Potensi Sumber Daya Flora Sebagai Pembangkit Listrik Terbarukan

BONEPOS.COM - Di Indonesia penyediaan jaringan listrik belum menyebar secara merata. Terutama pada daerah-daerah pelosok, banyak yang belum dapat merasakan fasilitas pembangkit listrik. Proyek pembangunan pembangkit listrik hanya terfokus pada daerah perkotaan karena kebutuhan beban listrik di daerah perkotaan semakin meningkat, sehingga kebutuhan listrik di daerah pelosok dikesampingkan. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menyatakan, banyak tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan untuk menerangi daerah tersebut. Mulai dari akses infrastruktur hingga kemampuan daya beli masyarakat di daerah tersebut. Selain itu untuk pelosok juga membutuhkan biaya lebih tinggi terutama untuk menggali perbukitan yang berbatu. Teknologi yang dipakai pemerintah dalam pembangunan fasilitas pembangkit listrik merupakan teknologi yang tidak terbarukan. Maka dari itu muncul pemikiran untuk mengalihkan sistem pembangkit listrik tak terbarukan menuju sistem pembangkit listrik terbarukan (reneweble energy).

DSSC (Dye Sensitize Solar Cell) merupakan perwujudan dari pembangkit listrik terbarukan. DSSC adalah solar cell (sel surya) atau disebut juga bio sel surya berfungsi untuk mengkonversi energi surya menjadi listrik yang menggunakan bantuan zat warna untuk memanen energi matahari (berperan sebagai sensitizer). DSSC dianggap cocok untuk diterapkan Indonesia, mengingat Indonesia merupakan Negara tropis sehingga mendapatkan penyinaran matahari yang optimal disepanjang tahunnya. Kelebihan dari DSSC itu sendiri yaitu biayanya yang relatif murah serta bahannya yang mudah untuk diperoleh.

Mengetahui potensi sumber daya flora tersebut mahasiswa Universitas Hasanuddin yang beranggotakan Ade Ilham Tamara k (Fisika), Andi Anugrah Caezar T. (Fisika) dan Aisyanang Deng Ngai (Biologi) mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) membuat sebuah inovasi dengan memanfaatkan bahan alami sebagai sumber energi terbarukan.

Pada penelitian ini kami ingin mengoptimalkan bahan alam yang ada sebagai sumber energi alternatif dengan cara menggunakan komoditas buah dan biofarmaka yang produksi/ketersediaannya melimpah yaitu daun mangga, kulit pisang dan jahe merah yang akan digunakan sebagai penyerap cahaya pada DSSC (Pembangkit Listrik Tenaga Surya),”ujar ilham sebagai ketua tim.

Lebih lanjut ilham menjelaskan DSSC adalah generasi ketiga dari pembangkit listrik tenaga surya. DSSC merupakan alternatif pengganti sel surya silikon yang saat ini banyak digunakan dan ditemukan di pasaran. Biasanya DSSC menggunakan ruthenium complex (bahan sintesis) sebagai penyerap cahaya, Namun demikian kelemahan DSSC menggunakan ruthenium complex adalah jumlahnya sedikit di alam dan tidak ramah lingkungan karena beracun, sehingga menjadi pertimbangan untuk diaplikasikan pada DSSC dalam skala besar. Di lain pihak, pengetahuan tentang fotosintesis telah berkembang pesat dimana material fotosintesis seperti klorofil, karotenoid, antosianin, dan flavonoid diketahui merupakan material yang mampu menyerap cahaya secara efektif. Sehingga pikmen fotosintesis tersebut yang akan diterapkan sebagai penyerap cahaya pada pembangkit listrik tenaga surya.

Kami berharap hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan memberikan kontribusi nyata terhadap pemanfaatan sumber daya flora sebagai sumber energi yang terbarukan, sehingga masalah ketersedian listrik di daerah pelosok tidak lagi menjadi perbincangan. Ujar Aisyanang sebagai anggota tim.