Hindari, Jam-jam Inilah Akses Internet 4G di Indonesia Jadi Lelet

BONEPOS.COM, Sebuah perusahaan periset jangkauan internet asal Inggris, OpenSignal, merilis temuan terbaru tentang kecepatan internet 4G yang mencakup 77 negara, termasuk Indonesia.

Salah satu hasil risetnya mengungkap jam-jam tersibuk internet yang membuat lelet.

Di Indonesia, pukul 21.00 menjadi jam paling lelet untuk mengakses internet. Kecepatan internet di Indonesia pada jam tersebut hanya mencapai 5,7 Mbps.

Beda tipis dengan Thailand, kecepatan terendah saat jam internet sibuk di sana mencapai 6,0 Mbps.

Petang memang menjadi jam-jam tingginya permintaan akses internet secara global.

OpenSignal mencatat, pukul 21.00 hingga 23.00 di masing-masing negara menjadi waktu terlamban untuk akses internet. Yaitu rata-rata kecepatannya berada di angka 8,6 Mbps.

Hal itu dikarenakan banyak orang-orang mengakses konten hiburan seperti video untuk melepas penat setelah bekerja di pagi hingga sore hari.

Alhasil, terjadi ketimpangan antara tingginya permintaan internet dan lemahnya kecepatan internet.

Tak hanya waktu-waktu terlelet, OpenSignal juga mengungkap waktu di mana akses internet sedang tinggi-tingginya.

Secara global, jam 03.00 pagi menjadi waktu dengan kecepatan akses internet tertinggi dengan kecepatan internet 22,1 Mbps.

Kecepatannya bisa berbeda-beda di setiap negara. Indonesia sendiri bisa mencapai kecepatan internet 4G maksimal di angka 18,5 Mbps.

Untuk peringkat rata-rata kecepatan internet, Indonesia menduduki posisi 72 dari 77 negara yang terlibat dalam riset ini.

Indonesia berada di bawah Filipina yang memiliki rata-rata kecepatan 4G 9,4 Mbps dan kecepatan maksimum 19 Mbps.

Sementara Thailand menjadi negara dengan kecepatan internet terlambat dengan kecepatan internet 4G rata-rata 8,2 Mbps dan maksimum hanya mencapai 11,7 Mbps.

Korea Selatan dan Singapura menjadi dua negara yang memiliki kecepatan internet 4G tertinggi.

Secara berurutan, rata-rata kecepatan tertinggi kedua negara itu adalah 47,1 Mbps 45,4 Mbps.

Sedangkan Indonesia dan sebagian besar negara di Asia Tenggara lainnya masih berusaha mencapai angka dua digit untuk rata-rata kecepatan internet.

Editor : Nur Atika Pratiwi