Hoax Sebagai Common Enemy di Pemilu 2019

BONEPOS.COM - Akhir-akhir ini berita yang mengandung hoax semakin maraknya muncul dan berkembang di kalangan masyarakat dan sangat sering dikonsumsi oleh publik. Fenomena berita hoax ini juga secara nyata terlihat pada momentum pemilu di tahun 2019 yang pemilihannya berjalan secara serentak antara Pilpres dan Pileg.

Hoax merupakan berita yang mengandung kebohongan dan tidak ada satupun unsur kebenarannya. Hoax dibuat dengan tujuan untuk kejahatan. Dalam Oxford English Dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.

Sedangkan menurut beberapa ahli, Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefiniskan fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Hoaks bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Data dan Fakta
Memasuki momentum politik pemilu 2019 di mana momentum ini adalah semua macam informasi harus tersampaikan kepada publik. Sehingga memberikan kelonggaran dan ada banyak ruang untuk berbagai macam informasi bisa muncul di masyarakat termasuk juga berita yang disebut dengan hoax ini.

Ruang yang dimaksud itu salah satunya adalah Media Sosial yang menjadi sarana yang pas untuk penyebaran hoax. Menurut Dayanto (Koran Sindo, 22/09/18) dengan demikian media sosial menjadi arena yang subur dan terbuka bagi beroperasinya informasi hoaks.

Tercatat sebanyak 62 konten hoax terkait Pemilu 2019 diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) selama Agustus-Desember 2018. Hoax paling banyak teridentifikasi pada Desember 2018 dengan rincian, bulan Agustus 11 konten, bulan September 8 konten, bulan Oktober 12 konten, bulan November 13 konten dan puncaknya pada bulan Desember yakni 16 konten. (Sumber: detikNews).

Bahaya Hoax
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat ternyata juga membawa dampak buruk terhadap proses berjalannya demokrasi di Indonesia. Tentu hal ini disebabkan oleh semakin maraknya berita hoax dengan berbagai macam dampaknya, dan dampak itu akan terasa sangat berbahaya.

Kehadiran berita hoax dalam proses pemilu 2019 ini bagi saya adalah bagaikan sebuah racun yang sangat mematikan terhadap jalannya pesta demokrasi ini. Bahaya hoax berpotensi muncul dalam momentum politik yang juga dikenal dengan momentum paling sensitif ini adalah, timbul konflik sesama kita, ancaman terhadap keberagaman, kejahatan semakin berkembang secara masif melalui media sosial, publik atau pengguna media sosial (netizens) di adu dombakan dengan isu-isu yang provokatif yang dapat memecah belah.

Wujudkan Pemilu Cerdas
Sebaik apapun kebohongan pasti kebenaran akan mengalahkannya, dia (baca: kebohongan) harus menjadi musuh bersama (common enemy) untuk dilawan.

Hoax pada prinsipnya adalah sebuah kejahatan. Oleh sebab itu berita hoax harus di lawan secara baik dan mantap demi terwujudnya pemilu yang damai, berkualitas, serta dapat mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Hal ini dapat ditunaikan dengan langkah. Pertama, peran media dalam menyampaikan informasi haruslah jujur, terbuka dan adil. Kedua, pendidikan politik harus dibuat dan diberikan untuk masyarakat secara luas.

Ketiga, publik atau pengguna media sosial (netizens) harus cerdas, bijak, dan kritis mengkonsumsi dan menganalisa sebuah informasi. Keempat, tetap menjadikan pemilu sebagai ruang untuk adu gagasan dalam melihat masa depan Indonesia, bukan sebagai momentum adu informasi bohong (hoax).

Kalau langkah-langkah ini telah dilakukan maka apa yang menjadi harapan di atas dapat terwujud dengan baik. Terakhir, demokrasi memberikan kita kebebasan sebagai warga negara dan kebebasan itu perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Nardi Maruapey