Opini: Tentang Malam Seribu Bulan

Husman Husain

Lailatul Qadar adalah sebuah fenomena yang penuh dengan misteri. Kapan saja tak ada kepastian tentang hal tersebut.

Dalam satu hadits Rasul menganjurkan Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. Sementara, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar. Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar.

Sayangnya, Allah dan Rasul serta sahabat-sahabat tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya malam itu. Hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya, diantaranya malam-malam ganjil dibulan ramadhan.

Malam Ramadhan memberikan kita waktu untuk melakukan penghayatan batin. Itulah sebabnya Rasul banyak melakukan pendalaman batin tentang hakikat kehidupan dengan bertapa. Sehingga Ayat-ayat yang memerlukan pemahaman tingkat tinggi turun di malam Ramadhan. Termasuk juga turunnya Al -quran yg tiap bulan ramadhan diperingati dengan malam Nuzulul Qur'an.

Pada dasarnya, malam lailatul qadar adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. Tiap-tiap manusia bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda tergantung tingkat pergolakan batin yang dialaminya.

Dalam tradisi keagamaan diketahui bahwa Lailatul Qadar, turunnya malaikat-malaikat ke alam manusia dengan tujuan pelimpahan rezeki, pengampunan dan kemuliaan. "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ar-Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4). Dalam hal ini, malaikat yang turun berbentuk gambaran cahaya.

Jika ditelaah lebih mendalam dalam teori fisika quantum, "Bila benda bergerak dengan kecepatan cahaya, yang artinya sama dengan kecepatan ruang atau waktu, benda itu akan membekukan waktu sehingga ia akan terlepas dari perhitung suatu waktu."

Lantas, bagaimana kita meyakini tentang kapan datangnya kemuliaan malam seribu malam ? Tidak perlu ditunggu kapan datangnya karena sifatnya adalah pengalaman pribadi.

Dalam ilmu tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang setelah mengalami pergolakan dan guncangan batin yang mendalam. Salah satu contoh pergolakan batin adalah yang pernah dialami oleh Rasulullah sebelum Isra' mi'raj.

Pada saat itu, umat Islam diembargo oleh kaum kafir Quraisy. Pernikahan antargolongan mereka tak pernah lagi terjadi, lalu Nabi Muhammad dan keluarganyapun diboikot secara ekonomi sehingga tak mampu lagi beraktifitas.

Kedua, wafatnya paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Thalib.

Kendati Abu Thalib sangat menyayangi Nabi Muhammad dan selalu membela keponakannya jika terancam, namun dia meninggal dalam keadaan kafir.

Hal inilah membuat Nabi Muhammad sangat bersedih. Peristiwa ketiga adalah wafatnya istri tersayang Nabi Muhammad, yaitu Khadijah.

Khadijah adalah istrinya yang selalu mendampinginya dalam keadaan suka dan duka sehingga kematiannya sangat ditangisi Nabi Muhammad. Kematian Khadijah hanya berselang dua bulan dari kematian pamannya Abu Thalib.

Terjadinya pergolakan batin adalah timbulnya sebuah kesedihan mendalam, adanya rasa keikhlasan, ketangguhan, kesabaran dan kekuatan spirit menjadi satu kesatuan.

Keutamaan malam dari seribu malam dalam pengertian aktif adalah menempa diri secara fisik maupun bathin, maka kondisi psikologis menjadi semakin peka atau sensitif untuk terpusat pada dunia mistik, dunia spiritual metafisik.

Dan puncaknya, terbesit kilatan cahaya pencerahan. Dan momen itu tidak lama, hanya sekejap saja. Disaat itu, terbukalah cakrawala kesadaran baru sesuatu yang tak pernah terbetik sebelumnya. Malam itu, semuanya tampak terang benderang di mata bathin dalam kesadaran terdalam. Dan itulah yang membakar energi hidup baru.

Maka, apabila di malam-malam Ramadhan kita tidak mampu lagi menghayati hakikat kehidupan di sebuah malam, kita benar-benar tidak akan menjumpai Lailatul Qadar. Wallahu A’lam

Penulis: Husman Husain.
(Alumni Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone)