Ancaman Krisis Pangan dan Pentingnya Sumber Daya Air, Bagaimana Kesiapan Bone?

Menurut data lembaga kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Population Fund (UNFPA), populasi dunia saat ini hampir 7,7 miliar dan akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada 2030, sebanyak 9,8 miliar pada 2050 dan 11,2 miliar pada 2100.

Menurut Botlin dan Keller, dalam Earth as a Living Planet, kapasitas Bumi hanya bisa menampung 2,5 miliar manusia jika cara hidup manusia seperti cara hidup orang Amerika.

Tapi kalau cara hidup manusia seperti orang Afrika, maka daya tampung Bumi dapat mencapat 40 miliar manusia.

Sekarang ini, manusia yang ada di Bumi sekitar 7 miliar orang. Luas daratan di permukaan Bumi yang semakin berkurang akibat erosi, mencairnya es di kutub, meningkatnya daerah yang tidak bisa dihuni, dan lain sebagainya menyebabkan jatah luasan per orang cuma sekitar 1,2 hektare.

1,2 hektare ini disebut sebagai "Biocapacity". Biokapasitas yang cuma 1,2 hektare harus dipakai secara bersama-sama oleh hewan lain dari semut hingga gajah, yang ke semuanya perlu makan, minum, buang limbah dan sebagainya.

Sementara itu, jatah 1,2 hektare tanah per orang harus digunakan untuk tanaman pangan, tanaman untuk sandang, papan, untuk perumahan, perabot rumah seperti furnitur dan lain sebagainya.

Di tanah yang 1,2 hektare itu pula harus digunakan untuk industri, pembuangan limbah industri. Mahluk hidup selain manusia (hewan dan tumbuhan) makan dan minum secukupnya, buang limbah pun dapat terus dimanfaatkan oleh makhluk lain, diantara sesama mereka pun ada yang saling makan.

Makhluk hidup yang bernama manusia, sebagian dari mereka makannya sangat banyak melebihi kapasitas perutnya sendiri. Dan, sebagian lagi sampai kekurangan makan.

Kapasitas Bumi untuk menampung manusia semakin berkurang, sementara itu jumlah manusia juga semakin bertambah, jumlah limbah yang berbahaya, beracun dan berbau juga semakin memenuhi Bumi, yang tentunya akan memengaruhi kualitas kehidupan manusia.

Jumlah sampah industri, sampah rumah tangga semakin memenuhi Bumi. Di Amerika, setiap lima menit ada 2 juta bekas botol minuman sebagai sampah.

Muncullah ide untuk me-reuse dan me-recycle barang-barang yang mungkin dilakukan seperti itu.

Kualitas udara semakin berkurang, kualitas air semakin buruk, penyakit menular mewabah, lalu apa usaha kita untuk menjaga Bumi ini tetap bersih dan layak huni?

Demikian juga persediaan energi yang kian menipis, maka semakin lengkaplah penderitaan manusia yang kurang beruntung nasibnya di dunia ini.

Gas susah, minyak tanah langka, bensin, solar kadang-kadang hilang dari pasaran. Lalu muncullah Bioteknologi yang dapat mengatasi masalah pencemaran lingkungan, dapat mengatasi masalah produsen pangan, dapat mengatasi berbagai penyakit, dapat mengatasi krisis energi.

Tapi bioteknologi muncul bukan tanpa efek samping. Tanaman transgenik sudah banyak mendapat protes dimana-mana, karena berbagai sebab. Inilah renungan untuk kita yang masih perlu hidup di Bumi ini, bagaimana pula nasib anak cucu kita.

Ancaman Krisis Pangan Global

Indonesia yang sementara memperbaiki tatanan ekonominya dan berusaha keluar dari terpaan krisis ekonomi sejak tahun 1997, bekerja keras untuk kembali bangkit dari berbagai persoalan tersebut.

Belum saja persoalan ekonomi dan politik terselesaikan, muncul lagi persoalan baru berupa krisis kelangkaan pangan. Ketika kelangkaan pangan ini tidak menemukan solusi, maka hal tersebut tentunya berimbas pada pembangunan bangsa ke depannya.

Juga akan kembali menggerogoti berbagai bidang termasuk ekonomi dan politik. Dari problematika yang dihadapi ini serta merta dikembalikan pada bagaimana kebijakan pemerintah dalam menghadapi persoalan tersebut dan bagaimana usaha masyarakat kita untuk tetap bertahan hidup.

Konsumsi Pangan

Menurut sebuah laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), rata-rata setiap individu mengonsumsi sekitar 1,4 kilogram per hari. 400 gram diantaranya adalah produk sereal seperti roti.

Pada Maret 2012 saja, populasi dunia mencapai angka 7 miliar dan membutuhkan sekitar 9,8 miliar kilogram pangan setiap hari.

Populasi dunia tumbuh dengan cepat dan bersamanya datang permintaan akan pangan. Menurut PBB, sekitar 9,3 miliar orang akan bermukim di Bumi tahun 2050.

