Kendati Kapal Akan Karam, Tegakkan Hukum dan Keadilan!

BONEPOS.COM - Kalimat tersebut terucap dari sosok pria yang pemberani, sederhana dan taat beragama, dia Baharuddin Lopa. Hingga saat ini, namanya masih terus dikenang oleh masyarakat di Indonesia.

Baharuddin Lopa adalah menteri kehakiman kemudian jaksa agung semasa Presiden Abdurrahman Wahid. Dia juga pernah menjadi anggota Komnas HAM. Sebelumnya, Lopa dikeluarkan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Selatan, Aceh, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara. Sebagai penegak hukum, dia dikenal menantang, jujur, meyakinkan, dan berintegritas tinggi.

Saat menjadi kepala Kejaksaan Tinggi Makassar pada tahun 1982, Lopa menyeret pengusaha Tony Gozal atas kasus manipulasi dana reboisasi. Tony dikenal memiliki hubungan dengan pejabat negara dan sedang disetujui kebal hukum. Hakim memvonis bebas Tony. Lopa membaca latar belakang kejanggalan vonis itu dan temukan adanya dugaan suap kepada hakim. Sebelum menuntaskan kasus ini, pada Januari 1986 dia mendadak dimutasi ke Jakarta menjadi staf ahli menteri kehakiman.

Ketika menyetujui jaksa agung, Lopa berencana mengusir tujuh korupsi besar, di persetujuan Prajogo Pangestu, Marimutu Sinivasan, dan kasus dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Sekali lagi langkahnya membongkar korupsi terjegal di tengah jalan.

Jabatan terakhir pria kelahiran Desa Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat 27 Agustus 1935, adalah Jaksa Agung di era Pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid. Belum sebulan menjabat Jaksa Agung, pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa mual-mual lalu tutup usia ketika menjalankan umroh di Arab Saudi. Sebagian besar masyarakat merasa kehilangan. Indonesia ketika itu terkena euforia reformasi sebab penetapan Lopa sebagai Jaksa Agung diharapkan bisa membawa angin segar.

Tiba-tiba saja, saya merindukan Lopa! Ya, orang Mandar yang tak kenal gentar itu. Kepergiannya yang mendadak di bulan Juli 2001 menyesakkan negeri ini.

Dan ini, sebuah cerita tentang almarhum dari begitu banyak hikayat tentang dirinya. Semoga Lopa damai di sisiNya.

Alkisah, semasa menjadi Direktur Jenderal Pemasyarakatan di Jakarta, Profesor Baharuddin Lopa tetap mengajar di almamaternya, Universitas Hasanuddin. Dosen terbang. Sekali sepekan, ia memberi kuliah untuk program pasca sarjana fakultas hukum di Makassar.

Suatu hari, ia mengajar dalam keadaan suntuk. Di sela kuliah, Lopa keluar dari ruang kelas untuk merokok. Ia memang perokok berat.

Tapi hari itu ia lupa sesuatu: korek api. Seorang mahasiswa kemudian menyodorkan korek api kayu kepadanya. Lalu Lopa pun mengatasi suntuknya dalam kepulan asap tembakau.

Seusai mengajar, Lopa langsung menuju Bandara Hasanuddin, mengejar pesawat untuk pulang ke Jakarta. Dan setiba di Jakarta, ia baru sadar, sekotak korek kayu milik mahasiswa tadi terbawa olehnya. Masih di saku celana, ia lupa mengembalikannya.

Lopa panik. Tak biasa ia mengantongi barang yang bukan miliknya. Masalahnya, ia lupa nama mahasiswa sang pemilik korek api.

Setiba di rumah di Pondok Bambu, diteleponnya semua kolega di Fakultas Hukum Unhas di Makassar yang ia kenal: bertanya siapa gerangan mahasiswa yang meminjamkan korek api kepadanya sore tadi?

Baru menjelang tengah malam, jawaban datang dari Profesor Muhammad Askin, dosen hukum lainnya (bekas Anggota DPR dari PAN). Mahasiswa itu bernama Ali Sarrang Bakar (kalau saya tidak salah ingat).

Lopa lega. Kepada Askin, ia menitipkan pesan untuk dijalankan malam itu juga -- pukul 12 malam! "Tolong datang ke mahasiswa itu, sampaikan, korek apinya terbawa oleh saya. Tolong ikhlaskan!"

Tepat dibulan Juli ini, Tiba-tiba saja kita merindukan sosok Lopa. Semoga almarhum tenang di sisi-NYA

(Cerita tentang korek api Lopa diambil dari cerita seorg jurnalis senior Tomi Lebang)