yang berbeda pilihan politik. Hal ini juga terjadi dengan para ASN, POLRI, TNI serta aparat Birokrasi lainnya.

Mereka berusaha menghindari kontestan Pilkada dan tim suksesnya untuk menghindari dampak hukum yang bisa terjadi. Ada pengalaman lucu saat seorang aparat birokrasi sementara sholat di masjid lalu tiba-tiba masuk salah satu kontestan Pilkada sholat di sebelahnya, saat sampai waktu salam aparat tersebut kaget melihat ada “calon kontestan Pilkada” di sampingnya.

Tanpa menyelesaikan salamnya, aparat tersebut terburu buru meninggalkan sholatnya. Lain lagi kejadian seorang penceramah saat menyebut “Qul huwallahu ahad” saat mengangkat jarinya harus sibuk mengklarifikasi makna jarinya saat reflek terangkat.

Efek Pilkada

Di tempat lain sebuah keluarga harus menunda acara pernikahan sampai selesai Pilkada karena takut akan ada kontestan Pilkada yang hadir. Pilkada berubah nilai dari perwujudan demokrasi untuk mewujudkan tujuan negara yaitu dari mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjadi “hanya sekedar perebutan kekuasan” dengan mengorbankan banyak nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Padahal kita sepakat bahwa demokrasi kita adalah demokrasi Pancasila, kita juga pahami Pancasila adalah sumber dari sumber hukum yang berlaku. Artinya, semua produk hukum di negara ini harus tunduk dan sejalan dengan Nilai Pancasila.

Kenapa kita tidak menjadikan pesta demokrasi ini seperti menonton sepak Bola, kita berhak berbeda dukungan, berbeda atribut saat mendukung klub kesayangan kita, namun saat klub berubah menjadi Tim Nasional maka kita melebur dengan semangat nasionalisme mendukung sepenuh hati terhadap Timnas kita dengan melupakan semua yang terjadi di kompetisi liga.

Bukankah siapa pun yang terpilih menjadi Gubernur kelak adalah Gubernur kita semua? Baik yang memilih atau yg tidak memilih. Siapa pun yang terpilih menjadi Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota seluruh masyarakat-nya baik yang suka ataupun yang tidak suka.

Yang memilih atau pun yang tidak memilih. Namun siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin mempunyai tugas dan kewajiban yang sama yaitu membawa masyarakatnya kepada tujuan negara yang di atur dalam preambule UUD 1945.

Pilkada tidaklah sekedar berbicara tentang menang kalah atau tentang kekuasaan tetapi lebih dari itu. Kalau Pilkada hanya tentang kekuasaan, maka yang terjadi adalah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Semua jalan akan ditempuh untuk mencapai kekuasaan tidak peduli seberapa salah jalan itu. Tetapi sekali lagi Pilkada adalah jalan konstitusi untuk memilih pemimpin dalam rangka mencapai tujuan negara disitu ada nilai-nilai berdasarkan Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan keadilan serta kesejahteraan.

Janganlah pesta demokrasi yang bernama Pilkada ini membuat kita menjadi manusia-manusia robot yang kehilangan sisi humanismenya, jangan membuat kita saling merusak sendi-sendi bermasyarakat dan bernegara.

Jangan karena Pilkada, membuat kita menjadi masyarakat yang pemarah, merusak silaturahmi serta melupakan nilai-nilai agama, nilai-nilai Pancasila, serta local whisdom yang selama ini telah berakar kuat.

Salam Hangat,

Dray Vibrianto
Wakil Ketua MPO Pemuda Pancasila Bone

Komentar

News Feed