Hari Jadi Bone ke-690, Refleksi Untuk Kemandirin

Muhammad Aras Prabowo

Ibarat manusia memiliki klasifikasi umur mulai balita, kanak-kanak, remaja dewasa hingga lansia umur Bone yang telah menginjak 690 Tahun kira-kira masuk dalam kategori dewasa untuk sebuah wilayah.

Atau paling tidak, sudah cukup mapan dalam menjalani kehidupan seperti manusia dengan umur 36-45 atau dewasa akhir. Artinya bahwa disitulah umur yang paling produktif, menduduki puncak karir terbaik.

Telah banyak menghadapi pengalaman hidup, kemajuan maupun keterpurukan. Sehingga mapan, yaitu mampu menyelesaikan berbagai tantangan dan persolan kehidupan dengan berbagai alternatif.

Segala resiko mampu dikelolah dengan terukur hingga bermanfaat ekonomis dan peluang mampu dimaksimalkan hingga berkelanjutan.

Kira-kira seperti itu harapan kita dihari jadi Bone ke-690. Harapan itu tentu kita sandarkan pada punggung Bupati Kabupaten Bone Bapak Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi M.Si. dan Wakil Bupati Drs. H. Ambo Dalle M.M. serta seluruh jajarannya. Apalagi Bupati dan Wakil Bupati adalah priode kedua mereka berdua.

Kemudian Ketua DPRD Kabupaten Bone Bapak Irwandi Burhan, S.E.,M.M. dan jajarannya sebagai representasi masyarakat di legislatif Kabupaten Bone. Kedekatan para legislatif kepada masyarakat tentu kita harapkan memiliki pemahaman yang komprehensif terkait konteks wilayah dan kebutuhan masyarakat.

Jika kita mengandaikan bahwa hari jadi Bone ke-690 merupakan usia yang cukup dewasa maka seharusnya realitas masyarakat Bone telah menunjukkan kemandirian dan kesejahteraan. Seperti yang saya sampaikan bahwa umur yang paling produktif dan menduduki puncak karir terbaik (kemandirian dan kesejahteraan).

Tentu untuk mencapai tujuan itu Pemerintah Kabupaten Bone dan jajarannya harus mampu menjawab tantangan dan persolan masyarakat dengan berbagai alternatif. Segala resiko mampu dikelolah dengan terukur hingga bermanfaat ekonomis dan peluang mampu dimaksimalkan hingga berkelanjutan.

Dengan berbekal dua priode, saya kira memiliki pemahaman yang sangat komprehensif mengenai konteks wilayah dan kebutuhan masyarakat. Kemudian dirumuskan dalam bentuk perencanaan, anggaran, pelaksanaan, realisasi, out put dan out come (kemandirian dan kesejahteraan).

“Namun akan berbeda jika priode terakhir ini didominasi oleh kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tertentu, tapi sebagai masyarakat saya tetap menggantukan sejumlah harapan kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat”.

Untuk mewujudkan kemandirian masyarakat, perencanaan program harus berdasarkan konteks wilayah dan kebutuhan masyarakat. Pertanian, perkebunan, Peternakan dan perikanan adalah empat mata pencaharian yang mendominasi di Kabupaten Bone, beberapa wilayah memiliki potensi wisata.

Jika dianalisa lebih dalam lagi, akan menghasilkan perencanaan yang lebih spesifik atau detail dalam ilmu akuntansi. Artinya bahwa perencanaan dilakukan dengan sangat terperinci sehingga mampu menjawab persoalan yang dihadapi.

Misalnya dalam soal pertanian, hampir masalah klasik yang dihadapi petani setiap tahun adalah kelangkaan pupuk. Setiap kali tiba masa pemupukan padi terjadi kelangkaan pupuk sehingga mengakibatkan pelambatan pertumbuhan padi yang berimplikasi pada penurunan hasil panen.

Sudah barang tentu jika terjadi penurunan hasil panen akan mengakibatkan penurunan pendapatan pada petani. Implikasi penurunan pandapatan bisa berdampak luas dan menjadi salah satu penyebab sulitnya untuk mencapai kemadirian masyarakat.

Salah satu impikasinya dibidang pendidikan yaitu tidak mampu membayar tagihan sekolah dan atau kuliah yang akhirnya putus sekolah. Selanjutnya bidang kesehatan yakni tidak mampu memenuhi gizi badan dengan makanan empat sehat lima sempurna yang akhirnya jatuh sakit,belum biaya rumah sakit.

“Satu masalah yang tidak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan masalah yang lain”.

Jika melihat fenomena di atas, pemecahan masalahnya cukup dengan menjaga ketersedian pupuk pada masa-masa pemupukan agar hasil panen bisa meningkat atau penyediaan bahan lainnya seperti racun untuk penanggulangan hama.

Namun jika menganalisa dampak dari pupuk dan racun kimia yang bisa mengurangi tingkat kesuburan tanah dalam jangka panjang, maka pemecahan tersebut bukan solusi jangka panjang bagi petani. Sebab yang harus dipikirkan pemerintah Bone adalah aspek keberlanjutan lahan pertanian dan perkebunan yang tentu berimplikasi dengan aspek keberlanjutan pendapatan petani.

Salah satu alternatif untuk mewujudkan keberlanjutan lahan yaitu mengembalikan kesuburan tanah dengan metode pertanian dan perkebunan alami. Artinya bahwa pemerintah Bone harus banyak berinvestasi atau mengarahkan perencanaan program pada pertanian dan perkebunan alami.

Tentu peran yang tidak kalah pentingnya adalah penyuluh pertanian disetiap kecamatan atau desa sebagai ujung tombak dalam membimbing para petani terkait metode pertanian alami dalam pemeliharaan padi. Mereka ini perlu disertifikasi dan diberi pelatihan secara berkelanjutan guna memperluas wawasan terkait pertanian dengan metode alami.

Selanjutnya dibidang peternakan, karena Kabupaten Bone memiliki cukup luas lahan yang belum terjamah atau lahan kosong hal tersebut bisa dimanfaatkan dengan membuat perencanaan program pengadaan sapi dengan menerapkan metode teseng (bagi hasil) kepada masyarakat. Termasuk membuka lahan pertanian kemudian diterapkan metode teseng kepada masyarakat dalam mengelolahnya.

Motode teseng telah diterapkan pada masa awal kerajaan Bone dalam mengelolah asset yang dimiliki kerjaan. Disamping sebagai program dalam membangun kemandirian masyarakat pada saat itu.

Jika mereka telah memiliki kemampuan ekonomi dari hasil teseng, tentu mereka akan membeli asset (sawah) kemudian dikelolah secara berkelanjutan hingga mandiri secara ekonomi. Dengan kemandiriannya, mereka mampu mengakses dibidang pendidikan dan mampu memenuhi kebutuhan gizi dibidang kesehatan.

Saya kira dihari jadi bone ke-690 bisa menjadi titik tumpuh untuk merefleksikan Bone dimasa lalu, Bone saat ini dan Bone dimasa yang akan datang untuk mewujudkan kemandirian masyarakat. Yaitu dengan merumuskan perencanaan program berdasarkan konteks wilayah dan kebutuhan masyarakat baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia & Pemuda Bone)