5 Jam, Polda Sulsel Cecar 56 Pertanyaan Ke Jurnalis Korban Kekerasan di Makassar

BONEPOS.COM, MAKASSAR -  Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah Polda Sulsel memeriksa tiga jurnalis yang mengalami kekerasan saat peliputan oleh oknum aparat keamanan, di ruangan Subdit I Kamneg Ditreskrimum Polda Sulsel, Kamis (3/10/2019). Proses pemeriksaan berlangsung selama lima jam.

Ketiga jurnalis tersebut, yakni Darwin Fatir (LKBN Antara), Isak Pasabuan (Makassar today.com), dan Muh Saiful (Inikata.com). Proses pemeriksaan tersebut dikawal tim advokasi hukum dari LBH Pers.

Mereka mendapatkan perlakuan kekerasan saat meliput aksi unjuk rasa terkait penolakan revisi Undang-undang KPK, Rancangan Undangan-undang KUHP, Pertanahan, serta sejumlah RUU lainnya di Makassar Selasa (24/9/2019).

Salah satu tim advokasi, Kadir Wakanubun mengatakan, ketiganya diperiksa berdasarkan Laporan polisi nomor: STTLP/347/2019/SPKT Polda Sulsel, dalam kapasitas sebagai saksi korban. Pemeriksaan korban dilakukan mulai pukul 11.00 Wita hingga selesai pukul 04.00 Wita.

Pemeriksaan hari ini, ucap Kadir, merupakan tindak lanjut dari laporan polisi yang dilaporkan pada tanggal 26 September, lalu di Polda Sulsel, terkait tindak kekerasan yang awak media alami pada saat peliputan aksi.

Dalam pemeriksaan melalui pengambilan keterangan Berita Acara Penyelidikan (BAP), korban Darwin dicecar 20 pertanyaan, sementara Isak Pasabuan 17 pertanyaan dan Muh Saiful 19 pertanyaan oleh penyidik. Totalnya, 56 pertanyaan.

Menurut tim advokasi hukum LBH Pers Makassar, Kadir Wokanubun, Pada saat BAP ketiga korban menerangkan mereka mengalami kekerasan berupa dipukul, didorong, dan ditendang.

Mereka juga dihalang-halangi untuk mengambil video dan foto pada saat penyisiran massa aksi yang dilakukan oleh polisi, saat aksi.

Kadir merinci, untuk korban Darwin mengalami dugaan kekerasan di dua tempat yang berdekatan yakni di tempat pertama sekitar Rappokaling Motor, tempat kedua di depan show room mobil tepatnya di depan Kantor DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.

Dampak dari kekerasan itu, korban Darwin mengalami luka pada bagian kepala sebelah kiri belakang diakibatkan kena pentungan, lengan kanan lebam serta jari manis lebam dan leher masih terasa sakit akibat pukulan oknum aparat saat itu.

Korban lainnya, Muh Saiful mengalami dugaan kekerasan oknum aparat di sekitar jembatan layang (fly over), Jalan Urip Sumoharjo berdekatan kampus Pascasarjana UMI Makassar.

"Akibat kekerasan tersebut Ipul (Saiful) mengalami luka robek pada bagian di bawah mata dan dijahit sebanyak lima jahitan," ungkap Kadir.

Lanjut, Kadir, untuk korban Isak Pasabuan, mengalami kekerasan di sekitar showroom Jalan Urip Sumoharjo depan DPRD Sulsel. Isak mengalami kekerasan berupa pemukulan di bagian dada dan perut.

"Selain kekerasan yang dialami, ketiga korban juga dihalang-halangi pada saat pengambilan foto dan video pada saat melakukan kerja kerja jurnalistik. Kejadian ini pun sudah termasuk pengeroyokan," tambah Kadir.

Sementara tim advokasi hukum LBH pers Makassar Fajriani Langgeng bilang, korban mengalami kekerasan pada saat bertugas sebagai jurnalis.

"Kasus ini selain tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan masuk juga dalam delik pers berupa menghalang-halangi kerja jurnalis pada saat liputan," kuncinya. (ril)

Penulis:Adi Saruga