Dilarang Gunakan Trawl, Nelayan di Sinjai Beberkan Soal Setoran ke Oknum Aparat

Ilustrasi (Int).

BONEPOS.COM, SINJAI - Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawl) rupanya menjadi kemelut bagi para nelayan di Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Nelayan menilai, penerapan larangan penggunaan Trawl dan Cantrang tersebut terkesan janggal dan kurang berpihak kepada nelayan, apalagi tidak disertai dengan solusi sehingga nelayan merugi.

Ketua Asosiasi UKM Mutiara Timur, Sulawesi Selatan, Hasidah, membenarkan hal tersebut, menurutnya, sejumlah nelayan di Sinjai, termasuk nelayan di Desa Manera, Bone meggadukan hal tersebut.

"Pertama alasan surat ijin, tapi setelah di tunjukkan lengkap, kemudian dikatakan lagi bersalah karena alat tangkapnya," kata Hasidah kepada Bonepos.com, Minggu, 11 November 2018.

Hasidah menyebutkan, sebelumnya nelayan Bone yang menggunakan alat tangkap Trawl melakukan wajib setor sebesar Rp. 250 ribu yang diduga untuk oknum anggota Polairud.

Namun lanjut Dia, setelah ditangani oleh Asosiasi, istilah wajib setor itu tidak ada lagi. Kuat dugaan kata Dia, penangkapan terhadap para nelayan ini karena tidak adanya setoran tersebut.

Terpisah, Kasat Polairud Sinjai, AKP. Armin Sukma yang dikonfirmasi, membantah soal adanya pungutan atau setoran dari nelayan ke oknum Polairud Sinjai.

"Tidak benar itu, justru info dari nelayan yang sedang diproses hukum bahwa mereka memungut Rp 5000/keranjang dari nelayan. Koperasi, entah Koperasi apa," ungkap Armin kepada Bonepos.com.

Armin membeberkan, bahwa saat ini aktivitas penangkapan ikan menggunakan Trawl menjamur di Salomekko. Menurut Dia saat ini ada 45 orang nelayan yang menggunakan sistem tangkap Trawl.

"Tercatat ada 45 orang sekarang yang menjadi nelayan Trawl, kalau dibiarkan terus begini, akan jadi apa laut kita," ujarnya.

Lanjut Armin, "Mereka ada yang melindungi yaitu Asosiasi itu. pada saat kami menegakkan hukum, maka orang yang dibalik itu semua mulai bermunculan dengan segala macam tuduhan kepada kami," ujarnya.

Penulis: Suparman Warium