Kenali Lebih Jauh Konsep Pembangunan Makassar ala Deng Ical

BONEPOS.COM, MAKASSAR – Bakal Calon Wali Kota Makassar, Dr Syamsu Rizal yang beken disapa Deng Ical didaulat menjadi narasumber Seminar Nasional dan Temu Alumni Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (6/2/2020).

Alumni program doktor administrasi publik ini, diminta menjawab satu pertanyaan, “Apa yang akan dilakukan jika terpilih jadi Wali Kota Makassar?”.

Dalam waktu 20 menit, Deng Ical menjelaskan, Makassar dengan kebesarannya hari ini tidak diperoleh secara serta merta.

Akan tetapi, brand-nya sudah dibangun sejak zaman dahulu. Mulai dari para pelaut ulung, para pejuang, hingga semua tokoh yang sudah membesarkan nama Kota Makassar.

“Sederet nama besar dimulai dari Jenderal Jusuf, Pak Jusuf Kalla dan nama-nama besar lainnya. Sehingga kita semua bertanggung jawab untuk menjaga kebesaran, kelestarian, dan keberlanjutan Kota Makassar untuk generasi mendatang, untuk anak cucu kita,” papar Deng Ical yang menjadi narasumber Bersama mantan anggota DPR RI, Akbar Faizal.

Karena itu, untuk menjaga keberlanjutan Kota Makassar, ke depan, Deng Ical menawarkan konsep Sombere City harus didampingi Smart City.

“Ini penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan di Kota Makassar,” tambahnya.

Sebab, potensi yang dimiliki Kota Makassar, dengan luas wilayah 175 km lebih dan penduduk 1,7 juta jiwa, sangat berbahaya jika tidak dijaga.

“Struktur ekonomi Kota Makassar tidak ada yang dominan. Akan tetapi, kontribusi Makassar untuk ekonomi Sulsel itu mencapai 33, 41 persen,” jelasnya.

Kota Makassar, lanjut Deng Ical, menduduki posisi empat teratas kontribusi ekonomi untuk Sulsel. Setelah Makassar, ada Lutim, Pangkep, dan Bone.

“Kalau ini empat daerah saja menggabung, atau Makassar dan Lutim saja 'merdeka', itu akan sangat memengaruhi ekonomi Kota Makassar,” tuturnya.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Kota Makassar selalu di atas rata-rata nasional. Bahkan, hampir mencapai dua kali lipat di atas nasional.

Malah, pernah di era kepemimpinan Wali Kota, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), dalam pidato kenegaraan SBY, dipuji karena pertumbuhannya di atas Tiongkok.

Pada sisi lain, rasio Kota Makassar dalam posisi membahayakan. Kesenjangan sosial yang cenderung mengarah pada kerusuhan sosial.

Apalagi di Kota Makassar, semua agama ada, semua suku ada. Ditambah lagi dengan disparitas ekonomi yang terus menganga lantaran migrasi yang tidak berhenti.

“Inilah sederet alasan yang membuat Makassar harus benar-benar kita jaga. Karena kalau Makassar hancur, seperti pernah kasus SARA yang terjadi, bisa mundur ekonomi kita sampai dua dekade,” ujar mantan Wakil Wali Kota Makassar ini.

Bagaimana caranya untuk menjaga? “Kuncinya, tidak boleh pembangunan ini membuat ada pihak yang merasa diabaikan. Sebaliknya, semua harus mengambil peran. Tidak boleh juga ada yang apatis, sehingga menyerahkan sepenuhnya pembangunan kepada pemerintah. Harus ki semua mengambil peran, tidak boleh membiarkan pemerintah bekerja sendiri,” pesannya. (rls/ril)