Injury Time, Tiga Tokoh Ini Merapat ke Prabowo-Sandi

BONEPOS.COM, JAKARTA - Menjelang masa akhir kampanye, alias Injury Time, sejumlah tokoh dan ulama Nasional mulai terang-terangan merapat ke kubu Capres dan Cawapres Pabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi)

Bergabung sejumlah tokoh ini disebut-sebut bakal mendongkrak elektabilitas pasangan Capres-Cawapres 02 pada 17 April nanti.

Sebelumnya, ulama Nasional yakni Mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama), Ustaz Bachtiar Nasir, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap capres 02 Prabowo-Sandi

"Mari bersama-sama dengan Garuda Pancasila ini saya tegaskan saya Bachtiar Nasir yakin bersama Prabowo-Sandi kita akan berdaulat bersama Pancasila kita," kata Bachtiar di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin 1 April 2019 lalu.

Berikut Tiga Tokoh dan Ulama Nasional Nyatakan Dukungan ke Prabowo-Sandi :

1.Ustaz Abdul Somad

Kemudian yang kedua adalah Ustaz Abdul Somad (UAS). UAS mengadakan pertemuan dengan Prabowo tepatnya pada, Kamis, 11 April 2019 kemarin.

Di hadapan Ketua Umum Gerindra itu, UAS mengungkapkan pesan dari para ulama yang ia temui, dimana semuanya menyuarakan nama Prabowo.

"Jadi saya berpikir lama, kalau ini saya diamkan sampai pilpres, kenapa mereka cerita kepada saya, tiap malam saya berpikir," jelas UAS.

UAS menjelaskan bahwa ungkapan dari ulama yang ditemuinya itu menunjukkan pertanda dari Tuhan.

"Kalau mimpi satu kali boleh dari setan, tapi kalau lima kali mimpi dia lihat bapak, sinyal dari Alah," tandas UAS.

Diakhir pertemuannya itu, UAS menghadiahi Prabowo dengan minyak wangi dan tasbih kesayangannya sambari berharap tasbih itu digunakan Prabowo untuk berdzikir.

2. Dahlan Iskan

Kemudian yang ketiga adalah, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dimana bos Jawa Pos Grup ini menyatakan dukungannya kepada pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.

Hal itu ia disampaikan Dahlan Iskan saat mengawali acara pidato kebangsaan Prabowo Subianto di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, Jumat 12 April 2019 siang tadi.

"Hari ini saya menjatuhkan pilihan kepada Pak Prabowo," ujar Dahlan.

Dahlan Iskan mengatakan, alasannya memilih Prabowo-Sandi karena dirinya merasa tak puas dengan kinerja Presiden saat ini yang kembali mencalonkan diri, Joko Widodo.

Tidak hanya itu, Dahlan pun membeberkan sejumlah alasannya, dimana Dia mengaku pada pemilu 2014 lalu, Dia memang sempat mendukung Jokowi.

"Lima tahun yang lalu, saya mendeklarasikan besar-besaran mendukung Pak Jokowi. Saat itu, saya berharap banyak, Pak Jokowi memiliki program Revolusi Mental," kata Dahlan Iskan.

Selain program revolusi mental, Dahlan juga cukup optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi di bawah pemerintahan Jokowi bisa melambung tinggi, namun hal itu tidak sesuai dengan harapannya.

3.  Gatot Nurmantyo

Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo, juga disebut-sebut telah resmi bergabung di kubu Prabowo-Sandi. Hal ini ditandai dengan hadirnya Gatot dalam acara pidato kebangsaan Prabowo di Surabaya.

Gatot sendiri tiba di tempat acara sekitar pukul 15.46 WIB. Saat itu Prabowo tengah membacakan tokoh-tokoh yang telah membantunya dalam beberapa bulan terakhir terkait pencalonannya di Pilpres 2019.

Prabowo pun sempat menghentikan pidatonya dan mempersilakan Gatot naik ke atas panggung. Gatot sempat memberikan hormat ke Prabowo, kemudian mereka saling memberi salam dan berpelukan.

Tanggapan Pengamat

Sementara itu, Pendiri lembaga survei Kedai Kopi, Hendri Satrio, mengibaratkan, penyelenggaraan Pemilu 2019 yang kurang dari satu pekan seperti injury time pada olahraga sepak bola.

Dikutip dari laman republika.co.id, Hendri mengatakan, bahwa pada injury time, gol-gol cantik ataupun blunder-blunder fatal dapat terjadi.

"Makanya di injury time ini jangan sampai bikin blunder yang bikin kacau," kata Hendri di Jakarta Selatan, Kamis 11 April kemarin.

Hendri menuturkan, bahwa saat ini lebih banyak yang menunggu kekalahan Joko Widodo ketimbang menunggu kemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

"Saat ini kondisi di Indonesia yang ingin Jokowi diganti lebih banyak daripada yang menunggu Prabowo menang. Hasil akan sama, tetapi prosesnya beda," ujar Hendri.

Hendri menilai sekarang ini ada pemilih yang merahasiakan pilihannya atau silence voters. Dimana pemilih dengan kategori tersebut tidak ingin orang lain mengetahui pilihannya sehingga bisa saja dia mengatakan hal yang bukan sebenarnya.

Karena itu, ia menambahkan, tidak mudah untuk memprediksi arah dukungan silence voters. Dia menyebutkan lebih mudah memprediksi arah dukungan para pemilih yang belum menentukan pilihan atau pemilih mengambang lebih mudah ketimbang pemilih yang merahasiakan pilihannya.

"Silence voters sulit dibaca daripada undecided voters sama swing voters. Kalau silence, everybody is lying. Dia tidak ingin ketahuan pilihannya ada," katanya.