Solusi Kasus Penimbunan Masker Dan Hand Sanitizer

BONEPOS.COM - IST Siti Aisyah - Mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Masker dan hand sanitizer begitu banyak dicari orang sebagai sarana proteksi diri dari virus Corona (COVID-19). Namun saat ini masker dan hand sanitizer sudah langka di pasaran. Baru-baru ini virus Corona (COVID-19) masuk ke indonesia.

Menurut kemenkes di Indonesia pada tanggal, 20 Maret 2020 sudah ada 369 orang pasien positif, 17 pasien telah sembuh dan 32 telah meninggal dunia.

Hand sanitizer adalah produk pembersih tangan berbasis alkohol yang bisa berbentuk gel atau cairan. Produk ini digunakan untuk membersihkan tangan agar bersih dari virus dan bakteri.

Walaupun tidak seefektif air dan sabun, hand sanitizer dapat dimanfaatkan ketika kamu kesulitan menemukan air bersih dan sabun untuk mencuci tangan. Kini hand sanitizer menjadi incaran banyak orang karena cara pakainya yang praktis dan bisa digunakan di mana saja.

Akan tetapi, harga hand sanitizer saat ini sedang meroket akibat tingginya permintaan. Agar lebih berhemat, sebagian orang memilih untuk membuat hand sanitizer sendiri.

Bahkan, dikabarkan ada yang memanfaatkan vodka sebagai pengganti hand sanitizer. Padahal, kandungan alkohol pada minuman tersebut hanya 40%, yang artinya tidak efektif untuk mengusir kuman.

Disini kita bisa melihat bahwa penyebab dari kelangkaan Masker dan hand sanitizer dikarnakan virus Corona (COVID-19) sudah menyebar sangat cepat. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal bahwa penyakit ini merupakan ancaman yang sangat besar bagi dunia.

Jadi, jika kita mempertimbangkan untuk membeli masker sebagai cara pencegahan terhadap Covid-19, kita tidak sendirian. Tapi, penting untuk memahami, apakah kita harus menggunakan masker dalam keseharian?.

Ada baiknya kita bijak saat menggunakan masker. Artinya, jika kita jauh jangkauan penyakit ini (red zone), kita tak perlu menggunakan masker.

Sementara, mereka yang juga tidak harus menggunakan masker, seperti mereka yang bukan seorang pekerja medis, tidak terinfeksi Covid-19, tidak dekat dengan pasien yang terinfeksi, tidak merawat orang yang terinfeksi,tidak di zona wabah, dan tidak menunjukkan gejala, seperti flu.

Seperti saat ini kita bisa melihat bahwa, pemerintah sudah bergerak dengan mengkampanyekan social distancing dan juga work from home. Langkah ini diambil untuk meminimalisir penyebaran virus corona secara cepat, akan tetapi langkah ini juga termasuk meminimalisir penggunaan masker dan hand sanitizer.

Kegiatan bagi-bagi masker dan hand sanitizer sebaiknya tidak dilalukan secara acak karena berpotensi jadi senjata makan tuan dengan menciptakan kerumunan yang mempermudah penularan virus Corona.

Aksi bagi-bagi masker dan hand sanitizer lebih baik dilangsungkan dengan alur distribusi terpimpin. Dengan demikian, alih-alih bersifat sporadis, masker dan hand sanitizer yang dibagikan secara gratis itu dapat menyasar titik-titik rentan penularan Covid-19 yang memang butuh antisipasi lebih sehingga tidak sekadar dimiliki oleh masyarakat umum tanpa pola sistematis menekan laju penularan.

Rekomendasi lain adalah dengan cara penggalangan dana dari influenser dan orang-orang yang mampu secara ekonomi untuk membeli masker dan hand sanitizer.

Untuk masker dan hand sanitizer kita berikan secara khusus kepada yang sangat membutuhkan. Ada beberapa yang berhak mendapatkan masker dan hand sanitizer diantanya: 1. Petugas medis, 2. Petugas dinas (polisi dan militer), 3. Orang-orang yang berisiko (red zone).

Jika keadaan semakin memburuk di karenakan wabah tak terkendali pemerintah dan pihak yang berwajib bisa melakukan lock down.

Mengapa?. Karena dengan opsi ini kita juga meminimalisir penggunaan masker dan hand sanitizer, akan tetapi opsi ini sangat beresiko terhadap ekonomi suaru daerah bahkan suatu negara. Karena pemberhentian dan pembatasan aktivitas jual beli bisa meningkatkan kriminalitas dan juga penjarahan.

Ini tugas polisi dan TNI untuk bergeran mengamankan suatu daerah yang di lock down. Tapi menurut saya pribadi pergerakan petugas kepolisian yaitu dengan menangkap dan mengancam dengan cara memenjarakan para penimbun.

Menjaga perilaku hidup sehat dan bersih, tingkatkan rasa syukur kepada Allah SWT karena sudah di beri kesehatan. Rajin-rajin mencucitangan sesuai standar kesehatan istirahat jika kondisi tidak sehat hindari keramaian jaga jarak 1 meter dari orang sekitar dan memakai masker jika terkena batuk pilek.

Penulis:

Siti Aisyah
(Mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)