Menteri Puan dan Hakikat Pendidikan

BONEPOS.COM - Media baik online maupun cetak merupakan ruang persebaran informasi yang akurat dan faktual. Kira-kira seperti itulah, bangunan ideal yang harus ada pada tubuh media namun di sisi lain kerapkali media menjelma menjadi ruang yang penuh kontroversi atas informasi yang disajikan kepada khalayak.

Dalam mengonsumsi informasi yang disajikan media, perlu kiranya membekali diri dengan pemahaman tentang media komunikasi yakni bagaimana media menyajikan informasi yang tentunya para pembaca secara tidak langsung dituntut untuk mengolah dan menyaring informasi sebelum dikomunikasikan sebagai langkah preventif atas persebaran informasi kontroversi yang akan mengundang perselisihan.

John Fiske membagi ke dalam tiga jenis media komunikasi; media komunikasi presentasional, representasional dan mekanis. Media presentasional adalah suara, mata dan tubuh yang mengharuskan interaksi tatap muka langsung (diskusi); media representasional yakni proses perekaman dan penelaahan atas media presentasional (seperti membaca buku, artikel dll); dan, media mekanis adalah penerimaan informasi melalui media massa, televisi dan lain sebagainya.

Dewasa ini, media yang perlu diprioritaskan yakni media representasional sebagai proses penelaahan kritis terhadap informasi yang tersebar di media sebelum menyebarkannya sehingga perselisihan dan persebaran berita hoax tidak semakin langgeng. Ke depannya, semoga bisa menjadi penyaji informasi yang elegan dan penerima informasi yang bijaksana.

Niatan tulisan ini tidak berfokus kepada persoalan penyaji dan penerima informasi di media karena saya pikir orang yang berada di balik media untuk menyajikan informasi adalah orang-orang yang pastinya menjunjung tinggi profesionalisme begitupula para penerima informasi, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecakapan tingkat pendidikan yang mumpuni dan tentunya daya serap informasinya tidak diragukan lagi namun dalam tulisan ini, saya akan mencoba fokuskan pembahasan pada desas-desus di beberapa media online tentang pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani mengenai ‘Impor Guru ke Tanah Air’.

Di beberapa media online sebelumnya pernah beredar berita yang ber-headline ‘Menteri Puan Akan Impor Guru dari Luar Negeri’ sehingga secara spontan meski hanya melihat headline beritanya terbangunlah opini di kalangan masyarakat yang beranekaragam, pro-kontra menjadi keniscayaan. Berselang beberapa hari muncullah pernyataan klarifikasi Menteri Puan di media online.

“saya tidak pernah mengatakan impor, tapi akan mengundang guru-guru dari luar untuk training of trainer, memperkuat peningkatan guru yang ada di Indonesia dan ini pun masih dalam proses pengkajian”, keterangan Menteri Puan yang dimuat di media online Tempo.co (Selasa, 14 Mei 2019).

Mengimpor guru dari luar untuk mengajar di Indonesia bukanlah sebuah solusi yang bijak untuk meningkatkan sumber daya manusia. Terdapat beberapa hal yang tidak berkenan selain daripada perasaan galau oleh para guru-guru di Indonesia untuk bersaing dengan guru asing yang datang ke Indonesia, juga mengenai dinamika pendidikan yang ada di Indonesia yang mungkin akan membuat para guru asing kewalahan untuk beradaptasi apalagi perihal psikologi peserta didik yang sudah terkonstruksi dengan budaya Indonesia sejak lahir.

Peningkatan sumber daya manusia dapat dilakukan sendiri oleh para guru di Indonesia melalui intenalisasi hakikat pendidikan sebagai ruang memanusiakan manusia seperti yang terdapat pada UUD 1945, jika hal demikian diaktualisasikan di atas koridor yang sebenarnya maka sumber daya manusia utamanya dari kalangan siswa dan mahasiswa akan lebih bernilai.

Sebaliknya, kalaupun mengundang guru asing untuk memberikan pelatihan guru di Indonesia, itu merupakan hal yang wajar saja tapi yang perlu digaris-bawahi adalah Indonesia harus mengundang guru asing dari negara yang tingkat pendidikannya tergolong maju, misalnya dari Finlandia, Belgia, Jerman, Norwegia dan negara lainnya yang menerapkan pendidikan gratis berkualitas mulai SD sampai Perguruan Tinggi.

Kendati demikian hanya untuk kepentingan selain daripada peningkatan sumber daya manusia di Indonesia maka alangkah baiknya hal demikian tidak dilakukan. Indonesia membutuhkan tenaga pendidik yang profesional di bidangnya dan mampu mendidik para peserta didik untuk mengolah potensi dan menciptakan nuansa dialektis sebagai bentuk penumbuhan kedewasaan berpikir bagi peserta didik serta tidak mematok output pembelajaran untuk sesuai dengan tuntutan kebutuhan industri tapi memberikan kebebasan berekspresi untuk mencipta sesuatu yang tentunya akan menghasilkan sumber daya manusia yang berguna dan bernilai.

“Jangan melihat siapa yang mengatakan tapi liat apa yang dia katakan”, sebuah jargon yang ideal untuk diaktualisasikan pada tubuh pendidikan kita dewasa ini. Keselamatan pendidikan untuk kita semua.

Penulis bernama Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar. Penulis merupakan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018.

No Hp/ Whatsapp: 085299775325
Instagram: askarnur1947
Facebook: Askar Nur
Twitter: @askarnur47