Antara Sindrom Corona dan Politik Sindrom

Kalaulah kita membaca judul tulisan ini, pasti kita akan bertanya, apa hubungan sindrom terhadap penyakit yang diakibatkan oleh suatu virus dengan politik yang sejatinya bukanlah virus, meskipun ada juga yang mengatakan bahwa politik itu juga virus yang lebih mematikan di banding virus itu sendiri, tentu benang merahnya adalah implikasi yang di timbulkannya.

Namun, sebelum kita lanjut ke pembahasan yang lebih fokus terhadap keduanya, mari kita simak terlebih dahulu seluk beluk sindrom virus corona dan syndrome politic (arah pembahasan virus politic ini, lebih ditekankan pada kekuasaan)

Sindrom, dalam ilmu kedokteran dan psikologi, adalah kumpulan dari beberapa ciri-ciri klinis, tanda-tanda, simtoma, fenomena, atau karakter yang sering muncul bersamaan. Istilah ini sering digunakan untuk merujuk kumpulan tanda klinik yang masih belum diketahui penyebabnya Apa itu Virus Corona?

Bentuk virus yang masih bersaudara dengan penyebab SARS dan MERS ini persis mahkota. Bentuk mahkota ditandai protein S berupa sepatu yang tersebar di sekeliling permukaan virus.
Perhatian terhadap penyebaran virus Corona atau Coronavirus masih ditunjukkan seluruh dunia. Apalagi Filipina melaporkan kasus kematian pertama akibat 2019-nCoV atau Novel Coronavirus.

Sementara, Indonesia baru saja memulangkan 238 warganya dari Wuhan yang merupakan asal virus Corona. Mereka ditempatkan di Hanggar pangkalan udara Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), yang dijadikan lokasi observasi, juga 68 orang yang dievakuasi dari kapal pesiar Jepang.

Dan yang terbaru pengumuman Presiden Jokowi yang merilis bahwa Indonesia juga sudah ditemui penderita akibat virus "mematikan" yang ditularkan oleh seorang ekspatriat dari Jepang. Hingga tulisan ini dibuat, pemerintah menyebutkan telah ada 14 orang positif.

Apa itu virus Corona? Bentuk virus yang masih bersaudara dengan penyebab SARS dan MERS ini persis mahkota. Bentuk mahkota ditandai protein S berupa sepatu yang tersebar di sekeliling permukaan virus.

Dikutip dari situs LIPI, virus Corona memiliki satu rantai RNA sehingga kerap disebut virus RNA. Virus jenis ini bermutasi lebih cepat dibanding DNA hingga satu juta kali.

Virus Corona Paramyxovirus sempat muncul dalam mesin pencarian Google. Keduanya adalah virus yang berbeda meski sama-sama bisa menginfeksi manusia dari hewan. Penyakit yang disebabkan Paramyxovirus adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), Newcastle disease, dan parainfluenza.

Dikutip dari situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus infeksi virus Corona yang dilaporkan ada yang menunjukkan gejala dan tidak. Untuk kasus Coronavirus yang dilaporkan gejalanya adalah:

a. Demam
b. Batuk
c. Napas pendek

Menurut CDC, gejala virus Corona mungkin sudah terlihat mulai 2-14 hari. Perkiraan ini dibuat berdasarkan masa inkubasi virus Corona dalam kasus MERS. Namun berbeda dalam kasus MERS, infeksi 2019-nCoV bisa menyebar dari pasien yang tidak menunjukkan gejala namun sempat berkomunikasi dekat dengan orang lain.

Hingga saat ini riset masih terus dilakukan terkait virus Corona 2019-nCoV dan penanganan terbaik untuk korban. yang diketahui hingga saat ini, Coronavirus adalah keluarga besar virus yang banyak ditemukan di beberapa binatang misal unta, kucing, dan hewan ternak.

Dalam beberapa kasus, virus Corona menginfeksi manusia dan menyebar seperti pada kasus MERS, SARS, dan 2019-nCoV.

Virus Corona menyerang siapa? Dikutip dari The Guardian, korban yang meninggal karena Coronavirus umumnya sudah tua dan sudah memiliki masalah kesehatan sebelumnya. Mereka memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga mudah terinfeksi virus Corona 2019-nCoV. Namun pemerintah China punya lima kasus kematian akibat virus Corona yang usianya kurang dari 60 tahun, yaitu 36, 50, 53, 55, dan 58 tahun.

Karena itu, sangat penting melakukan usaha preventif untuk melindungi diri dan infeksi virus. Usaha preventif harus dilakukan dari berbagai lapisan usia, meski punya daya tahan tubuh yang baik.

Usaha pencegahan virus Corona makin penting karena hingga kini belum ditemukan vaksinnya. Pencegahan menghadapi virus Corona harus dilakukan setiap hari dari segala lapisan usia. Berikut ini usaha pencegahan virus Corona dikutip dari CDC:

a. Cuci tangan dengan air dan sabun minimal 20 detik, atau pencuci tangan yang minimal mengandung 60 persen alkohol
b. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci
c. Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit
d. Tinggal di rumah jika sedang sakit
e. Gunakan masker

Sindrom Kekuasaan

Fenomena macam ini dalam ranah politik, boleh disebut sebagai sindrom kekuasaan. Kalau diamati, sedikitnya ada tiga jenis sindrom seperti ini. Yaitu sindrom atau penyakit pasca-kuasa (Post-Power Syndrome) dan penyakit pra-kuasa (Pre-Power Syndrome) serta Penyakit orang yang sedang berkuasa (In-Power Syndrome).

