Kemunculan Kritikus Medsos di Era Informasi Berlebihan

BONEPOS.COM, BONE - Jadi kritikus itu ada manfaatnya. Bisa dapat piala citra pula. Loh kok?

Dahulu ada namanya Festival Film Indonesia. Salah satu jenis penilaiannya adalah lomba kritik film.

Pada jenis lomba ini 'tukang kritik' yang disebut kritikus berbekal kemampuan menulis, wawasan keilmuan, pengalamannya, mengeritik film-film yang dilombakan.

Kritikan terhadap film-film itu bukan tulisan biasa, tapi harus pernah dimuat di media besar nasional. Mohon maaf bukan di media sosial (medsos) ya.

Waktu itu, belum ada medsos sih hihihi.

Kritik terbaik akan diumumkan pada puncak festival selain mendapatkan piala citra, juga uang pembinaan.

Itu dahulu, terbatas orang bisa melakukan kritik selain karena kemampuan menulis yang kurang juga harus punya kompetensi yang mumpuni.

Kritik yang disampaikan tidak sembarang kritik, tapi melalui kajian yang komprehensif dan analisis keilmuan yang didukung pengalaman cukup.

Nah sekarang?

Zaman sudah berubah Bung! Medsos sudah hadir di tengah publik. Ibarat warung serba ada, dengan perangkat Android, semua informasi tersedia.

Siapa saja bisa menjelma jadi kritikus, jadi kyai, jadi ahli, dan bisa meyakinkan pembaca.

Tak ada yg bisa ditutupi lagi. Semua terbuka, terekspos, semua terlihat kasat mata, di depan mata.

Jika berlindung di balik UU ITE dianggap membunuh demokrasi. Membiarkannya, bisa menghabisi kita. Anda pilih yang mana?

Sahabat saya Kaharuddin Andi Tokkong, menulis catatan ringan di akun fb-nya. Mungkin mewakili suasana hati dan pikirannya, atau orang banyak.

Zaman berubah dengan cepat dan kita pun bakal tergilas ketika tak cermat. Inilah yang telah diprediksi oleh Alvin Toffler, seperti dalam karyanya yang berisi prediksi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi di dunia.

Ia memprediksi kemunculan internet dan penurunan keluarga inti. Salah satu karya terbaiknya, Future Shock, pada 1970 berisikan tren ekonomi 1960-an.

***

Dalam era 80-an, dunia kampus khususnya di Makassar terus menggeliat. Aktivis kampus semakin meningkatkan kajian-kajiannya.

Tampak terlihat acara kajian buku yang berbentuk halaqah ataupun yang bentuknya kian besar melibatkan ratusan orang.

Kajian ataupun dialog dan seminar semakin padat terjadwalkan. Buku-buku pun kian laris, karena saat itu belum bisa mengaksesnya lewat internet ataupun lewat handphone.

Tidak heran, buku kian laris saat itu. Utamanya buku kajian tentang keIslaman. Berbagai judul buku bermunculan yang diterbitkan lp3s, mizan, obor dan yang lainnya. Termasuk buku karangan Alvin Toffler, Zuauddin Sardar, Ali Syariati, Nurcholis Madjid, Amien Rais, Djalaluddin Rahmat, Bahtiar Efendi, dan ilmuan lainnya.

Dalam kurun waktu itulah, buku-buku Ziauddin Sardar, Alvin Toffler sering jadi rujukan. Toffler, sang pengarang buku terkenal "Future Shock" ini telah meninggal dunia. Dia mengembuskan napas terakhirnya di rumahnya di Bel Air, Los Angeles, Senin, 28 Juni 2016 lalu itu, telah meninggalkan karya yang sangat bermanfaat.

Tulisan-tulisannya terkenal dengan berisi prediksi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi di dunia. Ia memprediksi kemunculan internet dan penurunan keluarga inti.

"Future Shock" terjual 15 jutaan eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Karyanya yang lain, "The Third Wave" pada 1980, meramalkan penyebaran e-mail, media interaktif, percakapan secara online, dan kemajuan media digital lainnya.

Pada 1980-an, Toffler juga memperkenalkan istilah “informasi berlebihan” yang terjadi pada masa kini. Kebrilianan Toffler mendapat perhatian para pemimpin dunia yang kemudian meminta nasihat kepadanya, seperti pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev, Perdana Menteri Cina Zhao Ziyang, dan guru bisnis Meksiko Carlos Slim.

Salah satu pernyataan Toffler yang terkenal adalah, "Buta huruf pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa belajar (learn), menanggalkan pelajaran sebelumnya (un-learn), dan belajar kembali (re-learn).

***

Di tahun 80-an, Toffler sudah mengingatkan akan adanya "informasi berlebihan". Artinya, informasi akan semakin deras datangnya. Entah informasi itu benar atau salah.

Untuk saat sekarang ini, kita disuguhi berbagai informasi tanpa mengenal waktu. Dari detik ke detik, kita diperhadapkan dengan informasi, berita atau kabar yang beragam.

Kita semakin dimanja untuk mendapatkan informasi dari handphone yang kita genggam setiap saat. Kita disuguhi dengan informasi, berita atau kabar yang aktual, berita yang jelas keabsahannya atau berita yang seolah-olah benar. Padahal sesungguhnya adalah hoaks.

Setiap saat kita membaca pandangan, petuah-petuah dari orang yang kita tidak kenal sama sekali. Kita mendapatkan analisis dan kritikan yang menyalahkan tesis para ahli. Menyalahkan Alim Ulama.

Kita pun mendapat umpatan dari sejumlah orang yang tiba-tiba menjadi seorang kritikus, pengamat dan tokoh pemuda ataupun tokoh masyarakat.

Inilah dunia milenial. Dunia kita pijak saat ini. Dunia yang dikontrol lewat genggaman. Kerja keras, kerja serius dan kerja intelektual seseorang atau kelompok digilas dengan jemari yang lentik.

Untuk itulah, kita sebagai pewaris dunia yang diamanahkan sebagai Rahmatan Lilalamin, rahmat semesta alam, memiliki tugas berat. Tugas kita sebagai khalifah dalam konteks Islam, harus bertanggung jawab menata peradaban ini. Seperti kata Ziauddin Sardar, “masa depan peradaban Islam sangat bergantung kepada cara pandang umat Islam itu sendiri”. Khususnya dalam melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang dikuasai Barat saat ini terkait dengan interpretasi mereka terhadap nilai-nilai ajaran Islam dan sejarah masa lalu umat Islam yang gemilang.

Oleh karena itu, Sardar menekankan bahwa jika umat Islam menginginkan masa depan peradabannya yang cerah, maka yang diperlukan oleh umat Islam saat ini adalah merekonstruksi peradabannya, dengan cara melakukan eksplorasi epistemologi Islam terkait ilmu pengetahuan dan teknologi, dan terus mengembangkannya serta didukung penuh oleh segala unsur masyarakat Islam di seluruh dunia dengan membentuk jaringan-jaringan yang saling bekerja sama. Dapatkah terwujud? Entahlah! (Bahtiar Parenrengi/ril)