Angkat Suara, Ifan Seventeen Kritisi BMKG Buat Apa?

BONEPOS.COM - Pelantun lagu magis "Kemarin", Riefian Fajarsyah atau Ifan 'Seventeen' menjadi salah satu korban selamat bencana tsunami Selat Sunda, Sabtu 22 Desember 2018.

Kendati selamat dari persitiwa tersebut, namu Ifan harus kehilangan istri beserta 3 rekan personel Seventeen.

Dari kejadian yang telah berlalu itu, Ifan pun mengkritisi kinerja Badan Metorologi, Klimatologi dam Geofisika (BMKG). Pria 35 tahun itu menyayangkan bahwa BMKG tak memberikan peringatan sebelum bencana alam berlangsung.

Tak hanya itu, menurut Ifan apa yang diumumkan BMKG setelah bencana masih simpang siur. Hal itu melihat dari pernyataan BMKG yang mengatakan bahwa apa yang terjadi di Anyer bukanlah tsunami, melainkan ombak besar.

"Kali ini aku mau ngomong buat apa ada BMKG kalau pemberitahuan setelah bencana saja salah, buat apa," ujar Ifan saat wawancara via telepon dengan salah satu stasiun televisi, Jumat 28 Desember 2018.

"Maksudku gini loh, BMKG itu badan yang dibangun untuk memperingatkan masyarakat terhadap tanda-tanda adanya bencana, kan begitu?," tambahnya.

Vokalis band Seventeen itu pun merasa jika informasi dikeluarkan setelah bencana terjadi tak telalu berarti. Hal tersebut lantaran masyarakat yang tengah berada di area bencana tak dapat berwaspada.

"Kalau informasinya dikeluarkan setelah adanya bencana ini kan berarti useless. Tapi kalau informasinya dikeluarkan setelah bencana ternyata salah aku juga nggak ngerti lagi," sambungnya.

Iapun meluruskan bahwa kritikannya ini tak hanya berlaku pada bencana yang dia alami. Ifan berharap agar kedepannya tak ada orang lain yang merasakan hal sama dengan dirinya.

"Maksudku gini apa yang kusampaikan ini seenggak-enggaknya mungkin berguna, karena aku nggak pengen saudara-saudaraku merasakan apa yang aku rasain sekarang," pungkasnya.

Editor : Nur Atika Pratiwi