Opini: Bonus Demografi dan Teknologi Masa Depan

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Jurusan MSDM. Renald Mangkaue. (Foto - Ist)

Angka pengangguran ini harus dikurangi yang berarti pula makin terbukanya lapangan kerja dan makin siapnya penduduk usia produktif untuk terserap oleh lapangan kerja yang tersedia.dengan begitu Penduduk usia produktif perlu memperoleh kemudahan akses pendidikan dan pelatihan. Sehingga keterampilan yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja.

Pemanfaatan internet juga bisa menjadi salah satu solusi penyediaan lapangan kerja. Adanya aplikasi transportasi online semacam gojek dan grab terbukti dapat membuka lapangan kerja.

Hal ini dapat dilihat dari data peningkatan jumlah pekerja per sektor selama setahun (Agustus 2016 – Agustus 2017) di mana terdapat penambahan pekerja pada sektor transportasi yang disumbangkan oleh penambahan driver transportasi berbasis online/aplikasi.

Solusi lain dalam usaha menekan angka pengangguran adalah dengan memperbanyak jumlah pengusaha.

Pembukaan usaha baru merupakan sumber pertumbuhan ekonomi baru karena menyumbang kepada pendapatan nasional atau PDB (produk domestik bruto). Dengan banyaknya penduduk usia produktif yang terserap lapangan kerja dan membuka usaha,  Dari sinilah pertumbuhan ekonomi dimulai.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa " bonus demografi ibarat pedang bermata dua yang satu sisi membawa berkah jika berhasil mengambil manfaatnya namun di sisi lain bisa menjadi bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik "  Pernyataan ini dikemukakan oleh presiden saat memperingati Hari Keluarga Nasional pada Agustus 2016 dikutip dari kompas.com. Patut disyukuri bahwa bonus demografi ini sudah disadari dan mendapatkan perhatian dari pemerintah meski diakui agak terlambat.

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Jurusan MSDM. Renald Mangkaue

Selanjutnya 1 2 3