OPINI: Mudik, Medium Pemuda Terdidik untuk Mendidik

Menjelang hari raya idul fitri, ruas-ruas jalan di setiap daerah dipadati lalu-lalang kendaraan dari kota ke desa atau dari tanah rantau menuju tanah kelahiran. Momen hari raya idul fitri atau hari lebaran selalu diidentikkan dengan puncak kemenangan untuk kembali menjadi suci begitupula dengan ritual menjelang lebaran yang kita kenal ‘mudik’. Mudik menjadi salah satu tradisi kembali untuk menemui tempat awal, tanah kelahiran.

Atmosfir mudik bukan hanya dirasakan oleh orang-orang yang pulang setelah memutuskan meninggalkan kampung halaman, berbondong-bondong ke kota bahkan ke luar dari territorial Indonesia untuk mencari peruntungan masing-masing dalam hal ini ‘kerja’ namun di sisi lain nuansa mudik juga menjadi momen yang dinantikan oleh anak-anak muda dari desa yang memilih melanjutkan jenjang pendidikan ke kota.

Anak-anak muda dalam hal ini para pemuda terdidik (mahasiswa) yang jauh dari tanah kelahiran dan orang tua menjadikan arus mudik sebagai arus kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga yang telah lama berpisah.

Tradisi mudik di kalangan mahasiswa yang tengah menempuh perjalanan spiritual, proses ikhtiar mengolah potensi diri dengan ilmu pengetahuan untuk sebuah asa menuju cita di bangku pendidikan tinggi yang ada di kota merupakan hal yang dinantikan. Arus mudik merupakan arus yang menjadi titik pertemuan para pemuda terdidik yang ilmiah (mahasiswa) dengan para tenaga pendidik alamiah (orang tua dan keluarga).

Teringat dengan falsafah bugis “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” yang jika diterjemahkan secara liar berarti “pergi mencari kebaikan, pulang membawa kebaikan”. Proses menuntut pendidikan di kota merupakan proses mencari kebaikan dan proses pulang kampung halaman (mudik) menjadi jalur penerapan kebaikan.

Falsafah tersebut jika dikorelasikan dengan tradisi mudik bagi para mahasiswa maka bisa dikatakan bahwa kepergian mereka dari tanah kelahiran menuju perantauan untuk melanjutkan pendidikan dan suatu saat akan kembali memperbaiki tanah kelahiran dengan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh.
Selain daripada berkumpul dan melepas kerinduan, tentu arus mudik menjadi kesempatan bagi mereka untuk kemudian melakukan proses perbaikan tatanan di kampung halaman dengan berbekal ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Datang dari sudut lain, sebuah pepatah lama “kacang yang lupa kulitnya” yang juga terdapat di lirik salah satu lagu regge yang populer “ku menatapnya sambil makan kacang, kulit kacang ku simpan, ku jaga selalu”. Sebuah pesan yang substansial di balik pepatah lama itu yang juga erat kaitannya dengan falsafah bugis di atas.

Sederhananya, lagi-lagi dengan terjemahan liar, ‘kacang’ dalam pepatah lama tersebut mengandung makna layaknya seseorang yang hidup dan berkembang sedangkan ‘kulit kacang’ merupakan sebuah gambaran mengenai tempat awal kehidupan seseorang tersebut namun si ‘kacang’ melupakan arena yang membesarkannya sedari awal yakni ‘kulitnya’.

Fenomena seperti ini seringkali terjadi di sekeliling kita, seseorang yang merantau meninggalkan tanah kelahiran dan mendapatkan kejayaan di perantauan hingga lupa akan tanah kelahirannya sendiri.

Konsep “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” merupakan salah satu falsafah kehidupan yang mampu menyelamatkan kita dari fenomena “kacang yang lupa akan kulitnya”. Sebuah konsep yang bermuara dari nilai-nilai budaya yang harus tetap dilestarikan hingga melahirkan pribadi yang berbudaya.

Manusia yang menginternalisasi nilai-nilai budaya dari tanah kelahirannya dan membawanya kemanapun ia melangkah adalah corak manusia yang bertanggungjawab atas proses kelahirannya di jagat semesta. Kita tidak perlu hidup di masa lalu untuk melestarikan budaya melainkan kita perlu hidup untuk sekarang dengan tetap berpikir sesuai corak pemikiran yang berbudaya.

Sebuah bentuk kekeliruan mengatur cara berpikir jika memandang bahwa nilai-nilai budaya merupakan ajaran yang kuno dan tidak relevan dengan konsep kehidupan hari ini yang serba modern atau ‘kekinian’. Sebagai contoh, nilai-nilai budaya yang berwujud sebagai pesan moral dari budaya bugis “Aja’ Mupoloi Olona tauwe’” yang memiliki arti “jangan mengambil haknya orang lain”.

Jika pesan moral tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di zaman ini maka yakin dan percaya tindakan korupsi tidak akan pernah ada begitupula pesan-pesan moral lainnya.

Seorang yang terdidik (mahasiswa) kiranya penting untuk melihat sisi lain daripada mudik sebagai ruang untuk merawat dan memperbaiki kampung halaman dan memanfaatkan waktu yang singkat dengan sebaik mungkin.

Hal kecil yang bisa dilakukan selama berada di kampung halaman, misalnya menciptakan arena pembelajaran tentang pendidikan politik bagi masyarakat sekitar sehingga fenomena pesta demokrasi tingkat desa maupun kabupaten yang kerap menimbulkan perpecahan hingga budaya saling membenci dikarenakan perbedaan pilihan bisa diminimalisir atau bahkan dicegah, taman baca bagi anak-anak atau bahkan menggarap sesuatu yang sesuai dengan konsentrasi keilmuan di penguruan tinggi yang dinilai perlu diketahui oleh masyarakat.

Jika sanggup pergi jauh dari kampung halaman menempuh perjalanan, maka perlu pula kembali lebih jauh hingga ke dalam diri masing-masing untuk mempertanyakan dan mengembalikan nilai keadilan dan kemanusiaan dalam diri.

Selamat ber-Mudik dan keselamatan bagi kita semua di bawah lindungan-Nya!

Penulis:  Askar Nur,
Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar.

Penulis merupakan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018.

No Hp/ Whatsapp: 085299775325
Instagram: askarnur1947
Facebook: Askar Nur
Twitter: @askarnur47