Kasus Persetubuhan Anak, Pengacara Praperadilankan Polres dan Kejari Bone

BONEPOS COM, BONE - Tindakan pelaporan korban AY, anak di bawah umur asal Desa Ujung Tanah, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone yang berproses hukum di Polres Bone dan Kejaksaan Negeri Bone mendapat perlawanan dari pihak tersangka SM.

Melalui Kuasa Hukumnya Andi Ilham, kasus tersebut di bawah ke ranah Praperadilan di Pengadilan Negeri Watampone dengan nomor perkara :86/SIK/III/2020.

Kata pengacara muda ini, kasus persetubuhan anak yang dilaporkan kliennya tersangka SM tidak sesuai dengan standar pelayanan hukum.

Pertama, kliennya tidak diperiksa saksi meringankan dan kedua alat bukti seperti pakaian, celana juga tidak ada dan penyidik hanya berdasarkan keterangan korban dan saksinya.

“Ini tidak sesuai dengan SOP. Saya ajukan permohonan pra-peradilan Polres Bone dan Kejaksaan Negeri Bone untuk menguji kebenaran kasus itu,” ujar Andi Ilham S.Hi, kepada Bonepos.com, Senin (23/3/2020).

Menurut Ilham, tindakan Penyelidikan dan/ atau Penyidikan oleh Polres Bone dan Kejaksaan berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/833/XII/2019/SPKT/RES Bone tanggal 23 Desember 2019 adalah cacat yuridis dan tidak sah

Hal itu dikarenakan, pelapor tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) sebagai orang yang cakap bertindak secara hukum.

Sebagaimana dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 angka 1 dan angka 5 dijelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Ditegaskan Ilham, bahwa selain tidak cakapnya anak di bawah umur sebagai pelapor tunggal yang dilindungi oleh Undang-Undang, ditemukan adanya kriminalisasi kliennya tersangka SM dimintai uang tunai Rp30 juta dengan ancaman akan dilapor jika tidak memenuhi permintaannya.

Padahal, korban AY, sudah menikah dengan pria lain sebelumnya.
“Logikanya jika tersangka SM ini dilapor pencabulan anak di bawah umur padahal korban AY sudah menikah sebelumnya. Kalau dikatakan visum ada bukti luka maka siapa yang melakukannya apakah suaminya atau tersangka SM," ujarnya. (ham/ril)