OPINI: Refleksi 72 Tahun HMI

Iwan Taruna

Refleksi 72 Tahun HMI. Himpunan Mahasiswa Islam yang didirikan oleh Ayahanda Lafran Pane beserta 14 pendiri lainnya pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan pada tanggal 5 Februari 1947, dua tahun setelah Indonesia Merdeka.

Latar belakang pemikiran dari seorang Lafran Pane untuk mendirikan HMI saat itu adalah saat itu jika dilihat kehidupan mahasiswa yang beragama islam ternyata masih belum paham dan mengamalkan ajaran agama islam.

Hal ini disebabkan karena sistem pendidikan yang ada dan kondisi masyarakat saat itu yang banyak terkena pengaruh aliran sosialis hingga komunis. Sehingga dianggap perlu mendirikan Organisasi Mahasiswa yang mengandung nilai – nilai Keislaman.

Pada umumnya Organisasi mahasiswa memang harus memiliki kemampuan untuk mengikuti ide mahasiswa yang menginginkan inovasi dalam berbagai bidang, salah satunya yaitu pemahaman dan penghayatan akan ajaran agama islam saat itu.

Melalui latar belakang yang suci, Ayahanda Lafran Pane bersama 14 pendiri lainnya berhasil mengantarkan HMI menjadi organisasi kemahasiswaan yang melahirkan banyak pemimpin bangsa. Tidak hanya itu, HMI juga merupakan salah satu organisasi tertua dan terbesar yang masih eksis ditengah pergolakan zaman yang ada sampai saat ini.

Sebagai organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam kini memasuki usia yang terbilang tidak muda lagi. Tentunya, sejak berdirinya 5 Februari 1947 yang lalu, HMI telah melalui banyak rintangan serta hambatan, namun melalui dinamika yang dihadapinya membuatnya semakin besar.

HMI juga telah banyak berkontribusi terhadap kemajuan bangsa Indonesia, itu terbukti melalui banyaknya Alumni-alumni HMI yang berkiprah di Pemerintahan, keterlibatan HMI juga tercatat dalam sejarah pada era Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orba yang dianggap sudah tidak sesuai koridor.

Wajar saja ketika Jenderal Sudirman dalam pidatonya didepan mahasiswa Yogyakarta pada momentum peringatan Milad HMI yang pertama pada tahun 1948 “HMI tidak hanya sekedar Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia”.

Sebut saja Nur Cholis Madjid, Munir, Mahfud MD, Yusuf Kalla, Anies Baswedan dan masih banyak lagi yang terlahir dari rahim HMI. Diibaratkan HMI merupakan mesin pencetak kader harapan bangsa yang terus memproduksi kader-kader yang memiliki potensi sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.

Kini, HMI memasuki usia 72 Tahun, tentunya problematika dan dinamika kebangsaan, hingga dinamika organisasi secara internal telah banyak dilalui oleh HMI. Namun, bukan hal itu yang membuat semangat juang kader-kader HMI menjadi surut, bahkan menjadi semangat juang untuk terus melakukan proses kaderisasi, terus berkiprah, berkontribusi demi cita-cita yang mulia yakni kepentingan Ummat dan Bangsa dengan semangat Keislaman dan Keindonesiaan.

Seperti kata orang bijak “Semakin tinggi pohon itu tumbuh, maka semakin besar angin yang akan menerpanya”, begitulah yang dihadapi HMI saat ini, hampir setiap saatnya problematika yang diperhadapkan HMI, namun tidak membuat eksistensi HMI berkurang.

Ketika melihat situasi kondisi HMI saat ini, sehingga tidak sedikit kader HMI yang merasa pesimis akan keberlangsungan organisasi tertua ini dalam eksistensinya sebagai mesin pencetak yang terus mendistribusikan kader pemimpin bangsa di masa depan.

Kisruh akhir-akhir ini secara terang-terangan menampilkan bahwa HMI sering disusupi dengan isu dualisme yang sarat akan politisasi kekuasaan. Namun, sebagian kader juga masih optimis bahwa HMI akan terus ada dan berkembang, selama proses kaderisasi HMI tidak tersentuh dengan politisasi, maka eksistensi HMI tidak akan pudar.

Selamat Milad Himpunanku, Himpunan Mahasiswa Islam, yang telah memberiku jalan, jalan sebagai seorang pejuang, semoga engkau terus melahirkan kader militan terhadap organisasi serta masyarakat Indonesia.

Watampone, 5 Februari 2019
Iwan Taruna