Masyarakat Keluhkan Tarif Listrik Naik, Ombudsman : Timbul Kecurigaan

BONEPOS.COM - Platform media sosial tengah ramai dengan keluhan warganet soal kenaikan tarif listrik yang melonjak berlipat ganda yang secara tiba-tiba beberapa waktu terakhir. Kenaikan tarif tersebut dirasakan oleh warga pengguna listrik non-subsidi.

Komisioner Ombudsman Republik Indonesia Laode Ida mengungkapkan hal ini tidak tidak adil.

"Ini dianggap tak wajar, apalagi semula pihak pelanggan berharap akan memperoleh diskon tarif listrik di era krisis akibat Covid-19 ini, malah justru terbalik," kata Ida kepada wartawan, Ahad, 3 Mei 2020.

Keadaan ini menimbulkan beberapa kecurigaan. Pertama, kemungkinan adanya faktor kesengajaan dari PT PLN yang memanfaatkan kesempatan pandemi untuk meraup keuntungan dengan diam-diam memberlakukan subsidi rakyat kepada negara.

Skenario itu diduga dilakukan dengan dua kemungkinan. Yakni inisiatif pimpinan PLN agar memperoleh poin positif dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau bahkan melalui kesepakatan bersama pimpinan PLN dan pemerintah.

Kecurigaan kedua, kata Laode Ida, kenaikan tarif listrik diduga karena tak adanya pengecekan meteran pemakaian oleh petugas PLN ke pelanggan. Namun menurut dia, PLN juga telah mengumumkan agar pelanggan mengecek secara mandiri dan melaporkannya melalui akun Whatsapp ke PLN. "Dengan cara ini ada alasan bagi PT PLN untuk langsung menetapkan harga atau total nilai pemakaian listrik dalam rupiah."

Mengingat penerangan listrik adalah kebutuhan primer masyarakat, kata Ida, sudah seharusnya pimpinan PT PLN menyadari sektor ini harus dilakukan dengan prima. Ia berpendapat wabah Covid-19 tak boleh menjadi alasan untuk meminta para pelanggan melakukan swa-layanan tagihan penggunaan listrik.

"Pimpinan PT PLN (direksi dan komisaris) segera evaluasi tagihan listrik dari para pelanggan di bulan terakhir karena diduga telah lakukan kekeliruan yang rugikan para pelanggan," kata Ida.