Pemuda di Gowa Ini Nikahi Pacarnya dengan Mahar Surah Ar Rahman

BONEPOS.COM, GOWA - Pernikahan di Sulawesi Selatan (Sulsel) bisa dibilang terbilang unik atau tidak biasa. Umumnya, pernikahan di tanah Bugis Makassar, seringkali dihebohkan dengan mahar atau uang panaik yang tinggi nilainya.

Banyaknya pernikahan yang unik di Sulsel pun menyedot banyak perhatian warga. Warga banyak membincangkannya melalui sosial media.

Di sosial media seperti Facebook dan Instagram dua minggu terakhir ini tengah ramai diperbincangkan uang panaik berjumlah fantastis di Sulawesi Selatan. Baru-baru ini heboh diperbincangkan adalah seorang gadis yang dilamar dengan uang panaik berupa cek Rp 500 juta.

Sebelumnya, juga ada seorqang Polwan cantik di Bantaeng yang heboh lantaran ia dilamar dengan uang panaik sebesar Rp300 Juta plus tanah, perhiasan satu stel emas dan seekor kuda.

Kini kembali viral seorang pria di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dimana Dia mempersunting seorang wanita tanpa uang panaik berupa mahar. Melainkan maharnya berupa Surah Ar-Rahman serta sebuah cincin emas.

Pernikahan dengan mahar tak biasa ini tepatnya terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dekat pasar terminal Sungguminasa, Kamis, 13 Juni 2019 kemarin.

Mempelai pria yang diketahui bernama Salahuddin ini mempersembahkan hafalan Al-Qur'an sebagai mahar kepada gadis pujaan hatinya, Nur Awaliyah disertai dengan cincin emas.

Surah tersebut Dia lafalkan di hadapan para tamu dan keluarga yang hadir dalam resepsi sakral yang berlangsung di sebuah Masjid di Gowa tersebut.

Dikutip dari laman Tribuntimur.com, Salahuddin mengaku mahar berupa surah Ar-Rahman itu sebelumnya telah Dia sampaikan ke orang tua mempelai wanita, dan hal itu disambut baik.

"Ini wujud untuk mengharapkan keberkahan Al-Quran melalui mahar surah ini, apalagi keluarga besar kami memiliki latar belakang agama yang kuat," kata Salahuddin, Jumat, 15 Juni 2019.

Menurut Salahuddin, mahar berupa persembahan hafalan Al-Quran sudah ada sejak dulu, bahkan sudah lumrah sejak zaman nabi.

Namun, kata Dia, budaya Bugis Makassar telah membangun paradigma soal uang panai (uang lamaran) dengan nilai jutaan rupiah.

"Jadi sejatinya bukan berapa nilai uang panainya, tapi bagaimana kita mengharapkan keberkahan untuk pernikahan. Oleh karena itu kami memilih Al-Quran," ujarnya.

Penulis:Ahmad Rusli