Aturan Baru, Segini Usia yang Dibolehkan Menikah

BONEPOS - GRAFIS Ilustrasi

BONEPOS.COM, SINJAI - Orang tua tidak boleh lagi asal menikahkan sang buah hati. Ada aturan baru yang mengatur.

Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sinjai intens melakukan sosialisasi terkait perubahan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kementerian Agama Sinjai, Abd Hafid, Selasa (21/1/2020).

Abd Hafid menyebutkan, perubahan Undang-undang tersebut menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang telah disahkan Presiden RI pada 14 Oktober 2019 lalu di Jakarta.

Hafid menuturkan, Undang-Undang tersebut telah diberlakukan secara nasional dari jajaran Kementerian Agama.

Dengan perubahan ini, tentunya sangat penting untuk diketahui oleh seluruh kalangan masyarakat. Mengingat untuk persentase peristiwa pernikahan anak di bawah umur dari tahun ke tahun semakin meningkat.

"Dengan demikian, perubahan UU tersebut merupakan regulasi yang menjadi pegangan kita. Makanya di setiap ada pertemuan khususnya di lintas sektoral selalu kita sampaikan terkait perubahan UU ini," ujarnya.

Dia menjelaskan, di dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974 yang telah diubah tersebut, di dalamnya ada batasan untuk usia perkawinan yang hanya diizinkan jika usia prianya 19 tahun dan pihak wanitanya berusia 16 tahun.

Setelah adanya perubahan atau revisi UU ini, maka usia perkawinan sekarang ini disamakan, baik pihak pria dan wanita, keduanya harus berumur 19 tahun.

"Saya kira dengan perubahan UU ini pemerintah mencoba ingin menguji tingkat kedewasaan calon pengantin. Berdasarkan penelitian kasus-kasus perceraian yang ada di pengadilan agama akibat dari pernikahan di usia dini," ungkapnya.

"Kita sudah memberlakukan perubahan UU ini di seluruh kantor urusan agama di setiap kecamatan yang ada di Sinjai. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada komplain dari masyarakat tentang batasan usia perkawinan dalam perubahan UU ini, karena didalam undang undang Nomor 16 Tahun 2019 ini jelas bukan untuk mempersulit sistem perkawinan terkait dengan usia cuma hanya batasan saja," sambungnya.

Beda halnya ketika ada kasus yang 'terdesak' harus menikah sementara usianya belum 19 tahun.

Hafid menambahkan, ketika ingin melangsungkan pernikahan secara normal dan tercatat pada Kantor Urusan Agama, dimana Undang-Undang tersebut memberikan ruang untuk meminta dispensasi nikah ke pihak Pengadilan Agama.

"Pengadilan agama yang akan memutuskan layak atau tidaknya pernikahan dilangsungkan, dengan alasan mendesak disertai dengan bukti-bukti yang cukup agar bisa dijadikan pertimbangan dan dasar untuk diberikan dispensasi, yang kemudian dilanjutkan ke kantor urusan agama untuk melakukan pencatatan nikah," pungkasnya. (air/ril)