Kemaslahatan Bagi Hasil Syariah

BONEPOS.COM - Dukungan bisnis merupakan inovasi utama kepada lembaga keuangan untuk menerapkan metode pembiayaan bagi hasil sebagai instrumen kemaslahatan yang melahirkan pembiayaan bisnis halal, semuanya dituntut oleh nilai falah serta membedakan instrumen kemaslahatan bagi hasil dengan mainstream ekonomi konvensional. Bagi hasil membawa konsekuensi penghapusan bunga secara mutlak.

Sistem bunga cenderung tidak mencerminkan keadilan (dzalim) karena memberikan diskriminasi terhadap pembahasan risiko maupun untung bagi para pelaku ekonomi.

Pembayaran bunga kadang-kadang menciptakan kesulitan bagi bisnis.
Metode pembiayaan bagi hasil menunjukkan ketertarikan pada bisnis kecil maupun bank Islam. Motivasi pemanfaatan bank islam dilandasi oleh prinsip bebas bunga yang diterapkan dengan model nisbah bagi hasil.

Kelompok nasabah muslim yang menabung di bank syariah memahami bagi hasil yang diterimanya bukan semata-mata karena faktor ekonomi, terlebih bagi nasabah non muslim memahami bagi hasil yang diterima karena lebih kompetitif dibanding dengan pendapatan bunga.

Perjanjian bagi hasil disepakati sebagai proporsi pembagian hasil (disebut nisbah bagi hasil) dalam ukuran presentase atas kemungkinan hasil produktivitas nyata. Nisbah bagi hasil ditentukan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang bekerjasama.

Skema model ini memungkinkan masing-masing pihak memberikan kontribusi dalam kegiatan usaha berdasarkan porsi masing-masing. Ini juga memungkinkan seseorang mendapatkan porsi bagi hasil lebih besar atau lebih kecil dari proporsi kontribusinya dalam kegiatan usaha. Penetapan bagi hasil juga telah disepakati dalam akad, dalam hal ini kegiatan usaha dilakukan oleh mitra sehingga kejujuran dari pihak mitra sangat menentukan besar kecilnya bagi hasil yang diterima.

Kesepakatan suatu tingkat nisbah harus memperhatikan kemampuan untuk memperkirakan keuntungan maupun resiko yang mungkin terjadi dalam kerjasama. Namun batas batas tertentu dapat diperkirakan sehingga penerimaan seseorang atas nisbah bagi hasil tidak melulu bersifat spekulatif.

Risiko adalah sebuah konsekuensi dari aktifitas produktif, yang perlu dihindari adalah sebuah perkiraan karena risiko seperti ini dalam terminology fiqh mua’malah disebut gharar yang benar-benar bersifat spekulatif. Maka dapat dinyatakan bunga masuk dalam kategori ruang lingkup gharar karena proses operasionalnya hanya mengandalkan keberuntungan.

Secara operasional adanya bunga ini dapat merujuk pada kerjasama usaha antar dua belah pihak, kemudian masing-masing pihak akan memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan keuntungan dan risiko ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Kesepatan ini guna menghindari satu pihak menerima keuntungan, maka pihak lain pasti mengalami kerugian.

Imbalan yang diberikan kepada nasabah adalah bagi hasil sebesar nisbah yang telah disepakati di awal akad serta membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam akad.

Bagi hasil berarti keuntungan dan kerugian yang mungkin timbul dari kegiatan ekonomi dan bisnis yang ditanggung bersama serta pendapatan yang diperoleh akan bersifat dinamis menyesuaikan dengan keadaan usaha. Tentu ini jauh dari acuan yang dijadikan dasar perhitungan bunga dan paling mencolok pada penentuan besarannya.

Sebaliknya bagi hasil cendrung akan membiayai usaha dengan keuntungan yang diprediksi dengan benar. Lain halnya penerapan bagi keuntungan dengan menggunakan bunga sangat diragukan bahkan dikecam beberapa kalangan kerena dirasa mengaplikasikan sistem riba.

Sedangkan bagi hasil tidak ada yang meragukan keabsahannya.
Eksistensi bunga diragukan melalui pembayaran dengan perjanjian tanpa pertimbangan yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi, ini jelas merugikan satu pihak. Bagi hasil melihat kemungkinan profit (untung) dan risiko (transaksi pembiayaan yang besarnya signifikan) sebagai fakta yang terjadi dikemudian hari. Sedangkan bunga hanya mengakui kepastian profit (untung) pada penggunaan uang. Terlebih lagi tidak diperbolehkan bagi hasil dengan presentase yang fixed seperti halnya suku bunga.

Penentu bunga memberi asumsi harus selalu untung padahal jumlah pembiayaan bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat. Maka dari itu penerapan bagi hasil sebagai mitra kerjasama harus senantiasa berhati-hati atau bijaksana serta beri’tikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan dan kelalaian yang bisa saja terjadi.