Istilah Post-Power Syndrome digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berprilaku aneh-aneh setelah tidak lagi memegang jabatan kekuasaan, termasuk misalnya gemar mengkritik pemerintahan yang kadang malah nampak berlebihan dan sok reformis.

Pre-Power Syndrome diistilahkan untuk orang yang sebelum berkuasa begitu gemar memromosikan diri untuk meraih kekuasaan. Sedangkan In-Power Syndrome adalah gambaran bagi orang yang sebelum berkuasa perilaku dan ucapannya seperti ‘orang bener’, tapi ketika berkuasa ia mulai lupa diri dan mati-matian mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Yang jelas, apapun jenisnya, penyakit tersebut bertujuan menggerogoti individu dengan iming-iming kekuasaan, hingga pada akhirnya, dia menjadi ‘budak’ atau tawanan kekuasaan.

Ada satu contoh menarik berkisar tentang penyakit kekuasaan yang bersumber dari negeri seberang. Tersebutlah seorang profesor sejarah dari Harvard University bernama Henry Kissinger. Dulu, sebelum diangkat presiden Richard Nixon menjadi penasehat pemerintah dan ketua NSC (National Security Council), dia adalah sosok yang selalu mengkritik pemerintah.

Nah, ketika dia memangku jabatan tersebut di atas, dia pun mulai membela pemerintah. Setelah itu, Nixon mempromosikannya menjadi menteri luar negeri. Maka bertambahlah pekerjaannya untuk membela setiap kebijakan pemerintah. Tetapi, begitu dia turun jabatan dan tak lagi menjadi orang pemerintahan, mulailah lagi dia kritis pada pemerintahan.

Penyakit atau sindrom kekuasan bisa terjadi di mana pun. Sindrom tersebut bukan monopoli salah satu atau beberapa tempat atau negara tertentu saja. Semua manusia mempunyai kemungkinan dan kelemahan untuk terjerumus ke dalam jurang itu. Bila sudah terkubang di sana, seseorang akan sulit untuk berkata jujur dan benar. Sebab dasar perbuatannya adalah subyektifitas semata untuk mencari dan atau memertahankan kekuasaan pribadi.

Benang Merah hubungan keduanya

[ ] Paling tidak ada tiga persamaan yang dapat ditelusuri, pertama, asal mula keberadaannya menjadi misteri, dan melalui berbagai uji materi yang dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan, barulah dapat diprediksi kemungkinan asal muasalnya.

Pada virus corona, ada yang mengatakan berasal dari kelelawar, unta, ular dan bahkan binatang ternak, sementara politik bisa saja berasal dari bakat yang terbawa atau pengaruh lingkungan serta ambisi yang berlebihan untuk merengkuh kekuasaan.

Untuk mengukur bakat, pengaruh lingkungan dan ambisi itu sangat sulit untuk dihitung secara matematis, oleh karena itu persoalan rasa, selera, atau bahkan bisa berupa penyakit yang berasal dari adanya "penyimpangan" kromosom. Jadi masih "ghaib" untuk menarik kesimpulan untuk itu, kedua, implikasi yang ditimbulkan juga sama besarnya atau bahkan satu diantara keduanya saling berlebihan.

Contoh, ketika merebak virus Sars maupun Mers, telah menelan korban lebih dari sepuluh ribu orang diberbagai negara, di mana kedua virus ini satu rumpun dengan virus corona. Pun syndrome politic telah menjadi "penjemput" maut hingga puluhan ribu orang di Venuzuela dan sejumlah negara diberbagai belahan dunia, akibat dari "pertikaian kekuasaan.

Saat ini, korban virus corona telah menghampiri 3000 orang, yang bila dibandingkan dengan korban yang jatuh sepanjang sejarah pertempuran perang Iran-Iran di tahun 80an, tentulah lebih banyak lagi. Tetapi , intinya sama sama menelan korban yang jumlahnya besar, ketiga, penanganannya tidak mudah dan membutuhkan waktu, serta kerugian yang ditimbulkan idem ditto.

Bayangkan saja, sejak menjadi bahan pembicaraan dunia sejak bukan desember tahun lalu, dampak dari wabah virus corona ini membuat negara china dan berdampak, termasuk Indonesia harus mengoreksi pertumbuhan ekonominya.

Yang paling parah adalah China, sumber dari virus ini, telah membuat pemerintahnya harus "menelan" pil pahit ekonomi yang jauh lebih tragis dari krisis ekonomi yang pernah dialaminya, pada saat yang sama, Suriah yang dilanda perang saudara akibat dari sindrom kekuasaan (baca syndrome politic) telah membuat ekonomi mereka bertumpu pada bantuan negara donor.

Sungguh, persamaan itu menjadi nyata ketika suatu wabah penyakit fisik di satu sisi, dan penyakit hati akibat dari ambisi politik tanpa kendali itu bersemayam pada pemimpin yang haus kekuasaan, punya akibat yang sama. Yakni korban jiwa.

(M. Ridha Rasyid - Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan)