Ada 205 Titik Panas Terdeteksi, Ini Rincian Lokasinya

BONEPOS.COM, JAKARTA - Kualitas udara Pekanbaru, Riau kembali baik pada Sabtu (10/8/2019), pukul 18.00 Wita. Sementara kualitas udara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah terpantau tidak sehat sekitar pukul 13.00 Wita. Kemudian pada pukul 18.00 Wita, kualitas udara menunjukkan pada parameter 50–150 atau sedang.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo dalam rilis yang disebar dijelaskan, partikulat atau PM10 merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer). Kualitas udara menjadi salah satu parameter keberhasilan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah.

Bukan itu saja, indikator lainnya yaitu, jarak pandang atau visibilitas, jumlah titik api, titik panas atau hotspot dan jumlah penderita yang terkait dengan pernafasan seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Sabtu (10/8/2019), sekitar pukul 16.00 Wita sempat terlihat asap akibat karhutla terdeteksi di Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur.

Data yang terpantau pada modis-catalog.lapan.go.id terpantau rekapitulasi jumlah titik panas per 10 Agustus 2019, pukul 19.00 Wita pada kategori sedang dan tinggi berjumlah 205 titik.

Rincian titik panas dengan kategori sedang berjumlah 153 titik. Persebaran titik panas tersebut teridentifikasi di Bengkulu 4 titik, Gorontalo 4, Jambi 2, Jawa Barat 3, Kalimantan Barat 12, Kalimantan Selatan 2, Kalimantan Tengah 12, Kalimantan Timur 10, Kalimantan Utara 7, Lampung 10, Maluku 5, NTT 32, Riau 4, Sulawesi Barat 1, Sulawesi Selatan 8, Sulawesi Tengah 19, Sulawesi Tenggara 6, Sulawesi Utara 8, dan Sumatera Selatan 4.

Sementara kategori tinggi, sejumlah 52 titik tersebar di wilayah Kalimantan Barat 9 titik, Sumatera Selatan 7, Lampung 7, Kepulauan Babel 5, Sulawesi Tenggara 5, NTT 4, Kalimantan Tengah 3, Sulawesi Tengah 3, Kalimantan Tengah 3, Riau 2, Jawa Barat 1, dan Sulawesi Selatan 1.

Untuk menanggulangi karhutla di sejumlah wilayah tersebut, personel gabungan bekerja keras untuk memadamkan si jago merah.

Strategi pemadaman kebakaran dilakukan dengan pemadaman darat dan udara. Pemadaman darat dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan pihak swasta. Satuan ini didukung kekuatan udara seperti helikopter untuk pengeboman air, sedangkan satuan tugas penegakan hukum terus dilakukan oleh kepolisian.