Wah, Oknum Guru di Bone Cekik Siswa di Sekolah – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Wah, Oknum Guru di Bone Cekik Siswa di Sekolah

  • Bagikan
Ilustrasi

BONEPOS.COM, BONE– Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Oknum guru Penjas AB (40) di SMP 6 Watampone diduga mencekik siswa saat acara Porseni, 18 Desember 2019.

Kejadian bermula saat pertandingan futsal antar kelas hendak digelar. Mempertemukan kelas IX C kontra IXB. Namun saat kelas IXC sedang persiapan mengganti pakaian, pihak panitia porseni menggugurkan tim dari kelas IXC.

Sesaat kemudian salah satu anggota tim, FY (15) hendak melakukan komplain ke panitia AI dan mempertanyakan perihal digugurkannya tim dari kelas IXC. Padahal sudah sesuai dengan skema pertandingan.

Perdebatan pun tak terelakkan, hingga salah satu guru AB (40) hendak mendorong Fahromi. Namun, Fahromi menangkap tangan oknum guru dengan maksud hendak menangkis dari dorongan sang guru.

Baca Juga  Proyek PL Dinas Pertanian Bone Disorot, Gapensi Tantang Kadis Debat Publik

Namun sang guru langsung berucap “melawan ini!”.

“Setelah mengucapkan kalimat tersebut, oknum guru tersebut maju beberapa langkah dan langsung mencekik dan kejadian ini disaksikan banyak siswa yang sedang mengikuti Porseni yang sementara berlangsung di sekolah tersebut,” jelas korban kepada Bonepos.com, Jumat (10/1/2020).

Pihak sekolah yang dihubungi Bonepos.com, membenarkan hal tersebut. Sayangnya, pihak sekolah masih belum terlalu ingin memberikan penjelasan lebih jauh.

“Belum pasti. Karena masih sementara proses. Datang saja besok (11/1/2020) di kantor karena saya lagi di acara ini,” ucap Andi Hasyim, Kasek SMPN 6 Watampone.

Baca Juga  Gara-gara Medsos, Picu Perceraian Rumah Tangga TNI di Korem Bone

Kejadian tersebut sudah dilaporkan oleh pihak siswa yang didampingi oleh kakak kandung dari siswa tersebut ke Polres Bone dengan nomor laporan: LP/828/XII/2019/SPKT/RES BONE, 18 Desember 2019.

Pengacara pelapor, Muhammad Ashar Abdullah saat dikonfirmasi Bonepos.com menerangkan, kliennya saat ini masih sedikit rasa takut dan trauma, pasca kejadian tersebut.

“Untungnya pihak keluarga klien saya selalu mendampingi dan memberikan semangat dan support kepada klien saya. Sebenarnya sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Dan guru adalah orang tua kedua pula bagi siswa. Sangat disayangkan adanya kejadian tersebut,” tuturnya. (ash-her/ril)

Temukan Kami:
  • Bagikan