Menulis Untuk Negeri Dan Umat

BONEPOS.COM - "Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Begitu para sastrawan dan penggiat literasi mengusung ungkapan Pramoedya Ananta Toer akan peranan luar biasa dari menulis.

Menulis sejatinya adalah menciptakan gagasan akan sebuah fenomena atau peristiwa tertentu, juga upaya menolak lupa pada rekam ingatan masa lalu. Namun bagi Ika Rini Puspita sendiri, menulis bukan hanya tentang kerja-kerja abadi yang kelak akan dikenang sepanjang masa, tetapi lebih dari itu, merupakan jembatan bagi suara-suara dan harapan-harapan segelintir rakyat kecil agar sekiranya tersalurkan kepada si pemegang kuasa.

Perempuan kelahiran 20 Juli 1996 ini memulai kegiatan menulisnya sejak tahun 2016 silam. Berawal dari perasaan bosan akan kegiatan perkuliahan yang monoton, keinginan menyalurkan aspirasi, sampai menjelma menjadi rutinitas produktif tiap harinya.

Penulis dari buku Negeri 1/2 dan Merobek Demokrasi ini juga kerap kali mengirim sejumlah tulisan ke berbagai media online maupun cetak Tanah Air. Kebanyakan tulisannya pun berisi tentang kritikan tajam akan rezim dan alur pemerintahan sekarang yang dianggap tidak lagi sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya.

Tulisan-tulisan yang dibuatnya adalah manifestasi dari kondisi politik yang karut marut saat ini, konsep nyata kegamblangan pemerintahan yang tidak konsisten, serta harapan bagi pemegang kuasa agar mampu menyelesaikan berbagai problematika bangsa dengan konsep keislaman yang mulia.

Menjadi penulis yang kritis tidaklah mudah, apalagi jika itu menyangkut tentang pemerintah. Begitu banyak hambatan yang dialami mahasiswi jurusan biologi ini, mulai dari rentetan penolakan akan tulisannya yang dianggap terlalu memojokkan pemerintah, frontalisme, sampai komentar kurang etis tak lepas didapatnya.

"Tulisan sampah!" Ujar beliau menuturkan tanggapan orang-orang akan tulisan pertamanya dulu. Sempat merasa down layaknya manusia biasa yang terserang cercaan, keinginan rihat dari dunia tulis menulis pun sempat terpikirkan, namun karena keinginan untuk menyampaikan ilmu dan gagasan positif secara luas, kekuatan untuk bangkit dan menulis kembali membara juang.

Dengan kian berkembangnya teknologi komunikasi, menulis tidak lagi menjadi hal sulit. Tinggal di negara demokrasi, kebebasan berpendapat bukan lagi ancaman bersenjata. Meski pada kenyatannya, terkadang pembungkaman kerap kali terjadi jika itu dianggap menyerang beberapa pihak tertentu.

Ika, sapaan perempuan cantik ini berpendapat, jika hal demikian bukan lagi sesuatu yang laten, perasaan khawatir akan tulisannya yang terlalu bebas terkadang mengganggu, namun keyakinan akan kebenaran yang akan selalu berada dilindungan Allah SWT lah yang membuatnya yakin untuk terus melanjutkan kebenaran dan nilai-nilai melalui secarik kertas.

Agama dan orangtua adalah dua hal yang membuatnya terus menulis. Baginya, menulis dengan kritis untuk negeri dan ummat adalah bagian dari jihad fisabilillah. Dari generasi seperti kitalah masa depan Indonesia berlanjut. Ada begitu banyak cara untuk berjuang dan mencintai negeri ini, dengan mengkritik merupakan salah satunya, bukan?

(Nurhalisa S/ril)