Opini: Menguji Komitmen Caleg

Ahmad Yani (Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Penelitian Nusantara)

Menguji Komitmen Caleg, Pernahkah disaat kita melihat baliho para caleg, atau disaat kita menerima pembagian kalender gratis, atau disaat kita menemukan caleg sedang memaparkan visi dan program kerjanya, kita merenungkan atau setidaknya mempertanyakan komitmen mereka dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat? Atau pernahkah disaat melihat postingan gambar kampanye caleg di media sosial, kita secara sadar memberikan komentar dan mempertanyakan komitmen mereka sebelum kita memberikan dukungan?

Jika jawabannya adalah “iya” maka kita tergolong pemilih yang cerdas dan selektif. Akan tetapi, jika jawabannya adalah “tidak” maka kita masih perlu untuk lebih selektif dan menggunakan nalar dalam memberikan legitimasi atau dukungan kepada caleg.

Menjadi pemilih yang cerdas dan selektif maka pemilih wajib menguji komitmen caleg. Meskipun tidak tersedia acara debat bagi caleg sebagai media untuk menguji komitmen caleg layaknya pemilihan Capres dan Cawapres atau calon kepala daerah dan walikota, akan tetapi pengujian komitmen caleg harus tetap dilakukan oleh masyarakat agar para wakil rakyat yang terpilih di parlemen memiliki kualitas dan kapasitas dalam memperjuangkan aspirasi rakyat lewat produk hukum dan kebijakan yang dibuatnya.

Untuk menguji komitmen caleg, masyarakat harus mengamati dan menganalisa setiap visi dan program kerja yang ditawarkan oleh caleg. Apakah visi dan program kerja tersebut telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau tidak.

Apakah visi dan program kerja yang ditawarkan memiliki relevansi dengan rencana pembangunan jangka pendek dan menengah yang telah digariskan oleh daerah masing-masing. Apakah visi dan program kerja tersebut dapat berpihak kepada masyarakat ekonomi rendah, para penyandang disabilitas, anak jalanan, para petani, buruh, nelayan, perlindungan lingkungan hidup dan dapat meningkatkan akhlak dan budi pekerti di suatu daerah. Pendeknya apakah visi dan program tersebut memuat kepekaan sosial, ekonomi, budaya, dan agama.

Setelah menguji visi dan program kerja caleg, maka masyarakat harus kritis terhadap berbagai macam perilaku (etika) caleg saat melakukan kampanye. Misalnya, etika dalam pemasangan atribut kampanye seperti baliho yang tidak boleh dipasang pada tanaman (pohon) di jalan raya.

Jika kita menemukan adanya pemasangan atribut secara menyeluruh pada tanaman (pohon) di jalan raya, maka hal kecil ini memperlihatkan bahwa caleg tersebut tidak beretika dalam hal berkampanye dan tidak menutup kemungkinan dari hal kecil ini mengindikasikan bahwa mereka juga kurang beretika saat diberikan kekuasaan.

Maka dari itu, masyarakat perlu mengeliminasi tipe caleg yang demikian. Begitupula halnya dengan perilaku caleg saat kampanye, seperti modifikasi kendaraan pribadi roda empat menjadi mobil sosial, mobil bantuan umum, bahkan mobil ambulance yang dioperasikan secara gratis.

Hal itu tidak salah, akan tetapi perlu diuji apakah komitmen tersebut dalam memberikan pelayanan kepada publik memang telah menjadi ciri khas dari caleg sebelum dia mencalonkan diri. Ataukah hanya sebatas karena kepentingan pemilihan semata. Jika komitmen dalam memberikan pelayanan kepada publik hanya kepentingan pemilihan semata, maka masyarakat harus berpikir dua kali untuk memberikan hak suaranya.

Perilaku berikutnya, biasanya mendekati pemilihan telah banyak caleg yang menyambangi kediaman warga untuk menjalin hubungan keakraban, atau bahkan ada caleg yang membagikan sumbangan terhadap pengerjaan tempat-tempat umum, pemberian sembako para korban bencana alam, dan pemberian bantuan kepada masyarakat ekonomi rendah.

Dari perilaku ini, seharusnya masyarakat tidak lata dan langsung menaruh simpati terhadap caleg tersebut, karena hal inipun perlu diuji. Apakah benar caleg yang bersangkutan sebelum mencalonkan diri, memang telah memiliki sikap sosial yang tinggi dan dekat dengan masyarakat. Apakah benar caleg tersebut, sebelum mencalonkan diri telah memiliki kepekaan dan kepedulian sosial kepada masyarakat. Jangan sampai sikap kepedulian dan kepekaan sosial memiliki masa tenggang dan hanya berlaku pada saat kampanye.

Juga biasanya dalam baliho kampanye caleg terdapat kata-kata semantik yang ingin menunjukkan kepribadian caleg tersebut. Misalnya kata-kata, pasti amanah,/ sudah saatnya kerja keras untuk rakyat,/ bertannggungjawab,/ memiliki dedikasi yang tinggi, dsb.

Walaupun ini hanya sebatas kata-kata hiasan dan sangat jarang dipedulikan, namun bagi caleg yang benar-benar memiliki kualitas diri akan mempertimbangkan kata demi kata yang digunakan dalam atribut kampanyenya. Maka dari itu juga penting untuk menilai kepribadian caleg lewat kata-kata hiasan yang sering digunakan dalam atribut kampanye.

Misalnya kata hiasan pasti amanah. Masyarakat perlu menguji apakah benar yang bersangkutan memiliki sikap amanah dan tidak pernah mencuri uang rakyat. Apakah penggunaan kata saatnya kerja keras untuk rakyat telah sesuai dengan kepribadian caleg bersangkutan yang memang pekerja keras. Dan apakah penggunaan kata bertanggungjawab telah menggambarkan bahwa caleg yang bersangkutan telah bertanggungjawab dalam menjalankan tugas dan kewajibannya yang pernah diembang.

Hal tersebut sangat penting untuk kita analisis dengan melihat rekam jejak setiap caleg sebelum memutuskan dukungan. Sebab, menguji komitmen caleg bertujuan agar setiap visi dan program kerja yang ditawarkan, agar perilaku terbaik mereka saat kampanye, dan agar kepribadian khas mereka dilaksanakan secara konsisten setelah mereka terpilih menjadi wakil rakyat (bukan hanya pada masa kampanye). Sehingga tujuan hakiki dari pelaksanaan konstestasi pemilihan caleg dapat tercapai sebagai alat perjuangan kekuasaan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

Desa Waji Kec. Tellusiattinge, 09/01/2019

Ahmad Yani
(Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Penelitian Nusantara)