Ekonomi global juga akan tumbuh dan warga dunia akan memiliki lebih banyak uang ketimbang sekarang. Mereka yang memiliki uang juga akan mampu membeli lebih banyak pangan.

Menurut FAO, pada tahun 2050, setiap individu akan mengonsumsi sekitar 14 persen lebih banyak kalori. Ini berarti permintaan pangan juga akan meningkat drastis. Apabila investasi bagi sektor pertanian juga ikut naik, FAO memperkirakan sekitar 60 persen lebih banyak pangan akan diproduksi tahun 2050.

Potensi Masalah Penyebab Krisis Pangan

1. Jumlah penduduk yang semakin bertambah
Sebagaimana penjelasan di atas jumlah penduduk yang semakin bertambah sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan manusia.

2. Cuaca ekstrem
Cuaca ekstrem yang memengaruhi iklim global dewasa ini juga memengaruhi kesediaan pangan. Banyak kasus gagal panen beberapa dasawarsa terakhir ini disebabkan oleh iklim ekstrem seperti kemarau berkepanjangan banjir dan lain lain

3. Semakin sempitnya lahan penyedia pangan yang disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk kepentingan pembangunan, perumahan, industri, dan lain lain.

Kabupaten Bone Ketahanan Pangan dan Ancamannya di Masa Depan

Saat ini kabupaten Bone menyumbang lebih dari 30 persen ketahanan pangan di Sulawesi Selatan. Hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Namun demikian kabupaten Bone tidak terlepas dari ancaman krisis pangan di masa depan.

Dalam teori manajemen pemerintahan, pemerintah harus mampu menyusun skala prioritas kebijakan dalam mengatasi masalah pembangunan dan sosial kemasyarakatan, permasalahan tersebut secara sederhana dapat dibagi sebagai berikut:

Pertama, prioritas kebijakan jangka pendek dan segera. Prioritas kebijakan seperti ini pada umumnya adalah kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan, kesehatan, pendidikan dan pelayananan dasar lainnya. Pada pola prioritas kebijakan seperti ini kecepatan dan ketepatan menjadi hal yang penting.

Kedua, prioritas kebijakan jangka menengah. Prioritas kebijakan seperti ini dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan di masa menengah seperti pengembangan SDM, rencana tata ruang wilayah yang membutuhkan roadmap pembangunan yang adaptif terhadap lingkungan global.

Ketiga, prioritas pembangunan jangka panjang. Skala prioritas pembangunan seperti ini membutuhkan visi ke depan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang diperkirakan terjadi di masa mendatang namun harus dikerjakan mulai dari sekarang.

Ancaman ketahanan pangan sudah menjadi ancaman global dunia dan itu juga berlaku di Kabupaten Bone. Kita sama-sama mengetahui sebagian besar masyarakat Bone adalah petani dan menjadi penyangga ketersediaan pangan Sulawesi Selatan khususnya beras. Bagi masyarakat pertanian yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan air.

Ancaman Ketersediaan Sumber Air

Masalah air di kabupaten Bone kalau tidak diantisipasi mulai dari sekarang kelak akan menjadi masalah yang sangat serius di masa depan.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi, alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan hutan, dan daerah resapan air sangat memengaruhi ketersediaan air di kabupaten Bone.

Dampaknya sudah mulai terasa beberapa waktu lalu, saat terjadi musim kemarau panjang bahkan masih terasa sampai sekarang.

Beberapa wilayah di Bone mengalami krisis air bersih. PDAM kewalahan dalam mendistribusikan air bersih kepada warga sehingga harus dilayani secara mobile dan itupun jauh dari mencukupi.

Kejadian ini terjadi salah satunya adalah berkurangnya debit sumber air di kabupaten Bone sementara pertumbuhan kawasan perumahan yang harus dilayani semakin banyak. Tentu akan terjadi kekurangan suplai air.
Di sadari atau tidak sumber mata air di kabupaten Bone semakin lama semakin berkurang dan sekali lagi ini menjadi ancaman yang serius di masa depan apabila tidak ditangani secara serius mulai saat ini.

Menjaga dan memelihara sumber air di Bone tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah sendiri, tapi harus komitmen kuat dari seluruh masyarakat Bone. Kita tentu tidak menginginkan kelak anak cucu kita akan mengalami krisis air dan krisis pangan akibat di masa sekarang kita lalai mengantisipasi hal tersebut.

Untuk itu, mari kita bersama berkomitmen menjaga sumber-sumber air di kabupaten Bone. Peran aktif dan sinergitas pemerintah sampai tingkat terbawah, pendamping desa, ormas, dan seluruh masyarakat sangat dibutuhkan.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi program prioritas dalam menjaga sumber mata air di kabupaten Bone seperti mengembalikan fungsi hutan dan daerah resapan air, menanam pohon, rencana tata ruang dan wilayah yang pro lingkungan, menjaga keseimbangan ekologi dan lingkungan dengan menjaga alam sekitar.

Terakhir mari kita jaga sumber mata air kita untuk kita wariskan kepada anak cucu kita kelak. (Dray Vibrianto/Kepala BPBD Kabupaten Bone)