Jokowi dan Dekonstruksi Citra Politik Pasca Debat Pilpres

BONEPOS.COM - Memasuki panasnya tahun politik 2019, Jokowi kini bersanding dengan Maaruf Amin berhadapan dengan Prabowo dan Sandiaga Uno untuk meraih kursi tertinggi di Republik Indonesia. Jokowi sebagai petahana dikenal memiliki citra pemimpin merakyat, sederhana, pekerja keras dan jujur. Hal tersebut yang kemudian mengantarkan Jokowi memenangkan Pilpres 2014.

Sepanjang kekuasaannya, masyarakat Indonesia diperlihatkan bagaimana Jokowi dalam berbagai tampilan media mainstream yang dikonstruksi sebagai sosok pekerja dengan karakter sederhana. Citranya dislogankan dalam frase “Kerja, kerja, kerja”. Frase kerjanya diperlihatkan dengan mega proyek pembangunan infrastruktur dan berbagai kegiatan kunjungan langsung yang dikenal dengan “blusukan”.

Tak hanya itu, kini citra Jokowipun mulai bertambah. Ia dikenal sebagai Presiden dengan rasa milenial yang gaul. Perilaku politik tersebut tampak ketika Jokowi ikut menonton film Dilan, mengikuti touring coupper, tampil pada Pesta Olahraga Asian Games mengendarai Moge lengkap dengan jaket kulit, hingga turut peduli pada cita generasi muda.

Namun dalam kontestasi Pilpres 2019 ini, ada realita yang berbeda dengan 5 tahun silam. Pasalnya pasca tayangan debat Paslon Capres dan Cawapres yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada (17/01/2019) menggiring paradigma yang mempertanyakan elektabilitas Calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut.

Pasca debat pertama upaya degradasi dan dekonstruksi citra politik Jokowi kian mencuat. Banyak oknum yang dianggap andil agar Jokowi tidak maju dua periode. Hal tandingan Jokowi muncul dalam hastag #2019GantiPresiden. Tagar itu kemudian viral diberbagai media sosial, media massa, kaos, topi, gantungan kunci bahkan stiker.

Citra politik Jokowi sebagai sosok pemimpin sederhana, humble dan dekat dengan rakyat tergerus. Upaya dekonstruksi tersebut dinilai berhasil menggiring opini masyarakat bahwasanya Jokowi dinilai kurang berkompetensi dan berwibawa sebagai Presiden.

Makna yang direfleksikan dalam gerakan hastag #2019GantiPresiden yang viral inipun kian menguap seiring dengan situasi, perasaan, persepsi dan sikap masyarakat terhadap Kubu Prabowo - Sandi.

Pada saat yang sama Kubu Jokowi - Amin secara simultan dan kontinu harus mampu menghadirkan fakta dan data bahwa tidak ada kesenjangan antara citra politik Jokowi dengan pencapaian kinerjanya sebagai Presiden. Agar pada Pilpres 2019 tidak menjadi pertarungan antara Jokowi dan citranya sendiri.

Pada akhirnya, fenomena kontemporer politik Indonesia saat ini memang tidak bisa lepas dari peran media sosial. Media sosial dinilai sebagai kampanye bebas yang mudah dikelola dalam menyebarluaskan informasi politik. Kemudahan dan kebebasan akses warganet dalam kanal tersebut menjadikan media sosial memiliki kedudukan penting sebagai saluran politik.

Tak kalah heboh, keberadaan media sosial juga menjadi ajang perebutan dan petarungan pesan-pesan politik yang melekat didalamnya upaya untuk mengkonstruksi dan mendekonstruksi citra pelaku politik dan partai tertentu.

Penulis : Ivan Taufiq, S.I.Kom
Editor : Nur Atika Pratiwi