Dianggap Penipuan, Diskon Harbolnas Kamuflase Semata

BONEPOS.COM - Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang berlangsung tiap 12 Desember sering menyisakan penipuan bagi konsumen. Diskon-diskon bombastis sangat menggiurkan para penggila belanja online.

Ignatius Untung, Ketua Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), mengakui memang cukup sering terjadi penipuan yang terjadi selama Harbolnas. “Ini (Harbolnas) penting, (masalahnya) terus ada kejadian-kejadian yang enggak diinginkan,” kata Ignatius 

Hong Tao, profesor ekonomi dari Beijing Technology and Business University, berpandangan negatif atas acara semacam Harbolnas, Single Day, atau Black Friday. Sebagaimana diwartakan Time, ia menyebut acara-acara demikian, orang cenderung hanya berpikir soal harga murah. Namun, rasionalitas, kualitas, dan nilai kebutuhan prioritas diabaikan.

“Orang-orang terperangkap dalam perayaan,” kata Tao.

Perayaan ini membuat konsumen tergesa-gesa untuk segera membeli barang. Semuanya hanya tertuju pada harga murah. Akibatnya, jadi korban penipuan tak bisa terelakkan. 

Barang-barang dijual dengan harga “aneh”, umumnya terpampang di toko online berkonsep marketplace, pengelola hanya sebatas perantara penjual dan pembeli. Menurut Ignatius ini terjadi karena “penjualnya menaikkan harga barang-barangnya sendiri” tanpa bisa dikendalikan oleh pengelola.

“Barang yang dijual banyak sekali, jutaan. (Pengelola) enggak bisa mengontrol,” kilahnya.

Evi Andarini,Corporate Communication Manager Bukalapak, mengataka di platfomnya “tidak ada diskon-diskon bodong.” Ia menegaskan bila ditemukan, pihaknya akan melakukan investigasi dan berkoordinasi dengan tim legal untuk memastikan tidak ada manipulasi harga atau penipuan lainnya.

Bagaimana bila konsumen tertipu?

Penipuan yang bisa terjadi saat belanja online antara lain diskon yang tak sesuai atau abal-abal alias manipulasi harga, produk palsu, barang tak dikirim dan sebagainya. Ignatius menegaskan tak ada jaminan bagi e-commerce mengganti rugi terhadap pembeli dalam Harbolnas. Menurutnya, kata kunci yang paling penting adalah kehati-hatian konsumen, termasuk menelaah besaran diskon yang ditawarkan penjual.

“Kalau diskon sampai 50 persen (itu kemungkinan) penggelembungan harga. Diskon 5 sampai 10 persen masih oke,” kata Ignatius.

Namun, bila konsumen sudah telanjur tertipu, maka yang bisa dilakukan adalah melapor ke toko online atau e-commerce bersangkutan. Dalam konteks pembeli yang merasa tertipu oleh manipulasi harga oleh penjual di Bukalapak, pihaknya bersedia membantu untuk proses mediasi antara pembeli dan penjual.

“Kita biasanya akan lakukan investigasi dan bekerjasama dengan pihak legal, untuk memastikan tidak ada manipulasi harga. jadi kalau memang terbukti ada yang melakukan hal tersebut, kami akan berupaya untuk fasilitasi untuk proses mediasi sampai pemberian solusi terbaik pada konsumen," kata Evi Andarini menjawab secara normatif.

Namun, bila di tingkat penyelenggara e-commerce belum terselesaikan, maka pembeli bisa meneruskannya ke idEA. Jika benar penipuan terjadi, satu-satunya hukuman yang diberikan idEA kepada anggotanya adalah permintaan maaf secara terbuka kepada konsumen. Pada 2015, CEO Lazada Indonesia sempat meminta maaf karena platformnya kedapatan meloloskan penjual yang menjual produk dengan diskon abal-abal.

“Dari sisi brand, permintaan maaf itu mahal,” tegas Ignatius.

Pada intinya penyelenggara e-commerce tak berbuat banyak dan tak bisa memberikan jaminan lebih, bagi konsumen yang kecele karena tak jeli atau gegabah hingga tertipu diskon palsu saat bertransaksi di ajang seperti Harbolnas. Padahal konsumen adalah nyawa bagi bisnis e-commerce. Festival belanja seperti Harbolnas bisa memacu pertumbuhan transaksi pada e-commerce.

Statista memperkirakan nilai penjualan e-commerce di Indonesia bakal berada di angka $8,5 miliar pada 2018. Nilainya ditaksir akan meningkat menjadi $10,3 miliar pada 2019. Pada 2022, total nilai penjualan e-commerce Indonesia akan ada di angka $16,4 triliun. Sedangkan average revenue per user (ARPU) atau rata-rata pendapatan yang disumbang konsumen e-commerce bagi toko online sebesar $89,15 atau sekitar Rp1,3 jutaan.

Namun, bagi penyelenggara e-commerce, festival semacam Harbolnas jadi sarana meningkatkan pendapatan semata. Khusus tahun ini, ada 300 tokoonline berpartisipasi dalam Harbolnas. Namun, Tokopedia sebagai nama besare-commerce di Indonesia yang tak ikut festival Harbolnas. Priscilla Anais, Head of Corporate Communications Tokopedia, menyebut bahwa Tokopedia menggantinya mereka dengan merilis acara "Kejutan Belanja Untung" yang sudah berlangsung awal Desember sebelum gelaran Harbolnas.

E-commerce lain yang ikut serta Harbolnas seperti JD.id menghadirkan acara bertajuk “JDOR! 12.12”. Dalam acara itu, mereka menghadirkan promo-promo seperti Flash Sale12.12, Mystery Box, Serba 12,Purchase with PurchaseBuy 1 Get 1 FREE, dan Surprise 12.12. Bukalapak merilis acara berjudul “AFTER .11 Harbolnasnya Bukalapak Promo Tiada Ampun!.” Dalam acara itu, Bukalapak menghadirkan Nego 12 Kali Lebih Dahsyat, Flash Deal Serba 12 Rupiah, Cashback Rp 1.2 Juta, dan Gratis Ongkir 12 Kali Setiap Hari.

Dari segala macam program yang ditawarkan oleh penyelenggara e-commerce tentu saja tujuan akhirnya untuk menarik konsumen untuk berbelanja termasuk pada gelaran Harbolnas. Namun, penyelenggara e-commerce seringkali lupa bahwa konsumen pun harus tetap dilindungi dan tak cukup meminta mereka hanya sebatas waspada saat dijejali dengan ragam tawaran diskon yang menggiurkan.

Nur Atika Partiwi