Garuda Nyaris Bangkrut, Ini Dirut yang Selamatkan Garuda

Robby Djohan

BONEPOS.COM -  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Garuda Indonesia nyaris bangkrut karena utang yang besar kepada para keditur asing. Utang dalam dolar digunakan untuk menutupi kerugian selama tujuh tahun maskapai penerbangan nasional itu. Kondisinya menjadi sangat parah ketika krisis ekonomi pada 1998. Nilai tukar rupiah meroket menjadi Rp15.000 per dolar Amerika Serikat.

Presiden Soeharto menugaskan Menteri BUMN pertama, Tanri Abeng, untuk menyelamatkan Garuda. “Ini tentang Garuda yang akan dibangkrutkan oleh krediturnya. Tugas saudara menyelamatkan agar Garuda tidak di-grounded karena Garuda membawa bendera Republik,” kata Soeharto.

Soeharto menyerahkan map berisi berkas Garuda kepada Tanri Abeng. Soeharto yang menugaskan sepenuhnya perombakan direksi Garuda kepada Tanri Abeng.

Dalam No Regrets, Tanri Abeng menyebut tiga kriteria dalam memilih dirut Garuda yang baru. Pertama, agar keuangannya tidak berdarah-darah lagi, maka dia harus tahu keuangan. Kalau bisa dia berasal dari perbankan. Orangnya harus kredibel agar dapat dipercaya kreditur. Kedua, dia harus jujur agar dapat memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Ketiga, kepribadiannya harus kuat karena dia harus melakukan perubahan.

“Kriteria itu hanya ada di Robby Djohan,” kata Tanri Abeng yang telah mengenalnya selama 20 tahun. “Robby ketika saya tawari posisi tersebut menyatakan bahwa dia tak butuh kerjaan karena dia sudah kaya dan ingin pensiun.”

Tanri Abeng membujuknya. Robby bersedia dengan dua syarat “beri saya kewenangan mengambil orang-orang yang saya mau dan kasih waktu enam jam per hari.”

Tanri Abeng menyetujuinya dengan mengatakan, “Anda butuh enam, dua atau dua puluh jam sehari terserah asal pekerjaan selesai.”

Menurut Rheland Kasali dalam Change! Robby sendiri mengakui tak tahu apa-apa tentang bisnis penerbangan. Satu-satunya pengalaman yang dia miliki hanyalah menjadi penumpang. Selebihnya dia menghabiskan hidupnya di dunia perbankan (Bank Niaga) dan perhotelan). Wajar saja dia risau. Apalagi utang Garuda saat itu telah mencapai 1,2 miliar dolar, lebih besar dari seluruh asetnya.

Selain itu, Garuda memiliki karyawan hampir 13.000. Padahal kebutuhannya hanya sekitar 6.000 orang. Banyak rute yang tidak produktif, sepi penumpang tetapi dibiarkan bertahun-tahun. Citra pelayanannya buruk, sering delay tanpa pemberitahuan. Sehingga Garuda diplesetkan sebagai Garuda Always Relieble Until Delay Announced.

“Singkatnya, Garuda telah salah urus,” tulis Rhenald.

Menurut Roby Djohan dalam bukunya, The Art of Turn Around, manajemen Garuda tidak pernah diurus secara professional: pengangkatan CEO tidak berdasarkan keahlian manajerial, keputusan-keputusan strategis tidak diambil oleh direksi oleh siapa saja dari Cendana, BPPT, Menteri Perhubungan, atau Menteri Keuangan. Akibatnya, banyak kontrak aneh. Misalnya, pesawat Airbus 330 disewa dengan harga 1,2 juta dolar padahal hasilnya paling tinggi 800 ribu dolar. Belum lagi perilaku para direksi sebelumnya yang mencampuradukkan keperluan bisnis dengan keperluan pribadi.

Pada hari-hari pertama kerja, Robby disambut dengan demonstrasi karyawan Garuda. Kepada mereka yang menamakan diri Tim Reformasi, Robby mengatakan, “kesulitan utama memang adalah tidak adanya acceptance, karena organisasi seperti ini biasanya sudah dikuasai oleh establishment yang kuat. Sulit bagi mereka menerima seorang stranger yang dianggap belum tentu mampu dan jangan-jangan akan membubarkan establishment yang sudah dibangun. Tapi saya tidak mau mundur. Saya malah menyatakan bahwa Garuda sebenarnya sudah bangkrut dan saya di sini akan berusaha memperbaikinya.

Robby meminta kepada Tim Reformasi atau serikat pekerja tidak boleh ikut dalam soal manajemen. Soal kesejahteraan diselesaikan bersama. Tim Reformasi akhirnya tak terdengar lagi. Tapi juru bicaranya belakangan menjadi teman yang baik dalam pembenahan manajemen.

Menurut Tan Abeng, untuk menerbangkan Garuda agar bertahan di udara, Robby butuh uang Rp800 miliar untuk rasionalisasi karyawan. Dia berjanji selama satu tahun uang akan kembali. Ternyata, dalam delapan bulan saja utangnya telah dibayar.

Keberanian juga dibutuhkan untuk menghadapi kreditur. Sebagai bankir, Robby tahu caranya memperlakukan debitur-debiturnya saat mengalami kesulitan membayar. Dengan Emirsyah Satar, direktur keuangannya yang juga seorang bankir, dia berangkat ke London untuk berbicara dengan Bank Exim negara-negara Eropa.

“Benar saja, mereka langsung menggebrak, mengintimidasi dengan suara keras, dan mengancam akan menyita pesawat A330 yang disewa. Dengan tenang, Robby menjawab: “Saya datang bukan untuk memecahkan masalah saya tapi masalah anda. Alasan utama mengapa Garuda kolaps adalah karena bank-bank internasional memberikan pinjaman kepada Garuda yang keuangannya defisit. Dari pengalaman saya selama 30 tahun di bank, saya tidak dapat memahaminya. Dan jika Anda ingin mengambil kembali pesawat Anda, silakan lakukan karena tidak produktif bagi kami.”

“Negosiasi berlangsung alot awalnya, tapi Robby dan Emir Sattar tak mau mundur. Dia hanya mau membayar pinjaman dalam tempo 16 tahun dengan bunga satu persen di atas SIBOR (Singapore Interbank Offered Rate). Keras, tapi bisa berakhir dengan baik,” tulis Rhenald.

Tak sampai setahun Robby memimpin, Garuda selamat dari kebangkrutan. Baginya, restrukturisasi berarti membuang yang jelak-jelak dengan melakukan perubahan-perubahan mendasar. Kepemimpinan, proses manajemen dan operasional, penasaran, dan sebagainya diubah secara bersamaan.

Karena manajemen Garuda sudah bisa keluar dari kesulitan, Tanri Abeng memutuskan untuk menarik Robby kembali ke habitatnya di perbankan. Dia diminta Tanri Abeng untuk memimpin proses merger empat bank bermasalah menjadi Bank Mandiri.

“Ketika saya tawarkan posisi ini ke Robby, dia tak mau kembali ke dunia perbankan. Dia sudah terlanjur kecantol cantik-cantiknya pramugari Garuda,” kata Tantri Abeng. Namun, akhirnya Robby menerima tantangan untuk memimpin proses mega merger jadi Bank Mandiri.