OPINI: Bulan Maaf-memaafkan

Pernak-pernik nuansa Islami turut andil dalam prosesi penyambutan bulan yang penuh pengampunan, Bulan Suci Ramadhan, oleh kaum muslimin dan muslimat. Semuanya mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut bulan yang penuh keberkahan, bulan Ramadahan merupakan Syahrul Quran (Bulan Al-Quran).

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al- Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”. (QS. Al-Baqarah: 185). Ungkapan maaf-memaafkan dan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan menjadi salah satu karakteristik bulan ramadhan jika dilirik dari pandangan kebanyakan orang.

Yang sering luput dari dalam diri yakni mencoba men-tadaburi dan hadap diri atas apa yang pernah dilakukan atau dengan kata lain segala bentuk kesalahan yang pernah dilakukan jauh hari sebelum tiba pada bulan yang penuh pengampunan ini sehingga bulan ramadhan dijadikan sebagai wadah untuk berkomitmen dalam menjalankan kebenaran dan menjauhi kebatilan dengan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk utama di kemudian hari atau pasca bulan ramadhan.

Hal yang perlu digaris-bawahi secara bersama adalah membaca Al-Quran bukan hanya sekedar membaca ayat demi ayat di setiap surah dalam Al-Quran yang dilengkapi dengan lantunan suara yang merdu melainkan membaca dan men-tadaburinya dengan keimanan dan keilmuan untuk kemudian diamalkan di dalam kehidupan umat manusia.

Melirik secara generik, ucapan “Mohon Maaf Lahir & Batin” yang selalu mewarnai bulan ramadhan merupakan sebuah habitus yang terbangun secara turun temurun sehingga dikategorikan sebagai bentuk ungkapan yang diperuntukkan seolah-olah hanya untuk bulan ramadhan saja namun pada dasarnya ungkapan maaf-memaafkan merupakan sebuah keharusan untuk dilakukan setiap harinya jikalau melakukan sebuah bentuk kesalahan.

Bagi kebanyakan orang (awam), ungkapan tersebut merupakan sebuah ungkapan yang hanya berlaku pada bulan ramadhan dan di lain sisi pada kenyataannya bahwa ungkapan tersebut jarang atau bahkan tidak pernah diucapkan di hari-hari lain.

Meskipun kalimat “Mohon Maaf Lahir & Batin”, yang sering diucapkan pada bulan ramadhan yang biasanya didahului dengan kalimat “Minal Aidin Wal Faidzin”, tidak memiliki aturan yang mengikat yang hanya bisa diucapkan pada bulan ramadhan namun karena adanya pola penciptaan sebuah kultural yang dihasilkan dari habitus dan ranah yang didukung oleh modal hingga akhirnya menghasilkan sebuah praksis atau praktik dalam kehidupan dengan perwujudan bahasa.

Dalam tinjauan Linguistik (tata bahasa), bahasa merupakan system bunyi atau tanda yang keluar dari speech organ yang melahirkan sebuah makna dan disepakati oleh penggunanya yang kemudian dijadikan sebagai alat komunikasi.

Komponen-komponen bahasa yakni huruf, kata, frase, kalimat hingga paragraph. Sementara ungkapan “Mohon Maaf Lahir & Batin” merupakan sebuah kalimat yang masuk dalam kategori kalimat interjeksi atau kalimat seru yang memiliki ciri; tidak memiliki subjek karena kalimat seperti itu ditujukan kepada orang kedua (kamu).

Konsep “Mohon Maaf Lahir & Batin” merupakan sebuah kalimat yang menyerukan permohonan maaf dengan penuh ketulusan jika dilihat dari jenis kalimatnya yakni kalimat intejeksi. Selanjutnya, jika dilihat dari Sistem Signifikasi ala Saussure yakni penanda dan petanda maka bisa dikatakan bahwa kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin” adalah petanda sedangkan gesture dua tangan yang menyatu adalah penanda.

Hubungan antara penanda dan petanda tidak bersifat tetap dalam penggunannya. Hubungan antara kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin” dengan bulan suci ramadhan, jika dilihat secara umum maka keduanya tidak memiliki kaitan yang erat dengan bantahan bahwa permohonan maaf yang sungguh-sungguh tidak hanya bisa dilakukan di bulan ramadhan saja melainkan hari atau bulan-bulan lainnya namun secara khusus, kalimat ini telah menjadi sebuah kultural sendiri di bulan ramadhan dan secara tidak langsung meligitimasi bahwa ungkapan tersebut hanya berlaku di bulan ramadhan.

Saussure pada umumnya lebih banyak menaruh perhatian kepada struktur bahasa daripada pemakaiannya. Strukturalisme memberi perhatian kepada bagaimana makna kultural diproduksi, diyakini sebagai “kaitan bahasa yang terstruktur”. Pemahaman strukturalis tentang kebudayaan terkait dengan ‘sistem relasi’ dari struktur yang membentuk tata bahasa yang memungkinkan munculnya makna.

Bulan ramadhan seharusnya ditempatkan lebih kepada proses pengokohan diri serta menjadikan Al-Quran sebagai sebuah petunjuk keselamatan dalam menjalankan kehidupan ke depannya atau pasca ramadhan agar supaya hal-hal yang menjadi rintangan dalam memperoleh kebaikan mampu dikenali sehingga hal-hal yang batil tidak bersemayam dalam diri. Bulan ramadhan merupakan proses pengembalian diri ke ranah kesucian untuk kemudian dijadikan sebagai bekal dalam menciptakan kehidupan yang adil dan makmur.

BIOGRAFI PENULIS

Penulis bernama Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar. Penulis berasal dari Bone dan sekarang berdomisili di Makassar. Penulis pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar 2018.