Gegara SeLi; Amalan Berlipat atau Dosa Berlipat

BONEPOS.COM - ISTIMEWA Bahtiar Parenrengi

BONEPOS.COM - Ngopi bareng bersama teman-teman, memunculkan berbagai cerita menarik. Salah satunya, tentang sepeda lipat atau SeLi.

Menurut cerita seorang sahabat, SeLi kayaknya merasuki pikiran banyak orang. Entah anak-anak, remaja hingga orang tua. Banyak membincangkan soal SeLi. Mulai dari enaknya memakai SeLi, harganya hingga kerennya berselfie bersama SeLi.

Tak heran, ketika berada di jalanan, terlihat banyak orang memakai SeLi. Entah sendiri atau bareng dengan komunitas. Ini telah menjadi tren baru dan seolah menjadi pelengkap status.

Dalam berbagai literasi, Sepeda lipat (Folding Bike) tak hanya diminati para pekerja kantoran di kota-kota besar.

Karena kepraktisan dalam pengoperasian dan juga mudah dibawa, membuat kalangan militer seperti Tentara Amerika untuk menggunakan sepeda lipat sebagai “Alutsista” tambahan.

Kita pun dikejutkan sebuah berita beberapa waktu yang lalu, petugas bea cukai menemukan SeLi Brompton baru di kabin pesawat.

Direktorat Jenderal Bea Cukai menginvestigasi dugaan penyelundupan onderdil Harley Davidson dan sepeda Brompton yang diangkut pesawat Airbus A330-900neo milik PT Garuda Indonesia Tbk pada 18 November lalu. Dan harga sepeda tersebut mencapai Rp52 juta per unit.

Dengan kasus ini, kita pun disuguhi berita berlipat-lipat. Muncul pula prediksi bernuansa politis yang berlipat pula. Dan bahkan ada yang tumbang karena tersenggol sepeda lipat.

Berlanjut dari obrolan warung kopi teman-teman itulah, ternyata sepeda lipat tak hanya membuat sehat saat dipakai berolahraga. Tapi bisa juga membuat kita mati gaya saat dijadikan "barang selundupan".

Sepeda lipat juga bisa menjadi mediator bersilaturahmi, yang bisa mengantar kita mendapatkan amal yang berlipat. Dan harus pula disadari bahwa, sepeda lipat bisa menjadi pemicu dosa berlipat-lipat saat nawaitu melenceng.

Ada proses keegoisan, keakuan dalam memiliki sepeda lipat yang harganya selangit. Kita bisa terjebak dengan perasaan riya', ketika muncul perasaan status sosial merambat naik. Keikhlasan atau nawaitu bersih tercoreng. Sehingga prinsip ke Ilahian tergeser dalam rayuan iblis. Proses Bismirabbiq tak lagi berfungsi sehingga jalur kesadaran menjadi abai.

Lipatkanlah amalanmu saat engkau bersepeda lipat. Lipatlah keegoisanmu saat menikmati sepeda lipat keliling kampung. Lipatkanlah amalan senyumanmu walau belum bisa memberi.

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah engkau menyenangkan seorang Muslim, atau engkau mengatasi kesulitannya, atau engkau menghilangkan laparnya, atau engkau membayarkan utangnya". (Bahtiar Parenrengi/ril)