Umat Islam “Dilarang” ke Masjid di Tengah Covid-19, Begini Jawaban Alumni Universitas Al-Azhar Mesir

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Interaktif Ramadan Virtual UMI menghadirkan narasumber dari Jakarta. Namanya, Muhammad Nursamad Kamba, merupakan penulis buku “Kids Zaman Now”, penerbit Mizan, Sabtu (25/4/2020).

Isi buku tersebut awalnya berisi materi mata kuliah pada Fakultas Psikologi dan Tasawuf Universitas Islam Negeri Bandung, namun berdasarkan permintaan sejumlah pihak, buku ini dipublikasikan dan dicetak dengan judul yang lebih umum.

"Isinya terkait ajaran Islam tentang tasawuf modern," ucap Nursamad Kamba yang juga alumni dari Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.

Buku mengajak untuk mengingat kembali asal dan tujuan manusia, mengingatkan kembali hakikat manusia sebagai khalifah, pemegang amanah untuk memakmurkan kehidupan, dan mengingatkan kembali bahwa alam semesta dan manusia diciptakan atas nama cinta, dan sudah seharusnya dikelola dan diarahkan kepada Sang Pemilik dengan cinta pula.

Acara interaktif Ramadan Virtual UMI ini dipandu host M. Ishaq Shamad dan Nurjannah Abna, diikuti sejumlah kalangan, baik dari mahasiswa, dosen, bahkan ada staf ahli DPR R.I dari Jakarta juga ikut acara yang memang sangat menarik tersebut.

Salah seorang peserta, mahasiswi FEB UMI, Risky menanyakan, mengapa umat Islam dilarang ke masjid, sementara masyarakat tidak dilarang ke pasar?

Nursahad Kamba kemudian menjawab, pentingnya memahami agama dengan menggunakan logika.

"Ajaran Islam dipahami bukan syariat saja, tetapi hasil dari ibadah adalah akhlaq. Orang Islam yang salat seharusnya menjadikan Muslim itu tidak egois. Maksudnya, ia egois kalau ia datang beribadah ke masjid atau ia tetap ke pasar, karena ia berpotensi menularkan virus ke orang lain. Karena itu, tinggal di rumah juga ikut membantu orang lain untuk terhindar dari wabah Covid-19," paparnya.

Ditambahkan Nursamad, sebenarnya ibadah di masjid bisa dilakukan, tetapi harus dengan jaminan orang yang datang beribadah di masjid itu, harus terpelihara dari bahaya virus tersebut.

"Jika sudah tahu, bahwa masjid atau pasar bisa menjadi sarana yang efektif penyebaran virus Covid-19 ini, maka sebaiknya tetap di rumah saja," tuturnya.

Nurjannah Abna menyatakan, jika melihat judul buku tersebut, sepertinya membahas masalah anak-anak, tetapi ternyata isinya sangat mendalam tentang Iman, Islam dan Ihsan, apalagi dikaitkan dengan zaman modern saat ini.

"Dimana ipteks sangat mempengaruhi kehidupan umat. Bagaimana menyikapi hal ini?," tanyanya.

Narasumber menjawab, pentingnya Islam dipahami sesuai perkembangan zaman. Ajaran Islam itu harus balance, seimbang antara kebutuhan akal pikiran dan ruhaniah. "Jadikan sarana ipteks untuk bisa lebih dekat dengan Allah SWT," sebut narasumber. (ril)