Fakta-fakta Penemuan Harta Karun Diduga Emas di Bone

BONEPOS.COM, BONE - Kabar soal adanya penemuan harta karun berupa logam berwarna mirip emas, di Desa Pinceng Pute, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, Rabu (26/11/2019), kemarin, menghebohkan warga.

Kabar mengenai penemuan harta yang diklaim peninggalan mantan Presiden RI, Soekarno itu, dihembuskan Kepala Desa setempat, Sudirman.

Alhasil, kabar penemuan harta karun ini menyebar dengan cepat di masyarakat, yang akhirnya membuat ribuan warga berbondong-bondong mendatangi lokasi penemuan harta tersebut.

Sudirman mengklaim harta karun temuannya itu datang dengan sendirinya setelah dia diberitahu lewat mimpinya. Namun, berdasarkan mimpinya masih ada harta yang tersisa.

Untuk mendapatkan harta karun yang diklaim dari wangsit mimpi sang Kades, warga menggelar ritual adat, mulai dari Mappadekko hingga memotong 7 ekor kambing dan Sapi.

Berikut ini, rangkuman Bonepos.com terkait fakta-fakta mengenai keberadaan harta karun tersebut.

1. Soal Harta Karun

Aparat Kepolisian Sektor Ajangale memastikan benda logam yang ditemukan Kepala Desa Pinceng Pute dari wangsit mimpi bukanlah harta karun.

"Tentang tata cara menemukan harta karun yang info dari awalnya (Kepala Desa) itu hoaks," ungkap Wakapolsek Ajangale, Ipda Alfian kepada Bonepos.com, Kamis, (27/11/2019).

2. Logam Diduga Emas Ternyata Titanium

Aparat Kepolisian setempat yang melakukan penyelidikan terkait benda berupa lempengan dan batangan yang disebut-sebut adalah emas ternyata merupakan lempengan titanium.

"Untuk lempengannya itu titanium dan bukan emas," tegas Alfian.

Sementara itu, adapun ciri-ciri logam batang berwarna kuning mirip emas yang diklaim harta karun peninggalan Bung Karno itu pada sisi batangannya terdapat gambar Presiden Soekarno.

3. Sudirman Terancam Pidana?

Kabar soal penemuan harta karun yang dihembuskan Kepala Desa Pinceng Pute mendapat tanggapan dari berbagai pihak, salah satunya Andi Ilham salah seorang pengamat hukum di Kabupaten Bone.

Andi Ilham menilai, Sudirman selaku Kepala Desa bisa terjerat Pidana lantaran diduga telah menyebarkan berita yang tidak benar dan meresahkan warga.

"Ini sudah bisa dijerat pidana, karena diduga telah menyebarkan kabar bohong dan diduga memperalat warga untuk menggelar ritual demi kepentingan yang bersangkutan," ungkapnya.

4. Respons Pihak Kepolisian

Terkait kabar diduga hoaks yang dihembuskan Sudirman ke warga, Polisi masih melakukan penyelidikan apakah hal tersebut mengarah ke pelanggaran hukum atau tidak.

"Kami masih menunggu arahan dari Pimpinan (Kapolres-red)," ungkap Ipda Alfian.

5. Diduga Terkait Penjualan Tanah

Salah seorang warga yang enggan namanya dimediakan mengungkapkan bahwa tujuan dari isu adanya harta karun berupa emas ditemukan di lahan milik Sudirman itu diduga berhubungan dengan penjualan tanah.

"Sudah ada yang mau beli itu tanah, gara-gara kabarnya ada emas disitu, kami menduga ini sengaja dihembuskan supaya tanahnya bisa laku dan terjual dengan harga tinggi," beber sumber kepada Bonepos.com.

6. Aturan soal Penemuan Harta Karun

Perlu dicermati, jika ada warga yang menemukan harta karun perlu melaporkan hasil temuannya itu kepada pihak yang berwenang. Jika tidak, sanksinya bisa pidana.

Soal penemuan harta karun ini diatur dalam UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya Pasal 23. Begini bunyinya:

Pasal 23

(1) Setiap orang yang menemukan benda yang diduga Benda Cagar Budaya, bangunan yang diduga Bangunan Cagar Budaya, struktur yang diduga Struktur Cagar Budaya, dan/atau lokasi yang diduga Situs Cagar Budaya wajib melaporkannya kepada instansi yang berwenang di bidang kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau instansi terkait paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak ditemukannya.

(2) Temuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak dilaporkan oleh penemunya dapat diambil alih oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

(3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), instansi yang berwenang di bidang kebudayaan melakukan pengkajian terhadap temuan.

Sanksi dari Pasal 23 kemudian diatur dalam Pasal 102, yaitu setiap orang yang dengan sengaja tidak melaporkan temuan dapat dipidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp500 juta. (her/ril)