Gara-gara Sengketa Tanah, Pria 60 Tahun di Bone Tewas Diparangi

BONEPOS.COM, BONE - Gara-gara sengketa tanah, Emmang 60 tahun, seorang pria paruh baya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tewas diparangi.

Informasi yang dihimpun Bonepos.com, peristiwa tersebut terjadi di Desa Otting, Kecamatan Tellu Siattinge, Bone, Jumat 15 Februari 2019 kemarin.

Kapolsek Tellu Siattinge, Iptu Syarifuddin mengatakan, peristiwa itu berawal saat pelaku yakni Syahrir bersama anaknya Wawan Saputra sedang memagari tanah yang diduga bersengketa itu.

Saat bersamaan ungkap Syarifuddin, tiba-tiba korban bersama Mappa dan juga istrinya datang menegur pelaku. Saat itu korban langsung memarahi pelaku sehingga terjadi adu mulut.

"Korban lalu mengejar pelaku sambil melempari batu secara berulang kali sehingga mengenai bagian punggung belakangnya," ungkap Syarifuddin.

Melihat ayahnya diserang, Wawan pun melakukan perlawanan, dimana Dia memukul korban Emmang pada bagian punggungnya dengan menggunakan linggis.

"Saat dipukul, Emmang kembali melakukan perlawanan sambil mencabut badik yang diselipkan di pinggangnya. Namun Syahrir langsung memarangi Emmang pada bagian leher belakang," jelasnya.

Melihat kejadian itu, Mappa rekan korban lalu membantu Emmang, dimana dia langsung memarangi Wawan, namun berhasil ditangkis, dan Wawan pun juga menyerang Mappa dengan menggunakan linggis.

"Akibat kejadian itu, Emmang yang mengalami luka terbuka pada leher bagian kanan, luka terbuka pada punggung belakang sebelah kanan dan meninggal dunia di tempat kejadian," ungkap Syarifuddin.

Sementara itu, pelaku yakni Syarir mengalami luka luka terbuka pada punggung tangan sebelah kirinya, sedangkan anaknya yakni Wawan mengalami luka terbuka pada jidat dan lengan kiri.

"Usai menganiaya korban, kedua pelaku kemudian melarikan diri, namun keduanya berhasil diamankan berikut barang bukti berupa badik dan parang," tegas Syarifuddin.

Lanjut Syarifuddin, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua pelaku kini sudah diamankan di Mapolsek Tellu Siattinge guna menjalani proses lebih lanjut.

Ahmad Kaisar